Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 7 )

Oleh : Irza Setiawan

Jawaban Anisa

Pagi ini, aku berencana pergi menemui Anisa di kampusnya, biasanya di kampusnya diadakan pengajian, setelah shalat dhuha, aku pergi dengan motorku, menyusuri jalan-jalan, untuk mengetahui, bagaimana jawaban Anisa atas pinanganku kemarin.

Sudah lama aku tidak mengitari kota Amuntai, aku sempat melewati Sekolah Menengah Atasku dulu, begitu juga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertamaku di kota ini, Kebetulan kedua sekolahku itu bersebelahan, hanya saja Sekolah Dasarku terletak di kampung halamanku, desa Tangga Ulin.

Kuamati sekolahku dulu, sudah banyak renovasi dan perbaikan dimana-mana, beda sekali dengan jaman dulu, di Sekolah Menengah Atasku, terlihat ada sebuah mushala baru, sedangkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dulunya hanya ada satu lantai, sekarang sudah menjadi bangunan bertingkat dua.

Setengah jam kemudian, aku sampai di tempat tujuan, kebetulan kampus Anisa sudah jam pulang, dengan sabar aku menantinya, banyak orang-orang hilir mudik di depanku, tapi Anisa belum kelihatan juga, seorang gadis berjilbab biru melintas di depanku, dengan segera aku mendekatinya

“  Maaf Dik, kenal tidak sama Anisa? “

“ Anisa, kenal kok, memangnya kenapa kak? “

“ Adik tahu sekarang dia ada dimana? “

“ Tadi aku lihat dia sedang membaca buku di perpustakaan, kalau kakak ingin menemuinya, kakak lurus saja ke dalam, terus belok kanan, nah ruang perpustakaan berada di ruang nomor dua. “

“ Oh, makasih banyak ya dik. “

“ Sama-sama kak. “

Informasi dari gadis tadi benar-benar sangat membantu, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kampus, jantungku berdegup kencang, di sebelah kanan, ruangan kedua, kubaca tulisan ‘Ruang Perpustakaan’ kuintip dari pintu depan, terlihat seorang gadis berkerudung putih bersih sedang konsentrasi membaca buku, hanya Anisa yang berada di ruang perpustakaan sampai sekarang, lalu aku menemuinya.

Assalamualaikum.

Waalaikum salam, oh kak Andre, silakan duduk kak. “

“ Lagi baca buku apa? “

“ Gak papa, Cuma mengulang pelajaran di kelas tadi saja. “

“ De Nisa, kakak menemuimu untuk mengetahui bagaimana jawabanmu atas pinangan kakak kemarin. “

Anisa diam sejenak, akupun diam.

“ Apakah kakak benar-benar serius dengan perkataan kakak? “

“ Kakak serius Nis, kakak benar-benar serius ingin menikahimu. “

“ Kak Andre, maafkan aku, aku takut aku tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu. “

Aku kaget dengan perkataan Anisa, tapi segera kukuasai diriku.

“ Kenapa kamu berkata seperti itu? “

“ Kak Andre, maafkan aku, hatiku sudah diisi oleh laki-laki lain, aku harap kak Andre bisa memakluminya. “

Hatiku bergemuruh, seakan hancur berkeping-keping, tubuhku bergetar.

“ Anisa… “

Hanya namanya yang kusebut.

“ Kak maafkan aku, sudah terlalu siang, aku mau pulang dulu. “

Anisa berdiri, bergegas meninggalkanku, dia meninggalkanku begitu saja, kupandangi dirinya saat meninggalkanku, hatiku perih tiada tara, dadaku terasa sesak, ada laki-laki lain di hati Anisa, dan laki-laki itu bukan diriku.

Anisa, kenapa kamu tidak mau mengerti, kenapa kamu tidak mau tahu dengan ketulusan cintaku, aku pulang hanya untukmu Anisa, air mataku mulai menetes, perasaanku hancur tak karuan, segera kutinggalkan ruangan itu, kunaiki motorku, pandanganku seakan tertutup, kularikan motorku dengan sekencang-kencangnya, aku seakan tidak peduli lagi dengan diriku, tiba-tiba ada mobil melintas di depanku.

Brrruuuakkkkkkkkk!!!!!!

Motorku hancur berkeping-keping, aliran darah membanjiri tubuhku, dunia menjadi gelap.

( Bersambung )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: