Di Balik Kerudung Cinta (Bagian 8)

Oleh : Irza Setiawan

Bumi Seakan Hancur

Bayangan putih mengitari pandanganku, badanku terasa ringan, aku seakan melayang-layang diantara sinaran cahaya-cahaya yang mengitari tubuhku, aku berada dimana, kupandangi sekelilingku, tidak ada orang, hanya aku sendirian disini.

“ Andre…”

Aku mendengar suara lembut seorang perempuan memanggil namaku, tapi siapa, darimana asal suara itu.

“ Andre…, sadarlah aku mohon, sadarlah Dre… “

Suaranya mengiris hati, siapa yang memanggilku, perlahan-lahan cahaya terang mengitari pandanganku, dengan sekuat tenaga, kubuka mataku.

“ Andre, sadarlah… “

Continue reading

Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 7 )

Oleh : Irza Setiawan

Jawaban Anisa

Pagi ini, aku berencana pergi menemui Anisa di kampusnya, biasanya di kampusnya diadakan pengajian, setelah shalat dhuha, aku pergi dengan motorku, menyusuri jalan-jalan, untuk mengetahui, bagaimana jawaban Anisa atas pinanganku kemarin.

Sudah lama aku tidak mengitari kota Amuntai, aku sempat melewati Sekolah Menengah Atasku dulu, begitu juga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertamaku di kota ini, Kebetulan kedua sekolahku itu bersebelahan, hanya saja Sekolah Dasarku terletak di kampung halamanku, desa Tangga Ulin.

Kuamati sekolahku dulu, sudah banyak renovasi dan perbaikan dimana-mana, beda sekali dengan jaman dulu, di Sekolah Menengah Atasku, terlihat ada sebuah mushala baru, sedangkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dulunya hanya ada satu lantai, sekarang sudah menjadi bangunan bertingkat dua.

Setengah jam kemudian, aku sampai di tempat tujuan, kebetulan kampus Anisa sudah jam pulang, dengan sabar aku menantinya, banyak orang-orang hilir mudik di depanku, tapi Anisa belum kelihatan juga, seorang gadis berjilbab biru melintas di depanku, dengan segera aku mendekatinya

“  Maaf Dik, kenal tidak sama Anisa? “

“ Anisa, kenal kok, memangnya kenapa kak? “

“ Adik tahu sekarang dia ada dimana? “

“ Tadi aku lihat dia sedang membaca buku di perpustakaan, kalau kakak ingin menemuinya, kakak lurus saja ke dalam, terus belok kanan, nah ruang perpustakaan berada di ruang nomor dua. “

“ Oh, makasih banyak ya dik. “

“ Sama-sama kak. “

Informasi dari gadis tadi benar-benar sangat membantu, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kampus, jantungku berdegup kencang, di sebelah kanan, ruangan kedua, kubaca tulisan ‘Ruang Perpustakaan’ kuintip dari pintu depan, terlihat seorang gadis berkerudung putih bersih sedang konsentrasi membaca buku, hanya Anisa yang berada di ruang perpustakaan sampai sekarang, lalu aku menemuinya.

Assalamualaikum.

Waalaikum salam, oh kak Andre, silakan duduk kak. “

“ Lagi baca buku apa? “

“ Gak papa, Cuma mengulang pelajaran di kelas tadi saja. “

“ De Nisa, kakak menemuimu untuk mengetahui bagaimana jawabanmu atas pinangan kakak kemarin. “

Anisa diam sejenak, akupun diam.

“ Apakah kakak benar-benar serius dengan perkataan kakak? “

“ Kakak serius Nis, kakak benar-benar serius ingin menikahimu. “

“ Kak Andre, maafkan aku, aku takut aku tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu. “

Aku kaget dengan perkataan Anisa, tapi segera kukuasai diriku.

“ Kenapa kamu berkata seperti itu? “

“ Kak Andre, maafkan aku, hatiku sudah diisi oleh laki-laki lain, aku harap kak Andre bisa memakluminya. “

Hatiku bergemuruh, seakan hancur berkeping-keping, tubuhku bergetar.

“ Anisa… “

Hanya namanya yang kusebut.

“ Kak maafkan aku, sudah terlalu siang, aku mau pulang dulu. “

Anisa berdiri, bergegas meninggalkanku, dia meninggalkanku begitu saja, kupandangi dirinya saat meninggalkanku, hatiku perih tiada tara, dadaku terasa sesak, ada laki-laki lain di hati Anisa, dan laki-laki itu bukan diriku.

Anisa, kenapa kamu tidak mau mengerti, kenapa kamu tidak mau tahu dengan ketulusan cintaku, aku pulang hanya untukmu Anisa, air mataku mulai menetes, perasaanku hancur tak karuan, segera kutinggalkan ruangan itu, kunaiki motorku, pandanganku seakan tertutup, kularikan motorku dengan sekencang-kencangnya, aku seakan tidak peduli lagi dengan diriku, tiba-tiba ada mobil melintas di depanku.

Brrruuuakkkkkkkkk!!!!!!

Motorku hancur berkeping-keping, aliran darah membanjiri tubuhku, dunia menjadi gelap.

( Bersambung )

Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 6 )

Oleh : Irza Setiawan

Luapan Kerinduan

Matahari mulai menyinari bumi, cuaca yang tadinya hujan berubah menjadi panas, waktu berangkat kuliah, aku menggigil kedinginan, sekarang begitu pulang kuliah, aku malah kepanasan, Allah memang mempunyai bermacam-macam rencana.

Aku terus melangkah pulang, tiba-tiba saja Adzan Zuhur mulai terdengar, kupercepat langkahku menuju masjid, sesampainya di masjid, aku langsung mengambil air wudhu, begitu air wudhu mengaliri tubuhku, rasanya segar sekali, rasanya aku menemukan semangat baru.

Continue reading

Di Balik Keudung Cinta ( Bagian 5 )

Cobaan Cinta

Oleh : Irza Setiawan

Cahaya bulan menerangi malam, suara angin berderu-deru di luar sana, sedikit demi sedikit, air hujan mulai membasahi bumi, aku gelisah di dalam kamar, aku benar-benar ditimpa kebingungan yang luar biasa, apa yang sebenarnya menimpa diriku, sudah dua hari yang lalu, Anisa kembali pulang ke Kalimantan, namun, sejak pertemuan dengannya waktu itu, aku selalu memikirkannya, wajahnya yang putih bercahaya selalu menghiasi pandanganku, tatap matanya yang indah semakin membuat hatiku terpesona, beginikah rasanya siksaan cinta.

Continue reading

Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 4 )

Oleh : Irza Setiawan

Kehadiran Anisa

Jam Bekerku berbunyi, sudah jam setengah empat, meskipun hanya terlelap satu jam setengah, itu sudah cukup untuk meremajakan seluruh syaraf tubuhku, karena anggota tubuh juga mepunyai hak untuk beristirahat, setelah shalat tahajud, aku dan teman-temanku membaca Al-Quran bersama, sambil menanti azan subuh berkumandang, teman-teman sangat melestarikan kegiatan rutin pagi seperti ini, mekipun aku melihat mata Ujang terpejam-pejam menahan kantuk.

Continue reading

Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 3 )

Oleh : Irza Setiawan

Restoran Mewah

“ Andre, bangun Dre! Ada orang mencarimu. “

Suara Nai yang membangunkanku dari bibit-bibit mimpi yang indah segera menyadarkanku, cuma satu jam aku tidur, meregangkan otot-otot syaraf setelah kuliah, dan lembur mengerjakan makalah.

“ Siapa sih? “ Tanyaku sambil mengeliat sambil mengucek-ngucek mata.

Gak tau? Katanya ada perlu sama kamu, penting banget.”

Dengan mengusir rasa malas, aku segera melangkah ke ruang tamu, di sana kulihat seorang bapak berjaket biru sedang duduk sambil menikmati teh hangat buatan Nai, setelah kuamati, ternyata pak Mahmud, beliau tersenyum kepadaku.

“ Eh pak Mahmud, tumben datang kesini, apa kabar? “ Kataku sambil menjabat tangan beliau.

Alhamdulillah, kabar bapak baik-baik saja, maaf Dre, bapak mengganggu tidurmu. “

“ Ah…, gak papa kok, malah saya senang bapak sudi berkunjung ke tempat kami yang sangat sederhana ini. “

Continue reading

Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 2 )

Oleh : Irza Setiawan

Akhwat Bercadar Putih

Matahari mulai menggerogoti kulitku, keringat demi keringat berceceran jatuh ke bumi, rasanya topi yang bertengger di kepalaku tidak cukup untuk menahan ganasnya sinar matahari, udara hawa panas membuat tubuhku semakin gerah, kuusap wajahku dengan sapu tangan, hitam, penuh dengan debu, padatnya asap kendaraan semakin memperkeruh suasana, seandainya aku tidak ingat dengan tanggung jawabku sebagai seorang mahasiswa yang mencari ilmu, seandainya tidak ingat bahwa diriku dilepas orang tua dengan linangan air mata, tentu lebih enak berada di rumah, merebahkan diri di kasur yang empuk sambil menyalakan kipas angin yang sejuk, lalu terbuai dengan belaian lembut mimpi-mimpi yang indah, oh…alangkah indahnya.

Warung kecil di pinggir jalan mempengaruhi pikiranku untuk singgah, kulihat arlojiku, masih banyak waktu, tidak ada salahnya jika aku singgah sebentar untuk menghilangkan keletihan, rasanya segelas air sudah cukup untuk mengobati rasa lelahku, lalu kuteguk kesegaran es teh yang mengaliri kerongkonganku yang kering, terasa sekali kesejukan menggetarkan seluruh syaraf-syaraf di tubuhku, semangatku rasanya mulai kembali, setelah membayar es teh tersebut, aku melanjutkan perjalanan.

Tak terasa akhirnya aku sampai juga di kampus, sebelum masuk kampus, aku mampir dulu sebentar di toko ponsel Caim yang terletak tidak jauh dari kampusku, kurang lebih hanya berjarak sekitar 100 meter, setelah sampai di toko ponsel, kulihat Caim sedang asik mendengarkan lagu lewat  I-Pod nya sambil membaca majalah, lalu aku mengucapkan salam.

Assalamualaikum “.

Tidak ada jawaban, Caim masih larut dalam alunan lagu, kedua telinganya tertutup headphone, matanya terus saja membaca majalah, malah sesekali dia bernyanyi karena larut dalam alunan lagu, aku bingung harus bagaimana, lalu perlahan-lahan kuhampiri dia, dan kutepuk pundaknya.

Continue reading