Skandal Century Rakyat Dikadali

ImageBegitu mudahnya dana dialirkan kepada para konglomerat di tengah penderitaan rakyat. Dan itu berlangsung berulang-ulang. Ini adalah kesalahan sistem!

MediaUmat- Belum genap 100 hari memerintah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terjegal kasus Bank Century. Tidak main-main, orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas kasus pengucuran dana Rp 6,7 trilyun ini adalah Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dua orang ini adalah orang kepercayaan SBY.

Dengan alasan kondisi krisis global, kedua orang ini membuat kebijakan yang menyelamatkan Bank Century yang sudah bangkrut. Keduanya berkilah, kalau Century tidak diselamatkan akan berdampak sistemik bagi perbankan nasional. Artinya bank-bank lain akan ikut kolaps dengan kolapsnya Century.

Sekilas argumentasi itu benar. Namun pakar-pakar ekonomi merontokkan argumentasi tersebut. Sejak awal Bank Century adalah bank bobrok. Bank ini dibentuk dari tiga bank bangkrut yakni Bank Picco, Bank CIC, dan Bank Danpac. Bahkan didapat informasi, pembentukannya pun tanpa fit and proper test, uji kelayakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. BI dengan mudahnya merestui berdirinya bank tersebut.

Argumentasi kondisi krisis juga sangat janggal. Kalau benar-benar krisis, seharusnya semua perbankan, atau sebagian besar bank, seharusnya mengalami kondisi yang sama dengan Cen-tury. Ini tidak. Yang sekarat hanya Century sendirian. Lainnya normal-normal saja.

Lebih aneh lagi, Bank Indover yang jelas-jelas milik pemerintah dan sebelumnya mengalami gangguan likuiditas bukannya dibantu malah ditutup. Lho, kok Century yang jelas-jelas milik swasta malah dibantu. Continue reading

Advertisements

Sekilas Pandangan: Ilmuwan Muslim klasik dan Ilmu Modern

Sejarah membuktikan bahwa pemikir Muslim merupakan penemu, peletak dasar, dan pengembang dalam berbagai bidang ilmu. Nama-nama pemikir Muslim bertebaran di sana-sini menghiasi arena ilmu-ilmu pengetahuan. Baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social.

Para pemikir Muslim klasik tidak terjebak untuk mengkotak-kotakkan berbagai ilmu tersebut seperti yang dilakukan oleh para pemikir saat ini. mereka melihat ilmu-ilmu tersebut sebagai ‘ayat-ayat’ Alloh yang bertebaran di seluruh alam. Dalam pandangan mereka ilmu-ilmu itu walaupun sepintas terlihat berbeda-beda dan bermacam-macam jenisnya, namun pada hakikatnya berasala dari sumber yang satu yakni Alloh SWT yang Maha Mengetahui seluruh ilmu. Para pemikir Muslim memang melakukan klasifikasi terhadap berbagai macam ilmu, tetapi yang dilakukan oleh mereka adalah pembedaan, bukan pemisahan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila para pemikir klasik Muslim menguasai berbagai macam bidang ilmu. Misalnya Ibnu Sina, Al Ghazali dan Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Sina , sebagai contoh selain terkenal sebagai ahli kedokteran juga adalah ahli filasafat dan psikologi. Salah satu bukunya dalam bidang Kedokteran, Al Qanun fi al Thib, dipelajari selama enam ratus tahun (dari abad 12-18) sebagai pelajaran dasar kedokteran di universitas-universitas tua di Eropa.

Al Ghazali, selain banyak membahas masalah-masalah fiqh (hukum), ilmu kalam (teologi) dan tasawuf, beliau juga banyak membahas masalah filsafat, pendidikan, psikologi, ekonomi dan pemerintahan. Ibn Khaldun, selain banyak membahas masalah sejarah, juga banyak menyinggung masalah-masalah sosiologi, antropologi, budaya, ekonomi, geografi, pemerintahan, pembangunan, peradaban, filsafat, psikologi, epistomologi dan futurologi. Karya-karya Al Ghazali jumlahnya hampir 100 buah dan pengaruhnya tidak hnya pada kalangan islam saja, tetapi juga dipelajari oleh tokoh-tokoh agama Kristen. Salah satu kitabnya yang berjudul Maqashidul-Falasifah yang berisi ringkasan dari bermacam-macam ilmu filsafat, logika, metafisika, dan fisika diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Dominicus Gundisalvus di akhir abad ke-17. Continue reading

TUJUAN EKONOMI ISLAM DAN URGENSINYA

Selain berbeda dengan seluruh sistem buatan manusia yang ada -yaitu lebih dalam dari segi kebebasan individu pemanfaatan sosial -sesungguhnya Islam juga berbeda dengan sistem-sistem itu di dalam ruh dan asasnya, dalam tujuan dan orientasinya dan di dalam kepentingan dan fungsinya.

Sesungguhnya dasar-dasar dari sistem Islam bukanlah buatan manusia, bukan pula ciptaan sekelompok dari manusia, tetapi ia merupakan ketentuan Allah yang Maha Mengetahui, yang menginginkan bagi hamba-Nya kemudahan dan bukan kesulitan.

Sesungguhnya Allah adalah Rabb bagi segala makhluq. Dia-lah yang mengatur segala sesuatu tanpa penyimpangan dan tanpa pemihakan. Dia adalah Rabbnya aghniya’ dan fuqara’, Rabbnya para buruh dan para pemilik profesi, Rabbnya para pemilik dan Rabbnya para penyewa, mereka semua adalah hamba dan keluarga-Nya. Dia mengasihi mereka jauh lebih besar daripada kasih seorang ibu terhadap anaknya. Maka apabila Allah membuat suatu sistem hidup untuk mereka, niscaya tidak ada yang lebih adil, lebih sempurna dan lebih ideal dari rancangan Allah. Berbeda dengan sistem-sistem lainnya, yang semuanya adalah buatan manusia yang penuh dengan kekurangan dan dikuasai oleh hawa nafsu.

Sesungguhnya sistem-sistem itu bersifat materi murni yang menjadikan ekonomi sebagai orientasi hidupnya, menjadikan harta sebagai sesembahannya dan dunia seluruhnya menjadi pusat perhatiannya (tumpuan harapannya). Sesungguhnya kemewahan materi itulah tujuan akhir dan menjadi Firdaus yang diinginkan. Continue reading

Bersegera Melaksanakan Syariah

Oleh: Muhammad al-Khaththath
Publikasi 07/10/2004

hayatulislam.net – Sejarah membuktikan bahwa dengan pemikiran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw masyarakat Arab jahiliyah yang terbelakang dan tak diperhitungkan bisa berubah menjadi umat Islam yang mampu menandingi dan mengalahkan adidaya Persia dan Rumawi. Jika 15 abad lalu beliau Saw berhasil mengubah masyarakat dengan pemikiran Islam, maka hari ini pasti kita bisa melakukannya, bila kita mau. InsyaAllah!

Kenapa kita berani mengatakan demikian? Karena Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Qs. ar-Ra’d [13]: 11).

Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa akan terjadi perubahan dalam masyarakat manakala telah terjadi perubahan dalam diri masyarakat. Persoalannya bagaimana menggerakkan perubahan di dalam masyarakat. Maka dibutuhkan adanya kesadaran pada sejumlah orang yang akan memikul beban tugas sebagai agen perubahan.

Persoalannya bagaimana memunculkan keinginan bergerak dalam diri calon-calon pelaku perubahan dan menggerakkan kemauan dalam diri masyarakat hingga mau mengubah diri mereka dengan Islam?
Continue reading

Karakteristik Pemikiran Islam

Oleh: Muhammad al-Khaththath
Publikasi 12/11/2004

hayatulislam.net – Pemikiran Islam adalah pemikiran yang khas, lain daripada yang lain. Ini wajar, sebab pemikiran Islam berasal dari wahyu atau bersandarkan pada penjelasan wahyu, sedangkan pemikiran-pemikiran yang lain yang berkembang di antara manusia, baik itu berupa agama-agama non samawi, ideologi-ideologi politik dan ekonomi, maupun teori-teori sosial sekedar muncul dari kejeniusan berfikir manusia yang melahirkannya.

Namun perlu disadari, bahwa sekalipun pemikiran Islam berasal dari wahyu yang turun dari langit, pemikiran islam adalah diturunkan ke bumi untuk menjadi petunjuk bagi manusia di bumi. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (Qs. az-Zumar [39]: 41).

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Qs. al-Baqarah [2]: 185).
Continue reading