Kajian Al Fatihah ayat 1 dan 2

Surat Al Fatihah

Oleh : Irza Setiawan

“Perhatian : Penulis bukanlah ahli agama, tapi hanya orang awam yang berusaha menuntut ilmu agama, penulis belum hafal Al Quran 30 Juz, tapi masih berusaha menghafal Al Quran, penulis belumlah menjadi hamba Allah yang sempurna, tapi berusaha memperbaiki diri untuk terus bertakwa kepadaNya, karena itu jikalau di dalam penulisan ini terdapat kekeliruan, mohon masukan untuk perbaikan”

            Surat Al Fatihah adalah surat pembuka dalam Al Quran yang terdiri dari 7 ayat, surat ini adalah surat yang pertama diturunkan secara lengkap di antara surat-surat yang lain di dalam Al Quran, di sebut juga “Ummul Qur’an” (induk Al Qur’an) atau “Ummul Kitab” (Induk Al Kitaab) karena surat ini merupakan induk dari semua ayat Al Qur’an serta menjadi intisari dari kandungan Al Qur’an, karena itu di wajibkan membacanya pada tiap rakaat shalat. Surat Al Fatihah dinamakan juga “As Sab’ul matsaany” (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya ada tujuh dan di baca berulang-ulang pada setiap rakaat shalat.

Surat ini di turunkan di Mekkah dan termasuk dalam golongan Surat Makkiyah, surat Makkiyah umumnya berisi ayat-ayat yang pendek, jumlah ayat surat makkiyah seluruhnya berjumlah 4.780 ayat, di dalam surat makkiyah selalu berbunyi “Yaa ayyuhannaas” ini berbeda dengan Surat Madaniyah yang selalu berbunyi “Ya Ayyuhalladzina aamanu”  dan ayat-ayat makkiyah umumnya selalu berbicara tentang keimanan, ancaman dan pahala, serta kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti.

Surat Al Fatihah mengandung berbagai macam unsur pokok yaitu :

  1. Keimanan

Di awal-awal surat Al Fatihah sudah sangat jelas mengandung unsur keimanan, yaitu segala puji bagi Allah, dan disini ada unsur kepercayaan bahwa Allah lah yang selalu memberi nikmat dan sumber segala nikmat dalam alam ini.

  1. Hukum-hukum

Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan kebahagiaan itu, jalan itu si sebut sebagai “hidayah” yang datang dari Allah

  1. Kisah-kisah

Tunjukkilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,

sebagian besar dari ayat-ayat Al Quran memuat kisah-kisah para nabi dan kisah-kisah orang dahulu yang menentang Allah.

 

Membaca Surat Al Fatihah Dalam Shalat

Para Imam mazhab sepakat bahwa membaca surah Al Fatihah baik bagi imam maupun shalat sendirian hukumnya wajib pada dua rakaat shalat shubuh dan 2 rakaat shalat lain. Sedang pada rakaat lain, para imam mazhab berbeda pendapat tentang bacaan surat Al Fatihah.

            Imam Syafi’I dan Imam Hambali mewajibkan membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat shalat fardu. Sedang Imam Hanafi  membaca surat Al Fatihah tidak wajib, kecuali pada dua rakaat pertama di setiap shalat fardu, dan Imam Maliki terdapat dua pendapat, yang pertama sama dengan pendapat Imam Syafi’I dan Imam Hambali, dan yang kedua jika tertinggal membaca surat Al Fatihah pada salah satu rakaat selain shalat shubuh hendaklah sujud sahwi. Sedangkan jika pada shalat shubuh maka shalatnya harus di ulang kembali.

            Sedang membaca surat Al Fatihah bagi makmum, para imam mazhab berbeda pendapat, Imam Hanafi berpendapat tidak wajib membaca surat Al Fatihah, baik bacaan imam shalat itu di keraskan (jahar) maupun tidak di keraskan (sirr). Bahkan, tidak disunnahkan membacanya di belakang imam secara mutlak. Imam Maliki dan Imam Hambali tidak wajib membaca surat Al Fatihah di belakang imam secara mutlak, dan Imam Maliki makmum makruh membacanya apabila imam apabila imam membacanya dengan keras, baik ia mendengar bacaan imam itu maupun tidak mendengarnya.

Kalau imam shalat membaca surat Al Fatihah secara perlahan, maka pendapat para imam mazhab diantaranya, Imam Syafi’I berpendapat bahwa makmum wajib membaca surat Al Fatihah apabila imam shalat membacanya secara perlahan, Imam Hambali di sunnahkan makmum membaca surat Al Fatihah di belakang imam, bahkan pendapat yang paling kuat dari Imam Syafi’I makmum wajib membaca surat Al Fatihah dalam shalat jahar.

Perbedaan pendapat para imam mazhab ini bukan untuk menyempitkan di dalam agama, namun merupakan rahmat bagi umat, dari semua bidang ilmu yang dikaji dalam islam, Ilmu Fiqihlah yang paling banyak diperhatikan dan juga melahirkan perbedaan pendapat, karena masing-masing mazhab mempunyai dalil dan argumentasi sendiri, maka sikap terbaik yang diambil adalah menerima perbedaan pendapat ini, sesuai dengan sabda Rasulullah saw “Perbedaan pendapat dikalangan umatku adalah rahmat”.

Fiqih bagaikan lautan tak bertepi, sebab satu masalah dalam fiqih berkembang dan bercabang menjadi banyak, sudah umum diketahui bahwa berbagai mazhab Fiqih mempunyai pandangan yang berbeda dan beragam tentang satu masalah yang sama, bahkan boleh jadi perbedaan itu muncul di kalangan ulama yang semazhab, tugas kita adalah terus menuntut ilmu sesuai dengan petunjuk Al Quran dan Assunnah dengan membandingkan berbagai perbedaan pendapat tersebut dan mengambil apa yang paling kita yakini.

 

  1. 1.      BISMILLAHIRAHMANIRAHIM

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

 

Setiap melakukan sesuatu yang bernilai positif kita di anjurkan mengucapkan bismillahirahmanirrahim, disini akan kita sadari bahwa tiada daya upaya yang dapat kita lakukan selain dengan pertolongan Allah, jangankan untuk melakukan aktifitas fisik, denyut jantung kita, nafas kita, fisik kita, kondisi badan kita, semuanya ada di dalam genggaman Allah subhanahuwataala. Karena itu kita harus melibatkan Allah dalam setiap aktifitas kehidupan kita.

Kita dianjurkan membaca Bismillahirrahmanirrahim pada setiap perkataan dan perbuatan. karena sabda Nabi saw. yang berbunyi:
“Tiap urusan (perbuatan) yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim maka terputus berkatnya.”

Juga sunat membaca Basmalah ketika wudu, karena sabda Nabi saw.:
“Tiada sempurna wudu orang yang tidak membaca Bismillah”

Dan sunat juga dibaca ketika menyembelih (membantai) binatang, juga sunat ketika makan, karena sabda Nabi saw. kepada Umar bin Abi Salamah yang berbunyi, “Bacalah Bismillah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat-dekat kepadamu”. (HR. Muslim). Juga membaca Basmalah ketika akan jima’ (bersetubuh) sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a. Rasullah saw. bersabda: Andaikan salah satu kamu jika akan bersetubuh (jima’) dengan istrinya membaca, “dengan nama Allah, ya Allah jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan dari rezeki yang Tuhan berikan kepada kami. Maka jika ditakdirkan mendapat anak dari jima’ tidak mudah diganggu oleh setan untuk selamanya”. (HR. Bukhari, Muslim).

Pelafalan Bismillahirrahmanirrahim dalam shalat

Ada kalanya kita mendapatkan perbedaan pada jamaah shalat di berbagai masjid, ada imam yang surat Al Fatihahnya membaca Bismillahirrahmanirrahim dengan keras, ada juga imam shalat yang membaca Bismillahirrahmanirrahim dengan perlahan, hal ini terjadi karena perbedaan pendapat dari ulama apakah Bismillahirrahmanirrahim ini termasuk dalam ayat dari surat Al Fatihah, atau berdiri sendiri.

Ummu Salamah r.a. berkata, “Rasulullah saw. telah membaca Bismillahirrahmanirrahim ketika membaca Fatihah dalam salat. (Hadis da’if Riwayat Ibnu Khuzaimah).

Abu Hurairah r.a. ketika memberi contoh salat Nabi saw. membaca keras-keras Bismillahirrahmanirrahim. (HR. an-Nasa’i, Ibn Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Imam Syafi’I dan Imam Hambali berpendapat bahwa basmallah termasuk dalam bagian surat Al Fatihah karena itu wajib dibaca bersama surat Al Fatihah, menurut Imam Syafi’I bismillahirrahmanirrahim dibaca dengan keras sedang Imam Hanafi dan Imam Hambali membaca bismillahirrahmanirrahim dengan perlahan sedang Imam Maliki berpendapat bahwa hal yang disukai adalah tidak dibaca, melainkan langsung membaca Alhamdulillah hirabbil alamiin.

Imam Syafii dan al-Hakim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Muawiyah ketika sembahyang di Madinah sebagai imam, tidak membaca Bismillahirrahmanirrahim, maka ditegur oleh sahabat Muhajirin yang hadir, kemudian ketika sembahyang lagi ia membaca Bismillahirrahmanirrahim.

Adapun dalam mazhab Imam Malik tidak membaca Basmalah berdasarkan hadis Aisyah r.a. yang berkata, “Biasa Rasulullah saw. memulai salat dengan takbir dan bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin. (HR. Muslim).

Anas r.a. berkata, “Saya sembahyang di belakang Nabi saw., Abu Bakar, Umar, Utsman dan mereka semuanya memulai bacaannya dengan Alhamdu lillahi rabbil alamin”. (Bukhari, Muslim).

Ibn Abi Laila berpendapat : boleh memilih, dibaca secara jahar atau sir

Karena itu dalam menyikapi perbedaan pendapat disini, kita harus memilihnya sesuai dengan keyakinan kita.

  1. 2.      Alhamdu lillaahi rabbi al’aalamiin

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Hamdan maksudnya adalah pujian atau sanjungan, dan di depan di tambah Al atau Alif-Lam, sehingga menjadi Al-hamdu. Al mencakup segala jenis, sehingga bacaan Alhamdu merupakan segala jenis pujian atau sanjungan baik besar maupun kecil, namun pada hakikatnya tidak adapun yang berhak mendapatkan pujian itu selain Allah.

Cinta Allah kepada hambaNya bagai lautan tak bertepi, bagi tulisan tak berujung, dalam setiap nafas kita ada kasih sayang Allah hanya saja kita jarang bersyukur di setiap hembusan nafas kita, di setiap denyut jantung kita selalu ada karunia Allah, Cuma kita terkadang melakukan dosa saat jantung kita berdenyut, mata yang melihat, telinga yang mendengar, bibir yang berbicara, hidung yang mencium, semuanya adalah karunia Allah, tapi mungkin kita lebih sering menggunakan mata ini untuk melihat hal-hal maksiat, mungkin kita malah menggunakan bibir ini untuk menggunjing orang, bukannya membaca Al Qur’an, dan sebagainya, tapi inilah cinta Allah, selama nyawa masih ada,selama nafas masih berhembus, selama jantung masih berdetak, pintu maaf, jalan tobat selalu terbuka kepada kita meski kita punya lautan dosa.

Pada kahikatnya pujian hanya untuk Allah, tidak ada yang berhak mendapat pujian selain Allah, meskipun misal ada orang yang berjasa baik kepada kita, namun tentunya dia akan bisa berbuat apa-apa kalau tidak karena Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, para arsitek tidak akan mendapat ilham membuat bangunan jika tanpa perantara Allah, para penulis tidak akan bisa menghasilkan karya tanpa perantara dari Allah, para guru dan dosen tidak akan punya ilmu mengajar dan mendidik tanpa perantara dari Allah, karena itu kalau kita dipuji-puji orang, janganlah lupa bahwa pemilik segala puji itu adalah Allah, bukan kita, jikalau kita dipuji segeralah ingat aib untuk menghindari kesombongan, sikap angkuh, dan sikap negatif lainnya.

Hakikat syukur kepada Allah bukan hanya diucapkan dengan kata-kata, tetapi juga dengan menambah amal ibadah kita, karena semakin kita bersyukur kepada Allah, nikmat Allah semakin mengalir kepada kita

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat Ibrahim ayat 7)

Pemelihara alam semesta, pada dasarnya alam adalah seluruh yang ada di alam semesta selain Allah, setelah dia menjadi jama’ ini sehingga menjadi kalimat ‘alamin, maka bermacam-macamlah di tafsirkan orang, setengah penafsir mengatakan bahwa alamin adalah makhluk insani, di tambah dengan malaikat, jin dan syaitan. Namun di Al Quran sendiri pernah bertemu kata alamin yang dikhususkan untuk manusia

 

 Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia   (Al-Hijr ayat 70)

Setelah dikenalkan kepada Allah Yang Tunggal, sekarang kita dikenalkan kepada Rabbun. Kata Rabbun meliputi segala penjagaan, pemeliharaan, penjagaan, pendidikan dan juga pengasuhan. Allah bukan hanya sebagai Pencipta, tapi Allah juga sebagai pemelihara, bukan saja menjadikan, tetapi juga sebagai pengatur, betapapun bergantinya siang dan malam, bulan yang berganti dengan matahari, perputaran waktu, dan sebagainya semuanya dalam genggaman Allah, bahkan bukan hanya alam semesta, manusia juga yang berasal dari nuthfah (setitik air kecil) kemudian menjadi alaqah dan mudhqhah, sampai muncul ke dunia, menjadi makhluk berakal, dan meninggal kelak tidak lepas dari pengawasan Allah sebagai pencipta dan pemelihara.

Untuk semua pemeliharaan, penjagaan, pendidikan dan perlindungan itulah kita mengucapkan puji kepadaNya : “Rabbul ‘Alamin”. Tuhan seru sekalian alam, kalau kita hubungkan dengan alamin adalah manusia, maka betapa tingginya kedudukan insan sebagai khalifah Allah di alam yang luas ini.

Maka di ayat pembuka ini, kita langsung bertemu makna tauhid, yang punya dua paham Ulihiyah pada ucapan Alhamdu Lillahi. Dan tauhid Rububiyah pada ucapan Rabbil’ Alamin.

 

Amuntai, 28 Ramadhan 1432 H, 28 Agustus 2011

Pukul 13.10 Wita

Irza Setiawan

 

(Insya Allah bersambung untuk ayat-ayat selanjutnya)

One Response

  1. Terima kasih

    WASALAMULAIKUM WR.WB.

    Suherman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: