Cuplikan Novel Baru ( Belum Ada Judul )

Oleh : Irza Setiawan

Sebuah Ujian Allah

Gemuruh hati yang tak tertahankan, begitu menghimpit qalbu ini, rasa sesak di dada, semakin menghantui dari hari ke hari, di balik malam temaram yang semakin gelap, pekikan guntur yang menyayat, desiran angin yang menyesakkan dada, derasnya hujan yang menghimpit, aku terpaku dalam keheningan malam, memikirkan nasib yang semakin malang, dibalik himpitan ekonomi yang mematikan, berpadu dengan sakitnya suasana hati yang dikhianati, dihancurkan bagai tak bersisa, harga diri diinjak-injak bagai tanah becek yang berguduk tak rata.

Malam yang kelam, satu minggu yang lalu, ujian itu datang, sebuah usaha sederhanaku, yang dikumpulkan dari modal hutang kesana kemari, ludes dilalap api dalam sehari, si jago merah itu dengan angkuhnya menertawakan hidupku, senyum kemenangan di balik kobaran tubuhnya yang merah begitu mempercundangi diriku, setelah menghancurkan sisa warisan keluarga, berupa ruko yang sederhana, di lumat habis dengan dasyatnya, sehingga berbentuk puing-puing sisa, berpadu dengan abu yang bebas di tiup angin kemana-mana.

Ternyata masalah belum habis, tepat dimalam itu juga, calon istriku yang selama ini kupercayai, dengan segenap ketulusan hati, dimana rasa cintaku dilabuhkan tak terperi, mengkhianatiku begitu saja, setelah dengan puasnya dia mengeruk dompetku, kubayarkan biaya kuliahnya dengan segenap tenaga, kubiayai hidupnya dengan tetesan keringat yang tak hentinya mengalir, namun begitu jalan rezekiku satu-satunya ludes, dengan wajah masam, dia lempar cinta ini begitu saja, dia khianati ikrar janji yang selama ini kupegang dengan teguh.

Aku semakin muak dengan dunia, selalu saja ada cobaannya, tidak ada rasa kesenangan yang membuatku bangga, tidak ada penyejuk jiwa dikala duka, aku bagai mayat yang berjalan di atas dunia, siang malam selalu meneguk minuman haram untuk memuaskan jiwa, menghilangkan setiap masalah yang menghantui pikiran, saat kepalaku pusing tak menahan, kuhisap obat penenang, yang bisa membuatku melayang, sehingga setiap masalah terlupakan untuk sementara waktu.

Ucapan dari seorang preman bayaran, yang minta aku untuk melunasi hutang, sebesar tiga puluh juta itu terus menghantui pikiran, setiap barang yang kuambil untuk diperdagangkan, telah melebur karena kobaran api itu, modal usaha ludes tak bersisa, hanya menyisakan utang yang semakin memperkeruh suasana.

Dua hari lagi, jatuh tempo pembayaran akan tiba, darimana aku dapat uang sebanyak itu, aku semakin menggaruk kepalaku yang tidak gatal, rambutku yang sebahu semakin kumal saja, sebuah ancaman dimana aku harus mengosongkan rumah kalau tidak bisa membayar hutang kembali hadir dengan gagahnya, membuat syaraf kepalaku semakin pening, bagai di hantam palu dengan berat jutaan ton.

“ Yusuf, hidupmu kok kacau begini, coba deh kamu temuin Ustadz Ahmad, minta nasihat sama beliau, semoga jalan hidupmu berkah. “

Ucapan dari Barak, teman seperjuanganku sejak kecil itu membuyarkan lamunan, di saat suka dan duka, memang dia selalu ada menghiasi hati ini, dia sahabat sejati yang selalu ada saat air mata menetes tak tertahankan, tak pernah ragu dalam membantu kesulitan teman

Masa iya sih, seorang Ustadz yang dimuliakan orang, dimana ucapannya selalu di dengar orang, penuh ilmu dan pelajaran, mau bertemu dengan orang kacau sepertiku, apakah pemaksiat sejati sepertiku, dimana para iblis masih suka bergelantungan di urat nadiku, pantas masuk ke rumah seorang ustadz yang selalu di hiasi bacaan Al Quran, apakah wajah kusam ini pantas bertemu dengan seorang manusia yang wajahnya selalu dibasuhi air wudhu.

Ah….., pikiranku semakin kacau, dasar juragan karet tak tahu aturan, sudah tahu aku tidak punya uang, usaha lenyap melayang, malah seenaknya menagih hutang, sebanyak tiga puluh juta rupiah, darimana aku dapat uang sebanyak itu, jangankan bayar hutang, beli minuman keras saja aku sudah tidak mampu untuk menenangkan pikiran, di dompet cuma tinggal sepuluh ribu rupiah, tidak bisa makan tiga kali sehari besok hari, kecuali merebus mie instant.

Ya udah, daripada aku berdiam diri, sementara waktu terus berjalan, sebentar lagi bayar utang, aku coba saja deh nemuin itu Ustadz, semoga saja dia mau berbaik hati memberikan pinjaman.

Kupasang jaket kumalku, lalu aku mencoba keluar rumah, rumah yang harus dikosongkan jikalau aku gagal minta pinjaman, dari seorang Ustadz yang kata orang sangat dermawan.

Jalan kaki sebentar, begitu sampai pertigaan, kulihat ada ojek nganggur, lumayan lah buat minta tumpangan.

“ Mau kemana dik, Mau kuliah ya ? “ Tukang ojek berwajah tua dengan kumis tak rata itu menyapaku.

“ Anterin ke rumah Ustadz Ahmad “ Balasku santai

“ Maaf, kemana dik? Telingaku agak budeg juga habis kemasukan air “ Jawab tukang ojek itu sambil menggaruk-garuk telinganya, aku semakin jengkel saja dengan tingkahnya

“ Ke rumah Ustadz Ahmad “

“ Dengan pakaian seperti ini? Apa pantas tuh. “

Tukang ojek ini seenaknya saja menceramahiku, memang pakaianku kurang pantas, baju kaos, celana jeans dengan jaket kulit yang menggantung di bahu, aku tahu niatnya baik, menyuruhku pakai baju busana muslim untuk bertemu Ustadz biar cakep, tapi suasana hatiku sedang tidak nyaman, pikiranku jauh melayang ke tiga puluh juta rupiah yang harus dibayarkan.

“ Ya sudah pak, jalan saja “ kataku santai.

Suasana kota yang tak ramai membuat tukang ojek ini menjadi pembalap dadakan saja, begitu kencangnya sampai angin menubruk wajahku, membuat rambutku menari tak beraturan kemana-mana.

Sesampainya di tempat tujuan, pesantren yang di asuh Ustadz Ahmad, begitu banyak para santri yang terlihat komat kamit menghafal Al Quran, ada juga yang menimba air untuk perlekapan mencuci dan memasak.

“ Pak bayar ojeknya ngebon dulu ya, rezeki lagi seret nih. “

“ Ya udah gak papa. “ balas tukang ojek dengan santai

Wah, untung tukang ojek itu mengerti keadaan, sifatnya tidak segalak wajahnya, dan hatinya tidak sejengkel kelakuannya, kuhirup nafas untuk meredakan gemuruh detak jantungku yang tak beraturan, seperti lautan yang di hamburkan ombak saja nih jantung, baru satu langkah, tukang ojek itu menepuk pundakku, aku berbalik menatap wajahnya.

“ Jangan nakal ya… “

Ucap tukang ojek itu sambil tersenyum manis kepadaku.

“ Iya deh jawabku. “

“ Loh, jangan iya deh dong, jawab saja dengan Insya Allah. “

“ Maksudnya apa pak ? “ Tanyaku dengan sedikit heran, karena tukang ojek ini mencoba merubah gaya bicaraku.

“ Insya Allah, maksudnya jikalau Allah menghendaki, siapa yang tahu bagaimana keadaan kita satu detik selanjutnya kecuali Allah “

“ Oh begitu, Insya Allah, betul betul betul, jawabku sekenanya, meniru ucapan kartun Upin Ipin yang selalu menghiasi masa suntukku. “

Aku berjalan di balik suasana udara yang cerah, perlahan-lahan mendekat ke tempat tujuan, aku tidak tahu debaran apa yang sedang terjadi di hati, keringat mulai membanjir, kulitku seakan mati rasa, kuketuk pintu rumah sambil mengucap salam.

“ Assalamualaikum “

“ Waalaikum salam. “

Terdengar suara ustadz Ahmad dari dalam, beliau mempersilakanku masuk dengan ramah, namun aku berdiri mematung, gugup tak beraturan, seperti bertemu bapak presiden saja, lidahku kelu untuk digerakkan.

“ Loh, kok malah bengong nak, silakan masuk. “

“ Iya Ustadz. “

Kumasuki rumah sederhana ini, di ruang tamu tergeletak sebuah lemari kaca penuh dengan kitab suci Al Quran, ada juga sebuah rak yang di penuhi kitab-kitab, entah buku apa itu, yang pasti aku masih belum mengerti.

Segelas teh hangat dan sepotong roti menemani waktu santai kami, sebenarnya agak kurang tepat juga disebut santai, karena gemuruh hatiku benar-benar kacau, seperti bom waktu yang mau meledak saja, di mataku terngiang uang tiga puluh juta rupiah, lalu bayangan itu berubah menjadi wajah sangar sang juragan karet yang mau menagih hutang, menertawakan ketololanku, suara tawanya benar-benar membuat gendang telingaku hampir pecah.

“ Kamu melamun ya? “

Suara Ustadz Ahmad mengagetkanku, mungkin beliau bisa membaca tatapan kosong mataku.

“ Perkenalkan, saya Muhammad Abdullah Yusuf, temannya Barak, salah satu santri dari Ustadz, begini Ustadz, saya punya masalah yang cukup rumit, saya punya hutang sebanyak tiga puluh juta rupiah, dua hari lagi jatuh tempo, kalau saya belum bisa bayar, maka rumah yang saya tempatin, harta saya satu-satunya bakalan di ambil. “

“ Oh begitu, kamu punya uang tiga juta rupiah gak? Sepuluh persen dari tiga puluh juta. “

“ Waduh, nyerah deh ustadz, saya tidak punya. “

“ Kalau dua setengah persennya. “

“ Berapa tuh Ustadz? “

“ Tujuh ratus lima puluh ribu. “

“ Ustadz, saya ini kesini naik ojek, dan ni mau minjam dulu sama Ustadz buat bayar ojek. “

“ Yah, kelewatan lo, seharusnya kalau datang ke guru, bawain nanas, anggur, atau apalah, biar mendoakannya nyaman, ini malah minjam “ Jawab Ustadz Ahmad sambil tertawa, gigi putihnya menyilaukan mataku saja.

Waduh, benar-benar pusing juga aku bertemu Ustadz yang satu ini, udah duit sedikit, diceramahin.

“ Nah, itu yang kamu pegang apaan? “

Suara Ustadz Ahmad mengagetkanku, kulihat tangan kananku, sebuah handphone yang sudah tiga tahun menemaniku ternyata yang ditanyakan.

“ Ustadz, ini namanya handphone, lewat alat ini kita bisa berhubungan dengan orang, bisa SMS, chating, dan sebagainya “

“ Iya, saya tahu, maksudnya, kira-kira harganya berapa? “

“ Mungkin sekitar sejuta dua ratus lima puluh ribu rupiah. “

“ Oh begitu, dik, ambilkan kakak uang lima ratus ribu. “ Ustadz Ahmad menyuruh istrinya untuk mengambilkan uang, wah lumayan lah, lima ratus ribu juga bisa menyenangkan hatiku, seperti dapat harta karun di dalam lautan saja, hatiku benar-benar berbunga.

Begitu lima ratus ribu sudah di tangan, keren banget ini uang, wajah pahlawan di lembaran uang ini seperti tersenyum manis kepadaku, mataku seakan silau melihat tumpukan uang ini.

“ Ini buat kamu “ Kata Ustadz Ahmad sambil memberikan uang lima ratus ribu ketanganku, aku menerimanya dengan senyum selebar-lebarnya, seandainya bibir ini bisa tersenyum sepanjang dua meter, maka akan kulakukan untuk mengekspresikan kesenangan hati.

“ Duh, makasih ya Ustadz, ternyata ada juga orang baik seperti Ustadz. “

“ Baik apanya? “

“ Ini, dikasih uang. “

“ Yah, bukannya di kasih bos, handphonemu tinggal “

Glek…, aku kaget, bagai di sambar petir di siang bolong saja.

“ Maksudnya Ustadz? “

“ Harga handphone ini kan sejuta dua ratus lima puluh ribu, ini lima ratus ribu aku kasih buat kamu, kan dua setengah persen dari tiga puluh juta itu tujuh ratus lima puluh ribu, nah hasil dari penjualan handphone ini, kamu bayarin ke Allah lewat sedekah. “

“ Whhaaaaatttt……????? “

Getaran Hati

Cuaca panas yang membakar kulit ini semakin membuat kepalaku sakit, niat ingin minta uang malah kerampokan, aneh, untung saja aku bisa menyembunyikan uang sepuluh ribu di dompetku, kalau ketahuan bisa diambil ustadz juga uang ini, buat sedekah lah, buat anak yatim lah, buat masjid lah, macam-macam deh alasan Ustadz berkulit putih itu, apa tidak tahu aku dicekik masalah seperti ini.

Dua hari.. oh dua hari.., pikiran masalah itu bagai sebuah nyanyian yang berputar-putar dikepalaku, dua hari lagi aku harus bayar tiga puluh juta rupiah, apa tidak gila, andai aku belajar dari master Dedy Corbuzer dulu, bisa sim salabim, keluar itu uang, namun apa daya otakku terasa buntu, tapi lumayan aku masih bisa menyembunyikan sepuluh ribu rupiah di dompetku, di tambah uang lima ratus ribu hasil dari lenyapnya handphone bututku, mungkin bisa membeli segelas minuman dulu sebagai sarana pemecah masalah sementara, ingin terbang melayang ke surga, walau jatuhnya membuat otak berantakan tak terkira.

Aku melangkah pelan mendekati warung remang-remang yang menyediakan minuman haram, malam ini aku ingin berpesta kenikmatan dulu, terbang melayang meninggalkan setiap beban yang begitu menghimpit, sehingga pikiran semakin diperumit, namun begitu aku mendekat malah kesialan yang di dapat, warungnya di grebek polisi lagi, suara ribut dan gaduh dimana-mana, seperti suara perkelahian dua ekor kucing jantan yang memperebutkan pacar, sangat mengusik kesunyian malam, begitu gagahnya sekumpulan power rangers itu menodong senjata api di setiap sudut ruangan, mengancam para penjaja kenikmatan malam yang pucat pasi karena menahan kencing, gara-gara rasa takut yang begitu menghimpit mereka.

Aku berlari sekencang-kencangnya bagai di kejar anjing, menubruk tempat sampah dan hampir masuk kedalam got, andai saat itu ada kejuaraan lomba lari, besar kemungkinan aku akan menjadi juara satu, karena begitu dahsyatnya peristiwa yang kulihat, begitu capeknya sehingga suara nafasku seperti suara merdu Gita Gutawa saja, aku duduk mematung di sebuah kursi reot jalanan, begitu reotnya ini kursi, baru naruh badan sedikit saja sudah berbunyi

Ngiikkkk…. Ngiikkk…

Suaranya seperti penyanyi tertelan mic, perutku mulai keroncongan tak tertahankan, tidak tahu mengapa lambung ini seperti menelpon otakku, sudah ingin diisi makanan untuk menambah tenaga. Kuraba saku celanaku yang sudah bolong dimana-mana, berharap bisa membeli mie instant untuk mengganjal rasa dahaga, namun rasa sialku ternyata bertambah, uang sepuluh ribu rupiah yang kusembunyikan dari Ustadz Ahmad tenyata raib entah kemana, permisi saja tidak ini uang malah pergi meninggalkanku begitu saja, kutelusuri tiap sisi jalanan berharap menemukan uang ini, namun benar-benar lenyap.

Aku pulang kerumah dengan langkah gontai, benar-benar sial malam ini, bukan yang sial bukan malam ini, tapi dunia ini benar-benar memuakkan, aku ingin pergi saja meninggalkan semuanya, biarlah nama Muhammad Abdullah Yusuf menjadi kenangan, saatnya aku mengakhiri hidup untuk melepaskan semua masalah yang menggantungi pikiran, sehingga hutang tiga puluh juta rupiah juga menghilang.

Kugantung sebuah tali perpisahan dimana tali ini akan menjadi saksi bisu kematianku, oh tali, begitu hebat kau sehingga bisa membunuh seorang Yusuf yang tiada berguna, namun karena kau juga masalahku hilang untuk selamanya, sebuah dialog terakhirku kepada dunia, begitu kulingkarkan tali di leherku yang akan mencekikku sampai kehabisan nafas, tiba-tiba azan isya berkumandang.

“ Allahu Akbar… Allahu Akbar… “

Panggilan azan bergema memecah kesunyian malam, aku berdiri termenung memikirkan diriku, sementara tali kematian sudah melingkar di leherku, sudah azan isya ternyata, dalam kebimbangan muncul tanda tanya yang menghantui pikiranku, seakan aku berbicara pada diriku sendiri,

“Rasanya sudah lama juga aku tidak shalat, ya udah yang terakhir juga deh, sebelum bunuh diri, aku mau shalat dulu. “

Aku turun dari panggilan kematian, kulepaskan lingkaran tali yang mencekik leherku, lalu aku berjalan pelan ke dapur untuk mengambil air wudhu, kubuka kran ledeng dengan hati-hati, lalu disaat aku membasuh muka.

Wusss…..

Aneh, pikiranku menjadi bingung tak tertahankan, yang kubasuh wajahku, tapi kenapa hatiku menjadi tenang ya, antara bingung dan ragu aku terus menyempurnakan wudhuku, sementara suasana hatiku semakin tenang dan tentram saja.

Kuhamparkan sajadah yang harum mewangi, kuangkat takbir dengan penuh kekhusukan, kubayangkan Allah berdiri di depanku, surga di sebelah kananku, neraka disebelah kiriku, dan malaikat maut berdiri dibelakangku, air mataku menetes tak terasa, entah gejala apa ini  aku masih belum mengerti, begitu salam, menengok ke kanan dan ke kiri, terlihat kitab suci Al Quran di atas meja, hatiku kembali bertanya-tanya.

“ Oh iya, rasanya sudah lama juga aku gak baca Al Quran, terakhir juga deh, sebelum bunuh diri, aku mau ngaji dulu. “

Aku bangkit mengambil kitab suci yang lumayan sudah berdebu karena di telantarkan, kubuka dengan perlahan, lalu kubaca dengan penuh penghayatan, surat Al Fatihah, surat pembuka itu kubaca dengan suara tenang, namun hati ini menjadi sejuk, sangat sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata, rasanya mulut ini tidak akan bosan-bosan dalam melantunkan ayat suci, lagu sehebat apapun tidak akan bisa mengalahkannya, subhanallah, ayatnya, panjang pendeknya, sangat menghipnotis diriku dalam membacanya.

Selesai membaca Al Fatihah, aku bertemu dengan surat Al Baqarah.

“ Alif Lam Mim, Dza likal kitabula raiba fihi hudan lilmuttaqin ( Alif Lam Mim, AL Quran ini tidak ada keraguan kepadanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa ) ”

Masa sih? Petunjuk bagi orang yang bertakwa, wah mungkin Allah lagi menegurku nih, aku masih belum menjadi hamba yang bertakwa, makanya belum dapat petunjuk, selama ini aku menyelesaikan masalah hanya dengan caraku sendiri, tidak dengan cara Allah, Al Quran masih belum kujadikan pedoman hidup, jadi orang bertakwa gimana ya? Aku benar-benar butuh petunjuk, dengan penuh tanda tanya kubaca ayat selanjutnya.

“ Alladzina yuminnu bil ghoibi (Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib)“

Hmm.. betul juga ya, harus beriman kepada Allah dulu yang Maha Gaib, aku harus meyakini bahwa yang bisa menyelesaikan masalah utangku bukan diriku, bukan temanku, bukan suaraku, tapi Allah yang bisa menyelesaikan semuanya, segala usahaku hanya perantara untuk mencari karunia Allah, aku jadi teringat dengan nasihat Ustadz Ahmad bahwa kalau kita beribadah jangan untuk mencari solusi, tapi carilah Allah dulu, kalau kita beribadah hanya untuk mengejar solusi capek kita, jangan-jangan nanti bisa menyalahkan Allah, kita malah akan berkata “ Mana nih, katanya tahajud semalam kayak kun fayakun, boro-boro pagi harinya penagih hutang malah datang” Itulah kesalahan kebanyakan orang, selama ini kebanyakan manusia memakai rumus mentok, ihktiar dulu, usaha dulu, pas mentok baru ke Allah, seharusnya kita mengejar Allah dulu, rumusnya Allah ikhtiar Allah, karena itu kita melibatkan Allah dalam setiap kehidupan kita, nasihat dari Ustadz Ahmad pagi tadi terus berputar-putar di kepalaku, kuteruskan ayat selanjutnya.

“ Wayukii muunasshalat ( yang mendirikan shalat) “

Oh pantas, baru nyadar aku, pantesan waktu shalat tadi hatiku tenang, jadi ini penyebabnya, bahwa shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat adalah amal pertama yang dihisab, subhanallah, kenapa aku baru nyadar kalau kegelisahan hati akan terusir dengan shalat, aku semakin menikmati Al Quran ini, kuteruskan ayat selanjutnya.

“ Ta wamimmaa rajaknaahum yunfiikuun ( dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka).

Baru sadar aku, kalau sedekah tidak akan mengurangi harta, kalau sedekah adalah cara untuk kaya dunia akhirat, astagfirullah, ternyata hatiku terlalu hitam sehingga keihklasan memberi hilang begitu saja, sifat kikirku terlalu membutakan hati ini, kuteruskan membaca ayat keempat dan kelima.

“ Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. “

Air mataku semakin deras, menetes bagai embun di pagi hari, hatiku sesak tidak terkira, seharian aku mentadaburi ayat Allah, semakin mantap juga imanku, bunuh diri, udah dosa masuk neraka lagi, ih.. amit-amit, ternyata iblis sudah terlalu lama menyatu dengan diriku, menertawakan setiap ketololan diriku, mulai malam ini aku harus merubah semuanya.

Kukunci semua pintu rumah, kumatikan setiap lampu ruangan kecuali kamarku, aku ingin berduaan sama Allah, malam ini aku ingin menyerahkan semua masalahku, rumah ini titipannya, jikalau Allah menakdirkan rumah ini akan diambil oleh penagih hutang, aku ikhlas, semuanya milikNya

Rasa haru di dada semakin menyejukkanku, air mataku semakin deras, semalaman aku mentadaburi ayat Allah, sampai panggilan azan subuh memanggilku, kuhapus air mataku, lalu melangkah menuju masjid untuk shalat berjamaah, masya Allah, umurku sudah dua puluh dua tahun, namun ini pertama kalinya aku shalat subuh berjamaah, dimana imanku selama ini.

***

Usai shalat, begitu menuju pulang ke rumah, aku kaget bukan kepalang, rasanya jantungku mau copot saja, kenapa banyak tamu di depan rumahku, masya Allah, apakah itu penagih hutang, kan janjinya besok pagi, kenapa datang hari ini, tapi tidak apalah, jikalau hari ini aku harus keluar dari rumah ini aku ikhlas, bumi Allah ini luas, karunia Allah masih bisa dicari, begitu aku mendekat, kutengok kutatap dan kuteliti, ternyata teman-teman kuliahku yang berkumpul, Alhamdulillah, kerutan wajah pucat pasi yang menyelimuti wajahku kembali cemerlang seperti sedia kala.

“ Yusuf….. !!!!“

Suara nyaring teman – temanku yang memanggilku begitu kerasnya, seperti suara Tarzan yang memanggil para kawanan hewan, memecah kesunyian pagi, mereka semua berlarian ke arahku, aku bagai selebritis dadakan yang ingin diminta tanda tangan para penggemar saja.

“ Ada apa teman-teman, kok ramai gini. “

Semua temanku menghampiriku dengan wajah berbunga, saking bingungnya aku seperti seekor anak ayam yang kehilangan induk, kenapa jadi ramai begini

“ Yusuf, selamat…, kau menjadi alumni dengan nilai terbaik sekabupaten tahun ini, dan kau mendapat uang tiga puluh juta rupiah sebagai penghargaan dari negara. “

“ Apa.. yang benar? “ Aku kaget tidak terkira

“ Iya benar, kalau kamu tidak percaya silakan saja browsing di internet. “

Subhanallah…, Allahu Akbar…. “

Tangisku pecah saat itu juga, aku langsung sujud syukur, ternyata sedekah itu meski sedikit akan di ganti Allah dengan berlipat, harus ada keikhlasan di dalamnya, hujan menitik, membasahi sujudku di bumi Allah.

( Bersambung )

Note : Mohon doanya semoga novel perjalanan Muhammad Abdullah Yusuf ini bisa saya selesaikan secepatnya, mohon doanya semoga Allah membantu saya lewat keberkahannya lewat novel ini, semoga novel ini di terima penerbit dan bisa dibaca setiap orang, sengaja saya tulis “ Belum Ada Judul “ karena saya masih bingung kira-kira judul apa yang pantas untuk cerita ini, insya Allah di sela kesibukan, saya akan berusaha menyelesaikan cerita ini secepatnya, mohon masukannya kepada saudara/i semua, karena mungkin cerita ini bisa membuat pembaca ngantuk, kalimatnya masih ngolor ngidul : ) maklum masih belajar, hehehe

Irza Setiawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: