Di Balik Keudung Cinta ( Bagian 5 )

Cobaan Cinta

Oleh : Irza Setiawan

Cahaya bulan menerangi malam, suara angin berderu-deru di luar sana, sedikit demi sedikit, air hujan mulai membasahi bumi, aku gelisah di dalam kamar, aku benar-benar ditimpa kebingungan yang luar biasa, apa yang sebenarnya menimpa diriku, sudah dua hari yang lalu, Anisa kembali pulang ke Kalimantan, namun, sejak pertemuan dengannya waktu itu, aku selalu memikirkannya, wajahnya yang putih bercahaya selalu menghiasi pandanganku, tatap matanya yang indah semakin membuat hatiku terpesona, beginikah rasanya siksaan cinta.

Azan isya mulai berkumandang, aku mulai mendirikan shalat, begitu mengangkat takbir, bayangan Anisa mulai menghantui pikiranku, terus menerus membayangiku, aku kehilangan kekhusukan hatiku dalam shalat, aku tidak bisa mengendalikan perasaan hatiku, aura kecantikan Anisa selalu terlintas dalam pikiranku, aku berusaha mencoba shalat sekhusuk-khusuknya, tapi aku tidak bisa, aku mulai menangis, aku menangis karena aku kehilangan kekhusukan shalatku, “ Ilahi, kasihanilah diriku, aku tidak ingin kehilangan cinta-Mu, namun engkau juga tahu, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku kepada makhlukMu, aku tidak bisa menghindari aura kecantikan Anisa, aku bersimpuh kepadaMu, berikanlah hambamu ini kekuatan, supaya bisa mengendalikan diri”.

Semakin aku berharap kepada ilahi, semakin aku meratap dan mengiba, air mataku semakin deras membasahi pipiku, aku takut membuatMu cemburu, duhai Ilahi, sebab, hanya Engkaulah yang pantas untuk di cintai, hanya kepada Engkau, hatiku selalu memuji, hiasilah hati hamba untuk selalu mengingatMu, Ya Allah.

Suasana malam semakin dingin, menusuk-nusuk kulitku, aku masih bersujud kepadaNya, sajadahku basah dengan air mata, aku takut dengan dosa-dosa yang terus membayangiku, pikiranku semakin karuan tak menentu, kepalaku sakit sekali, pandanganku mulai gelap.

Dalam keremangan gelap, aku merasakan ada sesosok pria yang mendatangiku, dia mendekatiku, derap langkahnya sungguh bijaksana, siapakah dia sebenarnya, ketika aku mengangkat wajahku,  subhannallah, ketampanannya sungguh luar biasa, dia tersenyum sangat manis kepadaku, aku masih bersimpuh di atas sajadahku, perlahan-lahan dia mendekatiku, lalu membantuku untuk bangkit dan berdiri, setelah membantuku, dia membalikkan badan, sambil perlahan-lahan pergi meninggalkanku, aku berusaha memanggilnya.

“ Saudaraku, tunggu dulu, siapakah engkau sebenarnya? “

Lalu pria itu membalikkan badan sambil tersenyum kepadaku, senyumannya sangat indah, bagaikan bulan purnama yang menyinari malam yang kelam.

“ Namaku Muhammad, duhai umatku yang dimuliakan Allah. “

“ Muhammad. “ Aku kaget bukan kepalang.

“ Ya, aku adalah rasul Allah, aku melihat kegundahan hatimu, aku melihat air matamu, andai kau tahu, hatiku perih di saat melihatmu meratap dan mengiba kepadaNya. “

Setelah aku tahu, bahwa yang di depanku adalah baginda Muhammad, kekasih Allah, aku langsung memeluk beliau, tangisku meledak, air mataku tumpah, kuciumi tangan beliau, lalu kupeluk erat tubuh beliau.

Perlahan-lahan, aku mulai sadar, aku masih terbaring di atas sajadahku, ternyata mimpi, air mataku masih membanjiri pipiku, aku merindukanmu, duhai Rasullullah.

Allahumma salliala Muhammad wa alaali Muhammad kama sallayta alaa ibrahim wa alaa ali ibrahim innaka hamiddun majiid Allahumma baarik alaa Muhammad wa alaa ali Muhammad kamaa barak taala ibrahim waala ali ibrahim innaka hamiidun majiid.

( Ya Allah semoga shalawat dilimpahkan pada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah engkau limpahkan shalawat pada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah semoga berkahilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia ).

Kemudian aku bangkit kembali untuk mendirikan shalat, kubayangkan Allah SWT berada di depanku, surga berada di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut berada di belakangku, aku terus larut dalam ayat-ayat Allah.

***

“ Dre, ada surat untukmu. “

Suara Ujang benar-benar mengagetkanku.

“ Dari siapa Jang? “

“ Dari Siska. “

Begitu aku tahu kalau surat itu dari Siska, aku langsung membawa suratnya ke dalam kamarku, perlahan-lahan, kubuka suratnya.

Kepada

Andre Maulana

Seorang pemuda berhati mulia.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Kutulis surat ini dengan tetesan air mata yang terus mengalir, begitu derasnya mengalir, sampai-sampai tetesan ini bukan hanya tetesan air mata semata, namun sudah menjadi tetesan-tetesan darah yang tak hentinya mengalir.

Ka Andre yang dimuliakan Allah SWT, tahukah kamu, di saat malam yang dingin itu, di saat hujan deras mengguyur tubuhku yang lemah ini, aku sudah pasrah dengan penderitaanku yang tiada habisnya, di saat aku berpikir, bahwa tidak akan ada yang peduli kepadaku selain cintaNya, engkau datang dengan membawakanku bibit-bibit kebahagiaan, engkau menghibur hatiku yang penuh dengan penderitaan ini.

Ka Andre, mungkin aku terlalu kotor untukmu, mungkin aku tidak pantas mengutarakan perasaanku kepada pemuda semulia engkau, tapi perasaan ini semakin menyiksa batinku, maka izinkanlah diriku supaya bisa mendampingimu, aku ingin engkau menjadi pemimpinku, aku ingin menjadi halal bagimu, aku ingin mendampingimu baik di dunia, maupun di akhirat, aku ingin membesarkan dan merawat keturunanmu, tapi aku mungkin terlalu kotor bagimu.

Tapi, apakah aku salah untuk mengharapkanmu, apakah aku berdosa jika aku mengharapkan cintamu, aku yakin, itu bukan perbuatan yang salah, aku tidak peduli, bagaimanapun tanggapanmu terhadap diriku, tapi izinkanlah aku untuk terus mencintaimu.

Perempuan yang mencintaimu

Siska Purnamasari

Kututup surat Siska, air mataku menetes, penderitaan Siska benar-benar luar biasa, aku tidak sanggup melihatnya menangis, Siska, maafkan aku, hatiku sudah terlanjur di isi oleh perempuan lain, tapi aku terlalu kejam jika sampai menyakiti perasaanmu, aku seorang pemuda yang jahat, kenapa jalan takdirnya seperti ini, kenapa harus aku yang kau cintai, kenapa bukan orang lain.

Ya Allah, berdosakah jika seandainya diriku menyakiti perasaan Siska, sungguh jahatkah diriku, aku bingung, apa yang harus kulakukan, ujian ini demikian berat bagiku, aku sayang kepada Siska, tapi rasa sayang itu adalah rasa sayang sebagai saudara sesama muslim, bukan perasaan sayang antara lelaki dan perempuan, apa yang harus kulakukan.

Kusandarkan kepalaku di sisi ranjang, kupejamkan mataku, Sekarang Siska sedang memendam perasaan cintanya kepadaku, begitu pula dengan diriku, aku sedang memendam perasaan cintaku kepada Anisa, memendam perasaan begitu menyakitkan, mungkin satu-satunya jalan untuk mengobati perasaan ini hanya dengan mengutarakan perasaan dan mendapatkan cintanya.

Di satu sisi, aku bahagia bisa mencintai seorang gadis yang sudah memikat hatiku, tapi di sisi lain, aku tidak tega, melihat gadis lain yang menderita karena mencintaiku, aku bingung, aku pusing, aku tidak tahu harus bagaimana.

***

Hari mulai mendung, suasana dingin menyelimuti tubuhku, angin bertiup kencang, menggulung-gulung debu yang bertebangan, perlahan-lahan air hujan mulai turun, semakin lama, hujan semakin lebat, padahal sekarang adalah waktunya aku untuk mengumpul makalah yang susah payah kukerjakan, janji adalah hutang, dan harus ditepati, meski bagaimanapun sadisnya kondisi cuaca, aku harus ke kampus.

Kumantapkan niatku, kuambil payung yang bergantung di sudut pintu, lalu perlahan-lahan aku mulai melangkahkan kaki.

“ Hujannya terlalu lebat Dre, apa sebaiknya kamu gak masuk dulu hari ini “ Nai mengingatkanku.

“ Hari ini Mata Kuliah Ustadz Yusuf, kamu tahu sendiri kan, disiplin beliau sangat luar biasa, aku tidak mungkin tidak masuk hanya karena cuaca seperti ini. “

“ Baiklah kalau begitu, aku tidak mungkin melarang kepergianmu, sudah bawa air minum belum. “

“ Sudah kok, aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum

Waalaikum salam

Kubuka pintu rumah, derunya angin langsung menghantam tubuhku, seperti beribu-ribu peluru yang menembus tubuhku, hujan sangat deras, perlahan-lahan aku mulai melangkah dengan dilindungi payung yang kupegang erat, tapi air hujan semakin tidak bersahabat, tubuhku basah kuyup, untung saja sweater yang kukenakan cukup tebal, jadi kemeja putih yang kukenakan di dalam tidak ikut basah.

Aku terus berjalan sambil berzikir, La ilaha illallah, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, ucapan la ilaha illallah bisa menolak 99 bencana bagi pembacanya, yang paling ringan adalah kesedihan.5

Aku terus berjalan dengan memohon perlindungan Allah SWT, setiap derap langkahku,desah napasku, kesedihanku, kebahagiaanku, hanyalah untuk Allah.

Allaahumma hawaa laynaa wa laa alaynaa

( Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami ( yang berfaedah), bukan yang membahayakan atas kami ).6

Semoga hujan yang deras ini bermanfaat bagi bumi, tidak mengakibatkan bencana banjir, tanah longsor, atau bencana-bencana lain, kupercepat langkahku.

Dhuuuarrrr!!!!

Tiba-tiba saja suara petir berbunyi, aku kaget bukan kepalang, jantungku berdegup kencang, kuusap-usap dadaku untuk menenangkan hatiku.

Subbahaanallajii yusabbihurraq du bihamdihi walmalaa ikatu min khiipatihi

( Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepadaNya).7

***

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga di kampus, kulepas sweaterku yang basah kuyup, untung saja kemeja putihku tidak ikut basah, kukeringkan rambutku yang basah dengan handuk kecil yang sengaja kubawa dari rumah, kelas masih sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang hadir, mungkin karena cuaca yang kurang bersahabat, makanya sampai sekarang kampus masih sepi.

5. HR Bukhari dan Muslim

Tidak lama kemudian Ustadz Yusuf datang bersama istrinya, mereka berdua serasi sekali, betapa beruntungnya Ustadz Yusuf, sudah memiliki pasangan hidup, tatapanku tertuju pada mereka berdua, tiba-tiba saja pikiranku melayang, kenapa aku mulai berpikir untuk menikah, ah Anisa, bagaimana kabarmu di sana, aku jadi merindukanmu.

Para teman-teman yang lain satu persatu mulai berdatangan, mereka semua basah kuyup, bahkan mungkin ada yang basahnya lebih parah dariku, perlahan-lahan hujan mulai reda, hawa dingin menyelimuti tubuhku, suara burung-burung berkicau menghiasi bumi, mungkin para burung bahagia karena cuaca cerah kembali.

( Bersambung )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: