Dibalik Kerudung Cinta ( Bagian 1 )

Karya : Irza Setiawan

Gadis Itu Bernama Anisa

Bintang-bintang mulai kelam di tengah lipatan langit malam, cahayanya masih membiaskan berbagai warna yang dapat menyejukkan kalbu, kokok ayam mulai bersahut-sahutan memecah kesunyian gelapnya malam, baginda Rasulullah Shallallahu’ Alaihi Sallam bersabda, “ Apabila kamu mendengar kokok ayam, maka berdoalah kepada Allah dari kemurahan-Nya, karena sesungguhnya ayam tersebut baru saja melihat seorang malaikat.”1 Semoga saja hari ini bakalan lebih baik dari hari kemarin. Terdengar deru angin bergulung-gulung diluar sana, membuatku semakin bersemangat untuk membuka mata, setelah seharian menjelajahi alam mimpi yang indah, dunia maya yang penuh makna.

Pagi ini cuacanya sangat menyenangkan, suara adzan bergema memecah kesunyian kota, bisa juga disebut suara panggilan jalan menuju surga bagi umat islam, aku segera bangkit dari tempat tidurku, merapikan tempat tidurku yang sangat berantakan, lalu membuka jendela kamarku, setelah kubuka jendela kamar, terasa sekali kesejukan semilir angin menampar tubuhku, menggerogoti urat sarafku, dengan penuh semangat, aku melangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu, kulihat teman-teman kosku juga melakukan hal yang sama, di kos ini kami tinggal berlima, ada Aku, Surya, Iyan, Nai dan Ujang. Aku, Surya dan Nai adalah Mahasiswa sebuah Universitas di kota ini, sedangkan Ujang dan Iyan berstatus sebagai penyiar radio di sebuah perusahaan radio swasta, kami mengambil air wudhu secara bergantian, tetapi entah mengapa mereka lebih senang mendahulukan kepentinganku daripada kepentingan mereka, mereka sangat perhatian kepadaku, mungkin karena aku adalah orang termuda di antara mereka.

Panggilan Iqamat terdengar bersahut-sahutan di penjuru kota, panggilan yang sangat menenteramkan hati, jalan menuju surga masih terbuka lebar, kulangkahkan kaki, begitu aku mulai membuka pintu.

Wusss………..!!!!!

Dinginnya angin malam langsung menampar tubuhku, terus menggorogoti urat-urat syarafku , aku dan empat orang temanku pergi bersama  menuju  masjid  di  persimpangan  jalan , masjid  yang tidak begitu

1. HR. Al – Bukhari dan Muslim

jauh dari tempat kos kami, masjid yang begitu banyak menyimpan kenangan

selama aku menuntut ilmu di kota ini, dan jauh dari keluarga, kadang-kadang air mata ini menetes menggenang ayah bunda yang jauh disana, entah dengan cara apa aku bisa membalas pengorbanan mereka, ingin sekali aku berjumpa dengan mereka, tapi disini aku masih mempunyai tugas untuk menuntut ilmu, biar bagaimanapun, belajar itu ibadah.

Alhamdulillah, nikmat rasanya kalau sudah berada di dalam masjid, puluhan orang sudah berjajar rapi, kedamaian menghiasi hati begitu aku mulai mengangkat takbir, aku berkonsentrasi untuk meraih cinta Allah dan berusaha mencintainya, hatiku sangat sejuk dan tentram di saat mengucapkan ayat-ayat suci.

Usai shalat, kulihat fajar telah terbit, menerangi penjuru kota, sinarnya yang sangat indah benar-benar menghiasi hatiku, sambil menikmati indahnya pagi, aku berdoa.

Sami’a Saami’um bi hamdillaahi wa husni balaa’ihii alainaa. Robbanaa shoohibnaa wa afdhil’alainaa’ aa’idzam billaahi minan naar.

( Mendengarlah yang bisa mendengar akan pujian kepada Allah dan nikmat-Nya, serta cobaan-Nya yang baik kepada kita. Wahai Tuhan kami, temanilah kami dan berilah keutamaan kepada kami. Kami berlindung kepada Allah dari neraka. ) 2

Tak terasa aku sampai juga di rumah, kuambil sebuah mushaf di meja belajarku, sebuah mushaf saku pemberian teman baikku, Anisa, dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, kami sering berdiskusi tentang agama, saling mengingatkan untuk selalu mengabdi kepada Allah. Ketika berbicara tentang Anisa, tiba-tiba saja aku jadi teringat sesuatu, peristiwa dua tahun yang lalu mulai terngiang-ngiang di otakku, menelusuri pikiranku, dua tahun yang lalu, di saat aku sedang asik-asiknya membaca buku pelajaran, terdengar suara gaduh di samping rumahku, ada suara laki-laki yang mencaci maki dengan kata-kata yang sangat kotor, lalu terdengar suara piring pecah akibat dibanting dengan keras, di saat aku mencoba mengintip lewat jendela kamarku, kulihat seorang gadis sedang di seret ke tengah jalan oleh laki-laki berkumis lebat, usai menyeretnya, laki-laki itu pergi meninggalkan gadis itu begitu saja tanpa rasa  kasihan  sedikitpun,  gadis  itu

2. Doa ketika melihat fajar terbit saat di perjalanan.

menangis sambil memeluk tiang listrik seakan-akan sedang memeluk ibunya, suasana dinginnya malam dan derasnya hujan yang turun semakin membuatnya menderita, air matanya jatuh semakin deras, di pipinya terlihat memar-memar bekas pukulan, tapi tidak menutupi keindahan parasnya yang sangat cantik, tidak ada tetangga yang keluar rumah, mungkin karena sudah terlelap tidur, atau mereka tahu tapi tidak berani keluar rumah, karena takut berurusan dengan Ibung pamannya Anisa, lelaki yang menyeret gadis itu, Anisa, namamu yang indah tak seindah dengan nasibmu, pamanmu memang tidak punya belas kasihan, selalu menyiksamu setiap hari.

Semenjak ditinggal oleh orang tuanya keluar kota, Anisa memang menumpang tinggal di rumah pamannya, di depan ayah bundanya Anisa, pamannya memperlakukan Anisa bagaikan seorang putri yang sangat di hormati, tetapi di saat orang tuanya tidak ada, pamannya bagaikan serigala yang selalu menyiksa Anisa setiap hari tanpa kenal ampun, harga diri Anisa selalu di injak-injak.

Kulihat Anisa masih menangis di tengah jalan, derasnya air hujan yang turun semakin menyiksa batinnya, aku tidak tahan melihat penderitaannya, kuberanikan diri untuk keluar rumah dengan hati-hati, barangkali pamannya sudah terlelap tidur saat ini, kemudian aku keluar rumah untuk mendekatinya, aku ingin menyeka air matanya yang terus mengalir deras tanpa henti, lalu aku semakin dekat dengannya, dan duduk disampingnya, derasnya air hujan yang turun membasahi tubuh kami berdua.

“ Andre, apa yang kamu lakukan ? Kenapa kamu mendekatiku, kumohon pergilah, aku takut pamanku melihatmu, aku takut kamu berurusan dengannya, kumohon, pergilah, biarkan aku sendiri. “ Suara Anisa terdengar serak menahan isak tangis, suara yang benar-benar menyayat hati, tak terasa air mataku menetes, aku hanya diam sambil menyelimutinya dengan sweater-ku, lalu aku membimbingnya ke rumahku dengan hati-hati, aku takut perbuatanku terlihat pamannya, jalanan sangat sepi, mungkin orang-orang sudah asik terlelap tidur saat ini.

Anisa duduk di tepi ranjang kamarku, air matanya sudah mulai berhenti mengalir, tapi matanya masih tampak basah, mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, aku pergi ke dapur untuk mengambil kotak obat, lalu dengan hati-hati aku mengobati lukanya, Anisa memejamkan matanya menahan rasa perih, lalu aku membuatkan teh hangat, sekedar untuk menghangatkan tubuhnya.

Anisa menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya, pamannya meminta Anisa untuk melayani nafsu syahwatnya, pamannya tidak tahan melihat aura kecantikan Anisa, tetapi Anisa tetap bersikukuh mempertahankan diri, saking kesalnya, pamannya memakinya habis-habisan dan mengusirnya dari rumah.

Tapi itu peristiwa dulu, Alhamdulillah sekarang Anisa sudah berbahagia tinggal dengan limpahan kasih sayang ayah bundanya, sedangkan pamannya menghilang entah kemana, entah kenapa setelah peristiwa itu benih-benih cintaku timbul kepada Anisa, tapi kami berdua mempunyai komitmen yang sama, hanya melakukan pacaran setelah pernikahan, aku tidak tahu bagaimana perasaanya terhadapku, tapi satu hal yang kutahu, aku benar-benar mencintainya, hari-hariku selalu dihiasi dengan merindukannya.

Kubaca mushaf pemberian Anisa dengan penuh kekhusukan, jiwaku melayang-layang saat membaca ayat-ayat Allah.

***

Kulirik jam dinding yang bergantung di dinding kamarku, sudah pukul setengah tujuh pagi, kebetulan Clara yang tinggal bersebelahan dengan kosku hari ini bakalan liburan ke Kalimantan, tanah kelahiranku, katanya dia mau liburan ke rumah neneknya di Kalimantan, kebetulan rumah neneknya Clara tidak jauh dari rumahku dan rumah Anisa.

Begitu aku membuka pintu dan melangkah keluar, kulihat Clara sedang meyapu pekarangan rumah dan menyiram tanaman yang menghiasi halaman rumahnya, lalu aku mendekatinya.

“ Psst.. Psst.., hei Clara, pagi-pagi begini udah rajin banget nyiram tanaman.” Sapaku ramah kepada Clara, Clara terlihat kaget saat kusapa pagi-pagi begini, lalu dia membalikkan tubuhnya dan memandangku.

“ Oh Andre, biasalah Dre, tugas rutin setiap pagi “

“ Dengar kabar hari ini kamu bakalan pergi ke Kalimantan ya? ”

“ Insya Allah, rencananya aku mau ke rumah nenekku, sudah lama aku tidak bertemu beliau. “

“ Oh, aku bisa nitip salam buat keluargaku dan Anisa kan? “

“ Anisa, gadis pujaanmu itu ya? Ok deh, insya Allah nanti kusampaikan kalau kamu merindukannya, hehehe. “

“ Ah, kamu bisa saja, sudah ya, aku mau mandi dulu. “ Aku kembali masuk ke dalam rumah. “

“ Hei Andre, tunggu sebentar “ Clara memanggilku, aku urung melangkah.

“ Ada apa ? “

“ Pagi ini kampusmu bakalan mengadakan pengajian rutin kan? Boleh gak aku minta tolong beliin pulsa di toko ponsel seberang kampusmu. “

“ Oh…, boleh kok, entar aku beliin. “ Kataku sambil melangkah masuk rumah.

“ Eh, tunggu dulu. “ Clara kembali memanggilku.

“ Ada apa lagi? “

“ Uangnya. “

“ Kalau masalah uang gampang saja. “

“ Terima kasih ya. “

“ Sama-sama. “

Lalu aku masuk rumah, kulihat Iyan dan Surya sedang asik menyiapkan makanan, Nai sedang asik main play stasion di kamarnya, sedangkan Ujang sedang siaran pagi ini, jadi tidak ada di rumah, setelah makanan sudah siap, kami makan bersama sambil mendengarkan suara Ujang di Radio.

Sesudah makan, kami tidak langsung bubar, kami mengobrol dulu, di mulai dari Surya yang ngomongin tentang Moto GP yang dia tonton tadi malam di televisi, Surya kalau masalah Moto GP memang tidak mau ketinggalan, lalu aku mengambil hatinya dengan memuji Valentino Rossi, pembalap idolanya, dia terlihat senang, aku memang suka menyenangkan hati orang lain, kalau Iyan suka banget ngomongin tentang cewek, ni anak memang suka banget ngomongin cewek, dari dulu hal yang dia obrolin tentang cewek melulu, sedangkan Nai terlihat asik membaca koran yang kubeli kemarin.

***

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi, usai shalat dhuha aku bersiap-siap berangkat ke kampus, kumasukkan buku catatan ke dalam tas kecilku, meskipun butut, tas kecil ini sangat berarti bagiku, tas ini merupakan pemberian bunda tercinta di saat ulang tahunku dulu.

“ Duh, rapi amat Dre, pada mau kemana? “ Tiba-tiba saja Ujang menyapaku.

“ Oh, Kamu Jang, mau ke kampus, soalnya ada pengajian, eh gimana siarannya. ”

Alhamdulillah lancar, teman-teman yang lain mana, kok sepi amat. “

“ Surya dan Nai sudah ke kampus lebih dulu menghadiri pengajian, sedangkan Iyan pergi ke pasar, katanya sih mau beli beras, soalnya persediaan beras di kos kita sudah hampir habis, udah ya.. aku mau berangkat dulu, jaga rumah baik-baik. Assalamualaikum.

Waalaikum salam”

Kuambil topi yang bergantung di sudut dinding kamarku, lalu aku melangkah keluar rumah.

( Bersambung )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: