Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 6 )

Oleh : Irza Setiawan

Luapan Kerinduan

Matahari mulai menyinari bumi, cuaca yang tadinya hujan berubah menjadi panas, waktu berangkat kuliah, aku menggigil kedinginan, sekarang begitu pulang kuliah, aku malah kepanasan, Allah memang mempunyai bermacam-macam rencana.

Aku terus melangkah pulang, tiba-tiba saja Adzan Zuhur mulai terdengar, kupercepat langkahku menuju masjid, sesampainya di masjid, aku langsung mengambil air wudhu, begitu air wudhu mengaliri tubuhku, rasanya segar sekali, rasanya aku menemukan semangat baru.

Setelah berwudhu, aku melihat seorang kakek tua penderita tuna netra berpakaian kemeja putih lusuh tergopoh-gopoh melangkahkan kakinya, beliau terus memainkan tongkat beliau untuk melangkah, garis-garis dan guratan wajahnya yang tua semakin membuat hatiku iba, keterbatasan fisik tidak membuatnya malas untuk beribadah, tanpa pikir panjang aku langsung menemui beliau dan membimbing beliau menuju tempat wudhu, tak henti-hentinya beliau mengucapkan terima kasih kepadaku, lalu kakek itu mulai mengambil air wudhu.

Setelah berwudhu, aku menuntun beliau masuk ke dalam masjid, beliau berdiri di sebelahku, lalu kami shalat berjamaah bersama, meraih cinta Allah.

Setelah shalat, aku lalu mengobrol sama kakek itu, meskipun matanya tidak bisa melihat, tapi pendengaran beliau sangat tajam, mungkin karena telinga beliau sudah terlatih sejak dulu, beliau tidak merasa sengsara atau sakit hati karena penderitaannya, inilah takdirNya, dengan mata yang tidak bisa melihat, beliau tidak akan bisa melihat tipuan-tipuan dunia yang mungkin bisa menjerumuskannya kedalam lautan dosa, hatinya tetap terjaga, dan godaan duniawi semakin berkurang.

***

Malam semakin dingin, sudah dari tadi bayangan Anisa terus membayangiku, rasa kangen dan cintaku semakin memuncak kepadanya, gelora-gelora cinta ini memang semakin tidak bisa terbendung, apakah yang dipikirkan Anisa di sana, apakah dia juga memikirkanku seperti aku yang selalu memikirkannya.

Ya Allah, kenapa perasaan cinta ini semakin menyiksaku,  kupandangi arloji pemberian Anisa, kugenggam erat arloji itu, mungkin dengan begini, rasa rinduku padanya sedikit terobati.

Kubuka televisi, mungkin dengan menonton televisi hatiku yang gundah bisa sedikit terhibur, film yang kutonton menceritakan tentang seorang muda mudi yang menjalin cinta di tengah pantai yang indah, suasana matahari yang hampir tenggelam semakin membuat suasana lebih romantis, aku jadi membayangkan, seandainya pemuda itu adalah diriku, dan pemudi itu Anisa, mengarungi pantai yang indah, menghabiskan waktu bersamanya, alangkah indahnya.

“ Astagfirullah “

Kenapa aku jadi berpikiran seperti ini, iblis memang sangat suka menggoda manusia, berpikiran yang tidak-tidak itu sudah tidak baik, kumatikan televisi, aku melangkah ke kamar, lalu merebahkan diriku dikasur.

Tatapanku kosong, pikiranku benar-benar tak bisa lepas dari Anisa, aku tidak bisa seperti ini terus, mungkin sudah saatnya aku meminangnya, meminang seorang gadis shalehah, berhati mulia, pandai, dan cantik seperti Anisa, dan berusaha menjadi pemimpinnya dan membimbingnya untuk selalu menuju RidhaNya, dan mengabdi kepadaNya.

***

Besok harinya, aku mengemasi barang-barang bawaanku untuk pulang ke kampung halamanku di Kalimantan, keluargaku sudah kuberi kabar, mereka sangat senang mendengarnya, aku pamit kepada teman-teman kos untuk pergi ke Kalimantan, meminta restu orang tua dan meminang Anisa, semua teman-temanku memberikan dukungan dan mendoakanku.

Surya, Iyan, Ujang, dan Nai mengantarkanku ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, mereka semua setia menemaniku, tinggal di bawah satu atap bersama sahabat seperti mereka benar-benar anugerah yang indah dari Allah SWT, mereka sudah seperti keluargaku sendiri.

Setelah siap, aku mulai berangkat menuju pesawat, teman-temanku melepas kepergianku dengan rasa haru, kami saling berjabat tangan dan berpelukan, lalu perlahan-lahan aku meninggalkan mereka, aku berjalan memasuki pesawat, setelah masuk pesawat, terlihat seorang pramugari cantik sedang tersenyum manis kepadaku, ku nonaktifkan handphone-ku,  handphone dilarang diaktifkan ketika masuk pesawat, karena bisa mengganggu jalur komunikasi pesawat.

Kulihat tiketku, di situ tertulis bahwa tempat dudukku berada di nomor enam C, artinya kursi nomor enam di samping jendela pesawat, kebetulan sekali aku duduk di samping jendela pesawat, dengan begitu, aku bisa melihat pemandangan dan gumpalan-gumpalan awan di saat pesawat lepas landas nanti.

Setelah menemukan kursiku, aku mulai duduk dan memasang sabuk pengaman, kulepas topiku, di depanku para pramugari mulai mempraktekkan tata cara pemakaian pelampung dan alat pernapasan yang berada di atasku, tidak lama kemudian, pesawat mulai lepas landas.

Kulihat jendela pesawat, terlihat pulau Jawa yang dikelilingi lautan, terlihat sekali mobil-mobil dan kendaraan yang melintasi jalan raya, semakin lama pulau Jawa itu semakin mengecil, lalu tenggelam dan menghilang oleh gumpalan-gumpalan awan.

Didalam perjalanan, aku banyak berzikir dan mengingat Allah, kulantunkan puja-puji kepada Allah dengan hati yang tulus, hati yang mengharap ridhaNya, sesungguhnya desah napas yang kumiliki, kesehatan, kebahagiaanku adalah untukNya.

Para Pramugari datang dengan membawa makanan dan minuman untuk penumpang, mereka tersenyum manis kepadaku, akupun membalas senyuman mereka, sambil menunggu pesawat mendarat, aku membuka novel kesukaanku, bagiku ini adalah novel pertama yang bisa membuatku terharu, aku sampai menangis ketika membaca ceritanya, sosok seorang santri yang sangat haus ilmu, seluruh hidupnya hanya diserahkan kepada Allah.

“ Lagi baca apa mas ? “ Seorang pemuda tiba-tiba menyapaku dengan ramah, dia duduk disampingku, kalau dilihat-lihat dia masih sangat muda, masih seumuran denganku.

“ Oh, lagi baca novelnya Habiburahman El Shirazy, Ayat-ayat cinta. “

“ Kisah kehidupan Fahri yang kuliah di universitas Al Azhar Mesir itu kan. “

“ Iya, udah baca ya? “

“ Udah kok mas, kenalkan nama saya Zein. “ Jawabnya sambil mengulurkan tangan kepadaku.

“ Andre. “ Kataku sambil bersalaman dengannya.

“ Mas Andre suka baca ya? “

“ Suka, karena semakin kita banyak membaca, semakin banyak pula kita mendapatkan pengetahuan, nabi Muhammad saja di awal-awal kenabiannya disuruh membaca. “

“ Iya, hehehe…, ngomong-ngomong, mas Andre seorang mahasiswa kan? “

“ Kok tau? “

“ Ketahuan aja dari penampilan mas. “

“ Hah, emang penampilanku kayak mahasiswa ya, hehehe…, kalau mas Zein, kerja dimana? “

“ Saya seorang dokter di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. “

“ Wah, masih muda sudah jadi dokter, aku salut sama kamu. “

“ Hehe.. mas Andre, aku Cuma manusia biasa kok, apa sih yang pantas dibanggain dari aku. “

“ Iya, ngomong-ngomong ada rencana apa di Kalimantan? “

“ Biasa, pulang kampung, udah kangen sama keluarga. “

“ Mas Zein orang Kalimantan? “

“ Iya, saya tinggal di kota Banjarmasin, kalau mas Andre ? “

“ Saya orang Amuntai, tujuan saya ke Kalimantan sama aja dengan mas Zein, udah kangen sama keluarga. “

“ Wah, kebetulan banget, aku gak nyangka kalau mas Andre orang Kalimantan juga. “

Tiba-tiba pesawat terasa bergetar, lalu ada pengumuman kalau pesawat akan mendarat, kulihat jendela pesawat, pulau Kalimantan sudah mulai kelihatan dikelilingi oleh lautan, kalau memandang seperti ini, aku jadi ingat dengan peta Indonesia, kelihatan persis seperti yang ada di peta, lama-kelamaan pulau Kalimantan mulai terlihat jelas, aku bisa melihat mobil-mobil dan kendaraan sedang hilir mudik di jalan raya, lalu pesawat mulai mendarat.

Para penumpang sedang mempersiapkan dirinya masing-masing untuk turun dari pesawat, begitu juga dengan diriku dan Zein, setelah semua siap, kami turun sambil berjalan bersama, mengambil barang-barang, lalu kembali melangkah.

“ Mas Andre, boleh minta nomor handphone-nya, siapa tahu entar kita ketemu dan ngobrol-ngobrol kembali. “

“ Boleh. “ Kataku sambil memberikannya selembar kartu namaku, di dalamnya terdapat alamat lengkap dan nomor handphone-ku, begitu juga dengan Zein, dia memberikan kartu namanya kepadaku, lalu kami berpisah, dia naik taksi menuju pulang ke rumahnya.

Bandara terlihat ramai sekali, banyak sekali orang-orang hilir mudik di depanku, di sebelah kananku, terlihat seorang gadis kecil menjual makanan, lalu aku membeli makanan, aku mulai keluar Bandara, membeli beberapa buku agama, lalu mencari taksi untuk pulang ke Amuntai.

Di perempatan jalan, terlihat seorang bapak tua sedang menawarkan taksinya kepadaku, tanpa pikir panjang, aku menerima tawarannya, bapak itu membantuku memasukan barang bawaanku kedalam taksi, lalu kami berangkat.

Taxi bewarna biru itu membawaku perlahan menuju rumah, suasana kota Banjarmasin sungguh menyenangkan, wajah ibu dan ayah kembali terbayang di pikiranku, sudah begitu lama aku meninggalkan mereka, entah bagaimana kabar mereka disana.

Kusandarkan bahuku, kuregangkan otot-ototku, perjalanan yang kutempuh benar-benar sangat melelahkan, hilir mudik berbagai kendaraan di kota benar-benar menarik perhatianku, di belakangku terlihat seorang bapak tua yang sedang mengayuh becaknya, gurat keriput wajahnya tidak membuyarkan semangatnya untuk bekerja, menafkahi keluarga memang sebuah ibadah, aku jadi membayangkan bila menikah nanti, bekerja untuk istri dan anak-anakku, biar bagaimanapun aku seorang laki-laki, laki-laki adalah pemimpin keluarga, pemimpin keluarga bertanggung jawab untuk menafkahi anak istrinya, meskipun seorang istri juga dibolehkan untuk bekerja. Kupejamkan mataku, suasana dingin dari AC Taxi benar-benar membuatku mengantuk, perlahan-lahan aku terlelap tidur.

***

“ SELAMAT DATANG DI KOTA AMUNTAI “

Tulisan itu sudah terlihat di depan mataku, taxi yang kutumpangi berhenti di terminal Amuntai, bapak sopir taxi membantuku mengeluarkan barang-barang bawaanku, badanku terasa letih sekali, setelah hampir seharian menempuh perjalanan, perlahan-lahan hari mulai gelap, matahari mulai tenggelam, adzan magrib berkumandang, aku berlari-lari kecil menuju mesjid Al Jihad, sebuah mesjid yang terletak di desa Palampitan.

Badanku terasa segar kembali setelah dialiri air wudhu, semangatku kembali memuncak, perlahan-lahan aku memasuki masjid, kuletakan barang bawaanku di sudut masjid, aku maju kedepan, mengisi barisan shaf yang masih kosong, lalu kami semua mulai mengangkat takbir, suasana damai mengaliri relung-relung hatiku di saat mengucapkan namaNya, ketenangan, kedamaian, keindahan, sangat menyejukan jiwaku, segala puji hanya untuk milik Allah, langit, gunung, bebatuan, awan, lautan, pepohonan, dan benda-benda lain selalu memuji dan bertasbih padaMu, hanya kepadaMu lah hati ini berharap, ampunilah segala dosa-dosa kami ya Allah.

Usai shalat, aku mengemasi barang bawaanku, bersiap-siap pulang ke rumah, kerinduanku kepada keluarga sudah begitu memuncak, aku mulai melangkahkan kakiku, pulang menuju rumah, tempat kelahiranku, tempat dimana aku meluapkan tangisan pertamaku, tempat dimana aku mulai mengenal tentang kehidupan dan perjuangan.

Dan tidak jauh dari rumahku, adalah rumah seorang wanita shalehah yang sangat kucintai, wanita pertama yang bisa membuatku terpana, oleh kecantikan rupanya dan mulianya akhlaknya, Anisa Faradilla Rahmah, bagaimanakah kabarmu sekarang, semoga Allah SWT selalu memberikan perlindunganNya yang mulia kepadamu, duhai kekasihku.

Setelah menempuh perjalanan, akhirnya aku pulang ke rumah, tangis haru dan kebahagiaan menyatu di dalam rumah sederhana ini, meluapkan rasa rindu dan rasa sayang yang sudah lama terpendam, kuciumi tangan bundaku sambil memeluknya dengan lembut, belaian kasih sayangnya sangat mempesona, membuat jiwaku terasa damai, lalu perlahan-lahan aku mulai bersapa dengan ayah dan saudaraku, meluapkan rasa kerinduan setelah terpisah begitu lama.

Kami saling menceritakan satu sama lain, dan aku meminta izin dan meminta restu kepada orang tuaku untuk melamar dan menikah dengan Anisa, gadis yang selama ini mengisi hatiku, mereka menyambutnya dengan rasa haru, dan merestui niatku yang mulia, ada rasa kedamaian tersendiri setelah mendengar keikhlasan mereka yang tulus.

Malam semakin larut, air yang mengaliri tubuhku memberikan semangat tersendiri, mengusir rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang, sebentar lagi waktu isya, aku mempersiapkan diri untuk pergi ke mesjid, tiba-tiba saja Handphone-ku berbunyi, ada SMS masuk, setelah kuteliti, ada nomor baru yang masuk, aku tidak kenal siapa yang menghubungiku, kubuka.

“ Assalamualaikum, apa benar ini saudara Andre “

Dilihat dari SMSnya, kelihatannya orang yang menghubungiku mengenaliku, lalu aku mulai membalas SMSnya.

“ Waalaikum salam, benar ini dengan Andre, mohon maaf kalau boleh tahu, ini siapa ya? “

Tidak lama kemudian dia membalas

“ Andre orang Kalimantan itu kan? “

Sejenak aku bingung membaca SMSnya, kok dia ngomong secara berbelit-belit seperti ini, dengan sabar aku meladeni permainannya.

“ Benar, aku Andre yang tinggal di Kalimantan, ngomong-ngomong, kamu siapa ya? “

“ Aku penggemar beratmu J “

“ Aku hanya manusia biasa yang mempunyai banyak kekurangan, apa sih yang patut di banggakan dariku, sebenarnya saya berbicara dengan siapa sih? “

“ Hehehe…, coba tebak? “

“ Aduh…, kok kamu mau main tebak-tebakan sih, sebentar lagi isya, aku mau ke mushala, kamu siapa sih ? “

“ Oh iya, aku jadi lupa, bentar lagi isya, ya udah, jangan lupa shalat ya…. “

“ Mohon maaf, kamu siapa ya? “

“ Udah deh, gak penting kok. “

Aduh ni orang, benar-benar mempermainkanku, siapa sih yang malam ini suka iseng kepadaku, lalu aku mulai mengirim SMS lagi kepadanya.

“ Hey, kalau kamu gak menjawab pertanyaanku, aku takut shalatku menjadi tidak khusuk. “

“ Hah, kok gitu sih, apa hubungannya SMS ku dengan shalatmu. “

“ Karena kamu belum mengaku siapa dirimu sebenarnya, memunculkan rasa penasaran yang sangat besar pada diriku, aku takut di saat shalat nanti, pikiranku tertuju pada rasa penasaran yang sampai saat ini belum terjawab. “

Tidak lama kemudian, orang misterius itu membalas SMS ku.

“ Duh Andre, aku mohon maaf udah mengganggumu malam ini, ini aku Aisha, maaf ya udah mempermainkanmu, bentar lagi isya, aku mau siap-siap shalat dulu. “

“ Oh…, Aisya toh, dikirain siapa, hehehe…, ok deh, met malam ya Aisha. “

“ Met malam…. “

Aisha, sempat-sempatnya mempermainkanku, oh iya, rasanya Aisha belum tahu kalau aku sekarang ada di Kalimantan, atau bisa juga teman-teman kos sudah memberikan kabar tentang kepulanganku ke kampung halaman.

Hari terlihat mendung, awan-awan bergumpalan di atas langit, suasana dingin terasa sangat menusuk kulit, perlahan-lahan rintik hujan mulai turun, suara petir menggelegar menyambar telingaku, membuat burung-burung yang terbang lari ketakutan, semakin lama hujan semakin deras, kututup jendela kamarku yang basah terkena biasan air hujan, sudah tiga hari berlalu aku berada di Amuntai, tempat kelahiranku, tapi sampai hari ini aku belum juga bertemu dengan Anisa, rencananya sore ini sehabis shalat ashar aku ingin ke rumah Anisa untuk melamarnya.

Rasa rinduku kepada Anisa memuncak, usai shalat ashar aku melangkahkan kaki menuju rumahnya, jantungku berdegup kencang, suasana hatiku benar-benar tidak karuan, rasanya derap langkah kakiku terasa berat, segera kukuatkan perasaanku dengan menyebut nama Allah, tak berapa lama aku sampai di rumah Anisa.

Kedua orang tua Anisa menyambut baik kedatanganku, meskipun ibu Anisa sedang sakit, tapi beliau masih bisa menyambut kedatanganku, tapi sayang, Anisa tidak ada di rumah, kata ayahnya dia sedang mengikuti pengajian di masjid Al Jihad.

Segelas teh hangat dan beberapa kue dihidangkan ibu Anisa di atas meja, setelah itu ibu Anisa masuk ke dalam, kelihatannya kondisi ibu Anisa sedang tidak sehat, wajahnya pucat, tapi tidak melunturkan aura keibuan di wajahnya.

“ Dimakan kuenya Dre. “

“ Iya om. “

“ Kapan nak Andre pulang ke Amuntai, kok tidak ngsih kabar terlebih dahulu sama om. “

“ Tiga hari yang lalu om, kebetulan saya lagi ada kesibukan, makanya baru sekarang bisa memberi kabar ke om. “

“ Om ngerti. “

“ Emm…, gini om, saya datang kemari untuk memberitahukan niat saya yang saya pendam dari dulu om, saya…., saya…. “

Ya Allah, kenapa lidahku jadi kelu seperti ini, kenapa aku tidak bisa berbicara dengan jelas, jantungku berdegup kencang, keringat mulai keluar dari ubun-ubun kepalaku.

“ Kenapa Dre ? “

Ayahnya Anisa kembali bertanya padaku, duh… kenapa jadi seperti ini, segera kukumpulkan kekuatan.

“ Saya…, datang kemari ingin melamar putri bapak, Anisa. “

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah, aku berhasil mengucapkannya, kepalaku terus menunduk, aku pasrah, menanti jawabannya.

Ayahnya Anisa diam sejenak.

“ Nak Andre, om senang sekali, niat nak Andre baik, om setuju saja, tapi jawabannya ada pada Anisa. “

“ Iya om, saya ngerti. “

Lalu aku dan ayah Anisa saling berbincang,  tapi sayang, berhubung aku ada kesibukan, jadi aku mohon pamit kepada keluarga Anisa.

( Bersambung )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: