Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 4 )

Oleh : Irza Setiawan

Kehadiran Anisa

Jam Bekerku berbunyi, sudah jam setengah empat, meskipun hanya terlelap satu jam setengah, itu sudah cukup untuk meremajakan seluruh syaraf tubuhku, karena anggota tubuh juga mepunyai hak untuk beristirahat, setelah shalat tahajud, aku dan teman-temanku membaca Al-Quran bersama, sambil menanti azan subuh berkumandang, teman-teman sangat melestarikan kegiatan rutin pagi seperti ini, mekipun aku melihat mata Ujang terpejam-pejam menahan kantuk.

Setelah shalat subuh berjamaah di masjid, teman-teman merebahkan diri di tempat tidur masing-masing, suatu kegiatan rutin sehari-hari, selalu tidur setelah shalat subuh, biasanya terbangun pas jam delapan pagi, suatu kebiasaan yang kurang baik, tapi hal ini sudah begitu membudaya di tempat kami.

Aku merebahkan diriku di tempat tidur, baru sebentar memejamkan mata, bel berbunyi, ada tamu, begitu aku lihat, ternyata Anton dan Melati, mereka mengucapkan salam, lalu aku menjawab salam sambil menyuruh mereka masuk.

“ Andre, maaf mengganggu, ada yang perlu kita bicarakan “ Kata Anton.

“ Tentang apa Ton? “

“ Siska. “ Melati langsung menyahut.

“ Sebelum orang tua kami bangun, Siska harus segera keluar dari rumah kami, kebetulan orang tua kami tidak tahu menahu kalau Siska sebenarnya telah menginap di rumah kami. “ Sahut Anton.

“ Bukannya kami tidak peduli, di samping itu, Siska memang ingin pergi untuk sementara, ia kelihatan cemas dan ketakutan, ia takut kalau seandainya ayahnya tahu kalau dia berada di rumah kami. “ Sambung Melati.

“ Untuk itulah kami berdua kemari, mau tidak mau, Siska memang sudah harus pergi pagi ini, untuk kebaikan dirinya, dan untuk kebaikan seluruh para tetangga yang ada disini, jika sampai ayahnya tahu kalau Siska ada disini, kami takut Siska bakalan menjadi bulan-bulanan ayahnya. “ Lanjut Anton.

“ Kau benar Ton, Dia memang harus pergi ke suatu tempat yang aman dan tinggal di sana untuk beberapa waktu sampai keadaan membaik, hem… apa dia mempunyai keluarga, paman, bibi, atau nenek misalnya? “

“ Di sini, dia tidak memiliki siapa-siapa selain keluarga yang telah mengusirnya, rumah Neneknya ada di daerah Ambon, untuk menempuh jarak sejauh itu, dia harus menyeberangi pulau. “

“ Teman sekolahnya? “

“ Kami sudah memberikan saran itu kepada Siska, tapi Siska tidak mau, ayahnya bisa saja melacak keberadaannya jika dia tinggal di rumah teman sekolahnya, yang pasti, ia ingin pergi ke suatu tempat yang tidak bisa ditemukan keluarganya untuk sementara waktu. “

Aku berpikir sejenak.

“ Bagaimana kalau dengan sanak keluarga kalian? insya Allah tidak akan terlacak oleh keluarga Siska. “

Anton dan Melati terlihat kaget.

“ Andre, mohon mengertilah dengan posisi kami, sungguh kami ingin  menempatkan Siska di rumah kami atau di rumah keluarga kami, tapi hal itu tidak mungkin kami lakukan. “

“ Maksudmu? “

“ Kau tahu sendiri kan kalau ayah kami bekerja kepada Ayahnya Siska, kalau seandainya ayahnya Siska tahu bahwa keluarga kami menyembunyikan Siska, ayah kami bakalan terancam di pecat, penghasilan kami hanya lewat jalan itu satu-satunya, kalau ayah kami dipecat, kami tidak akan tahu bagaimana nasib kami selanjutnya. “

Kepalaku semakin bertambah pusing, aku bingung harus bagaimana.

“ Oh ya, aku ada ide. “ Tiba-tiba saja Melati mengejutkanku dan Anton.

“ Apa itu? “

“ Bagaimana kalau untuk sementara Siska tinggal di kontrakan rumah khusus putri, apakah kak Andre punya kenalan, atau teman wanita yang bisa membantu Siska. “

Aku berpikir sejenak.

“ Bagaimana kalau di rumah kos Rona ? “

“ Itu ide yang sangat bagus,  mungkin teman-teman putri di sana bisa membantu Siska, dan bisa mencarikan pemecahan masalah bersama yang lebih baik . “

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil Handphone-ku, lalu aku menghubungi Rona, lama tidak ada jawaban, aku hampir putus asa, tapi Alhamdulillah, Rona mengangkat telponnya juga.

“ Ada apa Dre, tumben nelpon pagi banget, aku masih mengantuk. “ Suara Rona terdengar lemas.

Lalu aku menyampaikan maksudku kenapa aku menghubunginya pagi-pagi sekali, aku minta tolong supaya Siska bisa tinggal di kosnya untuk sementara waktu, awalnya Rona menolak, karena dia takut tertimpa masalah, aku bingung harus bagaimana, tetapi setelah kuceritakan tentang penderitaan Siska. Rona jadi tertegun, dan menerima Siska untuk tinggal di tempatnya.

Kebetulan hari ini Rona siaran, Rona mengusulkan agar Siska bisa menemuinya di studio radio pagi ini, setelah itu mereka bisa pergi bersama menuju rumah kos Rona, jarak menuju studio cukup jauh, Siska bisa ikut angkutan umum untuk menuju kesana, kuceritakan semua penjelasan Rona kepada Anton dan Melati, mereka berdua menyetujuinya, waktu semakin mendesak, Siska harus segera berangkat sekarang juga, sebelum orang tua Anton atau ayahnya Siska bangun, lalu aku, Anton, dan Melati segera menemui Siska.

Siska terlihat menunduk dengan wajah sedih, matanya memerah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, waktu semakin mendesak, aku meyakinkan Siska bahwa dia akan merasa aman berada di tempat Rona, mereka semua adalah gadis-gadis yang baik hati, kujelaskan kepada Siska bahwa Rona akan menjemputnya di studio radio, Siska mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil meminta maaf karena telah merepotkan.

“ Biar cepat, kamu harus naik angkutan umum menuju kampus dekat kios Madyan di samping jalan pintas kecil, di situ ada Rona dan teman-temannya menunggumu, ingatlah bahwa Rona itu gadis berkaca mata, dan terimalah ini sebagai ongkos perjalanan. ”

Siska terlihat ragu.

“ Jangan ragu, kita ini sama-sama muslim, setiap muslim itu bersaudara, terimalah. “

Akhirnya Siska mau menerimanya dengan mata berlinang, bibirnya bergetar mengucapkan terima kasih, mungkin sebagai anak orang kaya, uang yang kuberikan kepada Siska tidak ada apa-apanya baginya, tapi semoga saja dia bisa menggunakan uang yang kuberikan dengan sebaik-baiknya, pagi itu juga Siska pergi dengan langkah gontai menemui Rona dan teman-teman.

***

Pukul Sembilan pagi, kubuka radio, suara Rona terdengar fasih memandu acaranya, Rona juga mengabarkan bahwa Siska berada di sampingnya dengan aman melalui handphone-ku, hatiku lega, penjelasan Rona kujelaskan kepada Anton dan Melati, mereka berdua terlihat bahagia.

Pukul dua belas siang, Rona menelponku, katanya ada seorang temannya yang tidak bisa menerima Siska, dia takut tertimpa masalah, dengan terpaksa aku pergi keluar untuk menemui mereka, matahari sudah mencapai puncaknya, ubun-ubun kepalaku terasa mendidih, keringat demi keringat berceceran.

Sesampainya di sana, kujelaskan semuanya kepada mereka tentang penderitaan Siska, tentang masalah Siska yang hamil di luar nikah, tentang keluarganya yang sangat membencinya, dan sebagainya, Alhamdulillah mereka semua bisa mengerti, dan menerima Siska dengan ikhlas.

Setelah di rumah Rona, aku melangkah pulang, azan zuhur berkumandang, kuputuskan dulu untuk shalat di mesjid, usai shalat aku pulang dengan langkah gontai, cuacanya panas sekali, rasanya aku mengalami dehidrasi, kepalaku sakit sekali, sesampainya di rumah, segera kurebahkan diriku di atas tempat tidurku, lalu aku terlelap.

Dalam keremangan cahaya gelap, aku melihat Siska sedang tertunduk sambil menangis, wajahnya sangat cantik bagai pualam, aku berusaha mendekatinya, begitu melihatku, Siska tersenyum sangat manis kepadaku, di pangkuannya terlihat seorang bayi mungil yang manis, bayi itu putih bersih bercahaya, lalu tiba-tiba saja aku terbangun, Astagfirullah, hanya mimpi, tapi kenapa aku bisa bermimpi di siang bolong seperti ini, rasanya aku sangat jarang bisa bermimpi di siang hari.

Segera kuhubungi Rona untuk menanyakan keadaan Siska, Rona mengabarkan bahwa Siska baik-baik saja, sekarang Siska sedang terlelap tidur dengan pulasnya, hatiku sedikit lega. Tiba-tiba saja Surya masuk ke kamarku, dia memintaku supaya aku menutup mata dengan kain yang diberikannya kepadaku sambil tersenyum, awalnya kutanyakan untuk apa, tapi dia tidak mau menjawabnya, dengan rasa penasaran, kuterima keinginannya, segera kututup mataku dengan kain, lalu Surya membimbing langkahku.

Dalam cahaya gelap, kurasakan Surya membimbing langkahku menuju ruang tamu, meskipun aku tidak bisa melihat, tapi aku yakin kalau disini ruang tamu.

“ Sekarang, buka penutup matamu, tapi jangan mengintip dulu. “

“ Iya, aku gak bakalan ngintip kok, tenang aja. “ Kataku sambil membuka penutup mata, setelah aku membuka mata secara perlahan, samar-samar terlihat seorang gadis sedang berdiri di depanku, setelah kuamati, jantungku terasa mau copot.

“ Anisa! “

Hanya kata itu yang bisa kuucapkan, Anisa, gadis yang berdiri di depanku tidak lain adalah Anisa, sesosok gadis cantik yang sangat kucintai, Anisa bisa dibilang sebagai cinta pertama bagiku, seorang bidadari yang selalu menghiasi hatiku, setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik, aku selalu memikirkannya, wajahnya sangat cantik bagai pualam, bibirnya tersenyum manis.

“ Selamat Ulang Tahun ya Dre. “

Ulang tahun, bibir tipis yang sangat indah itu mengatakan selamat ulang tahun, suaranya sangat merdu seperti suara kicau burung yang menyinari pagi hari, tanggal berapa hari ini, kucoba mengingat, oh iya, hari ini tanggal 24 nopember, hari kelahiranku, aku benar-benar tersanjung, Anisa jauh-jauh datang kesini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun, mulia sekali hatinya.

“ Ini, sebuah arloji khusus buat kamu, anggap saja sebagai hadiah ulang tahunmu. “ Ucap Anisa sambil mengenakan sebuah arloji ke tanganku, aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya ucapan terima kasih yang bisa kuberikan secara tulus kepada Anisa, teman-teman di kos menjabat tangan serta memelukku secara bergantian, mereka sangat senang melihatku bersama dengan Anisa.

Lalu aku menobrol dengan Anisa, dia menjelaskan bahwa sekolahnya sekarang sedang liburan, dia mengikuti Try Out untuk mengukur kemampuannya dalam menjalani Ujian Akhir Nasional nanti, dan Alhamdulillah, nilainya sangat memuaskan.

Anisa memang seorang gadis yang pandai, sejak sekolah SD sampai SMA, dia selalu juara kelas, gaya bicaranya pun sangat bersahaja, sabarlah bidadariku, seandainya Allah mengijinkan kita bersatu, insya Allah, aku akan berusaha menjadi pemimpin yang baik, yang selalu berusaha membimbingmu dan keturunan kita untuk selalu mengabdi dan mengagungkan kebesaran Allah SWT.

( Bersambung )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: