Cuplikan Novel Baru ( Belum Ada Judul )

Oleh : Irza Setiawan

Sebuah Ujian Allah

Gemuruh hati yang tak tertahankan, begitu menghimpit qalbu ini, rasa sesak di dada, semakin menghantui dari hari ke hari, di balik malam temaram yang semakin gelap, pekikan guntur yang menyayat, desiran angin yang menyesakkan dada, derasnya hujan yang menghimpit, aku terpaku dalam keheningan malam, memikirkan nasib yang semakin malang, dibalik himpitan ekonomi yang mematikan, berpadu dengan sakitnya suasana hati yang dikhianati, dihancurkan bagai tak bersisa, harga diri diinjak-injak bagai tanah becek yang berguduk tak rata.

Malam yang kelam, satu minggu yang lalu, ujian itu datang, sebuah usaha sederhanaku, yang dikumpulkan dari modal hutang kesana kemari, ludes dilalap api dalam sehari, si jago merah itu dengan angkuhnya menertawakan hidupku, senyum kemenangan di balik kobaran tubuhnya yang merah begitu mempercundangi diriku, setelah menghancurkan sisa warisan keluarga, berupa ruko yang sederhana, di lumat habis dengan dasyatnya, sehingga berbentuk puing-puing sisa, berpadu dengan abu yang bebas di tiup angin kemana-mana.

Ternyata masalah belum habis, tepat dimalam itu juga, calon istriku yang selama ini kupercayai, dengan segenap ketulusan hati, dimana rasa cintaku dilabuhkan tak terperi, mengkhianatiku begitu saja, setelah dengan puasnya dia mengeruk dompetku, kubayarkan biaya kuliahnya dengan segenap tenaga, kubiayai hidupnya dengan tetesan keringat yang tak hentinya mengalir, namun begitu jalan rezekiku satu-satunya ludes, dengan wajah masam, dia lempar cinta ini begitu saja, dia khianati ikrar janji yang selama ini kupegang dengan teguh. Continue reading

Advertisements

Berkaca Diri Diserambi Masjid

Wahai Sahabat
Di serambi masjid
Saat rintik hujan menitik
Ayat itu kau bacakan untukku
Dan saat itu kita merasa hati kita menjadi sesak
Air mata membanjir, kepiluan datang mencekam
Saat kembali kau bacakan tiap ayat demi ayat
Kurasa kesadaranku mulai hilang, dan hampir pingsan
Karena ledakkan tangis yang tak tertahankan

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu,
melainkan mendatangi neraka itu.
hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa
dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut.”

Tiada yang tahu bagaimana nasibnya nanti
Ketika melintasi sirath
Jembatan yang lebih tipis dari rambut
Dan lebih tajam dari pedang
Yang panjangnya sekitar tiga ribu atau lima belas ribu tahun perjalanan
Dimana jilatan jahanam menanti di bawahnya
Ada yang melewatinya secepat mata memandang
ada juga yang melewatinya dengan luka lecet karena sayatan
dan di sentuh jilatan neraka yang panas membara
atau terjatuh ke dalam kubangan kengerian luar biasa
hanya amal ibadah yang kan menyelamatkan kita semua
Ya Allah, sungguh dengan anugerahMu Continue reading

Pesona Pandangan

Di lubuk hati terdalam
Benih Cinta mulai berkembang
Diliputi rasa kebahagiaan
Selalu teringat sang pujaan
Namun saat kubaca FirmanNya
Jagalah pandangan demi kemuliaan
Hatiku terbesik rasa keraguan
Ada apa dengan pandangan
Mungkin pesona Yusuf terlalu hebat
Membuat semua pandangan menjadi terpikat
Sehingga cinta Zulaikha tumbuh mengakar kuat
Wahai Cantik
izinkan kami berevolusi diri
bantulah kami dalam menjaga pandangan
tutuplah auratmu demi kemuliaan
jangan biarkan kami terlena karena wewangian tubuhmu
pelihara telinga kami dari kelembutan suaramu
niscaya kamu akan mendapat kemuliaan disisi Allah
di doakan ribuan malaikat
dan dicemburui para bidadari surga

Amuntai, Sabtu 20 Februari 2010, pukul 3.25 siang
HambaNya yang berusaha menepis jerat syaitan
Meski air mata menitik tak tertahankan

Irza Setiawan

Melintasi Sirath

Wahai Sahabat
Di serambi masjid
Saat rintik hujan menitik
Ayat itu kau bacakan untukku
Dan saat itu kita merasa hati kita menjadi sesak
Air mata membanjir, kepiluan datang mencekam
Saat kembali kau bacakan tiap ayat demi ayat
Kurasa kesadaranku mulai hilang, dan hampir pingsan
Karena ledakkan tangis yang tak tertahankan

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu,
melainkan mendatangi neraka itu.
hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa
dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut.”

Tiada yang tahu bagaimana nasibnya nanti
Ketika melintasi sirath
Jembatan yang lebih tipis dari rambut
Dan lebih tajam dari pedang
Yang panjangnya sekitar tiga ribu atau lima belas ribu tahun perjalanan
Dimana jilatan jahanam menanti di bawahnya
Ada yang melewatinya secepat mata memandang
ada juga yang melewatinya dengan luka lecet karena sayatan
dan di sentuh jilatan neraka yang panas membara
atau terjatuh ke dalam kubangan kengerian luar biasa
hanya amal ibadah yang kan menyelamatkan kita semua
Ya Allah, sungguh dengan anugerahMu
Selamatkan kami dari kengerian neraka

Masjid Al Jihad, Sabtu 20 Februari 2010
Kutulis dengan tumpahan air mata
Irza Setiawan

Mekarnya Pesona Bidadari

Oleh : Irza Setiawan

Awan menghitam, sekelam langit malam, petir terus bersahut-sahutan, membuat gaduh suasana bumi, daun-daun berguguran, di terpa angin kencang, sudah dua jam lebih hujan terus mengalir, membasahi bumi, menggenangi setiap lubang di jalan, sehingga mirip danau yang di terpa lautan, di saat sang penguasa sibuk dengan kekayaan, sementara para rakyatnya kelaparan, tidak ingatkah meraka bahwa ada amanah yang terkandung di dalam jabatan,  tidak seperti para khulafur rasyidin, yang siang malam menangisi sebuah jabatan, karena takutnya mengemban amanah, khawatir seekor kijang yang terperosok akibat lubang di jalan, apalagi seorang manusia.

Di serambi masjid, seorang pemuda duduk termenung, menahan suasana dingin, tidak ada yang menemaninya selain para malaikat yang tersenyum manis kepadanya, karena amalnya yang begitu mulia, matanya menatap kedepan, tetapi tatapannya kosong, pikirannya terus melayang, memikirkan dirinya di masa lalu, pemuda itu bernama Hafiz, sosok pemuda yang dikenal tanpa aturan, hidup dalam kemewahan, suka menghambur-hamburkan uang, siang malam dilaluinya dengan selalu berkelahi, sehingga dikenal masyarakat sebagai si tinju besi, mabuk  sempoyongan, teler sampai jatuh kedalam got, judi sampai bangkrut, dan perbuatan nista lainnya, hanya saja dia sekalipun tidak pernah di sentuh wanita, meskipun banyak wanita nakal yang terpesona karena ketampanan wajahnya, tapi Hafiz tahu diri akan kehormatan dirinya. Continue reading

Setetes Cicipan Surga

Gambar artikelSetetes Cicipan Surga

By : Irza Setiawan

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, berkata, “Adalah di Kufah, seorang pemuda tampan, serta sangat rajin beribadah, wajahnya selalu penuh dengan linangan air mata, karena begitu takutnya dengan Allah, dan begitu gembiranya atas segala karunia Allah. Suatu hari, karena ada suatu keperluan, pemuda tersebut berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’, lisannya tidak pernah berhenti dari zikir, selalu mengagungkan nama Allah, derap langkahnya bijaksana, setiap ada orang dia sapa dengan ramah, di saat sedang berjalan, pemuda itu bertemu dengan seorang wanita dengan kecantikan seindah bidadari surga, jilbab yang lebar, wajah yang rupawan, derap langkah yang mempesona, sungguh menjadi pesona tiap pemuda yang merindukan istri yang shalehah, di saat mata mereka saling menatap, ada sebuah gejolak rasa yang aneh melintas di dalam dada, perasaan aneh yang semakin bergelora, semakin lama semakin menyiksa, dan akhirnya berpuncak pada suatu kesadaran kepada keduanya, Astagfirullah, rupanya syaitan sudah mulai menancapkan godaan sesatnya, keduanya menunduk, mengalihkan pandangan demi menjaga kemuliaan. Continue reading

Memetik Ilmu, Menabur Manfaat

indahnya menjemput cinta bidadariMemetik Ilmu, Menabur Manfaat

By : Irza Setiawan

Ya Allah… pinta kami…

Jika dakwah adalah pilihan

Maka biar hati ini memilihnya

Jika dakwah adalah kewajiban

Maka kuatkan kami menjalaninya

Jika dakwah adalah kecintaan

Maka ikhlaskan kami untuk merasakannya

Jika dakwah adalah badai kesulitan

Maka kuatkan kami untuk bisa bertahan

Lega hati ini, di saat program kerja Lembaga Dakwah Kampus selesai, segenap keletihan pikiran, pengorbanan waktu, tetesan keringat, campur aduk menjadi satu dan menghasilkan senyum mengembang di wajah teman-teman seperjuangan, teruslah berjuang, wahai para pemuda, para pemudi, teruslah mengagungkan kebesaran islam, langkahkan kaki kalian untuk dakwah, bekerjalah kalian untuk kemaslahatan umat, untuk keteladanan akhlak, untuk merubah zaman jahiliah menjadi zaman yang terang benderang di bawah naungan islam, percayalah, wahai saudaraku, siapa saja yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya, yakinlah, bahwa Allah tempat berserah diri, Dia adalah pendengar terbaik seluruh keluh kesah masalah hambaNya, apabila semua manusia berkumpul untuk mencelakakanmu, demi Allah, hal itu tidak akan terjadi tanpa seizinNya, memang setiap manusia tidak akan pernah lepas dari masalah, tapi jadikan masalah itu menjadi bekal, menjadi pengalaman untuk selalu memperbaiki diri, jika kamu mendapat masalah, di rudung nestapa, hati teriris, air mata menetes tak tertahankan, bangunlah di sepertiga malam terakhir, mengeluh kesahlah kepada Allah sepuas-puasnya, hingga di saat fajar datang, pagi menjelang, kokok ayam bersahut-sahutan, tiada lagi duka lara selain kebahagiaan yang terungkap, yang menaungi qalbu, menenteramkan jiwa.

Sekarang waktunya, menempel pengumuman, setelah sibuk mendesain pamplet, penuh gambar, warna-warni biar kelihatan menarik, asik merangkai kata, terciptalah sebuah kalimat sederhana ”Hadirilah Pengajian Umum Mingguan hari ini jam segini, tempatnya disini ”.

Di saat hari H, persiapan sudah selesai, meja kursi tertata rapi, sound system tersedia, layar tancap ada, pemateri siap, sampai-sampai kipas angin untuk kesejukan juga disediakan, tetapi sungguh tidak di sangka, pesertanya bisa di hitung dengan jari, wah.. teman-teman sampai berkata, kira-kira apa yang salah ya akhi? Kok pesertanya sedikit begini, yah manusia hanya bisa merencanakan, Allah jua yang menentukan, tapi yakinlah, insya Allah setiap niat kita sudah di catat Allah, amin.

Lain halnya jika ada pamplet, selebaran, dengan kata-kata yang juga sangat sederhana ” Hadirilah acara dangdutan, dengan dimeriahkan oleh artis ibu kota, biaya masuk hanya Rp … ”

Maka seketika itu pula, tempatnya membludak, pengunjungnya berdatangan dari berbagai pelosok, tua, muda, pria, wanita hadir, sambil berjingkrak-jingkrak di depan panggung, meskipun terik membakar kulit, walaupun air hujan mengguyur, berdesak-desakan, sampai-sampai mengeluarkan ongkos biaya masuk, tetapi tetap saja banyak pengunjungnya, sungguh ini bukan berarti saya melarang hiburan, dan sesungguhnya hiburan sangat penting bagi kita semua, hati yang hampa, jiwa yang letih, wajah yang lusuh, sungguh sangat memerlukan hiburan, tapi dilihat dulu hiburan jenis apa, tentunya hiburan yang sesuai dengan kaidah syar’i, tidak adanya ikhtilat atau pencampuran cowok dan cewek, tidak adanya khalwat, dan tanpa syahwat yang melenakan, entah itu menonton televisi dengan film-film yang membangun jiwa, mendengar nasyid penentram qalbu, dan sebagainya. Continue reading