Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 3 )

Oleh : Irza Setiawan

Restoran Mewah

“ Andre, bangun Dre! Ada orang mencarimu. “

Suara Nai yang membangunkanku dari bibit-bibit mimpi yang indah segera menyadarkanku, cuma satu jam aku tidur, meregangkan otot-otot syaraf setelah kuliah, dan lembur mengerjakan makalah.

“ Siapa sih? “ Tanyaku sambil mengeliat sambil mengucek-ngucek mata.

Gak tau? Katanya ada perlu sama kamu, penting banget.”

Dengan mengusir rasa malas, aku segera melangkah ke ruang tamu, di sana kulihat seorang bapak berjaket biru sedang duduk sambil menikmati teh hangat buatan Nai, setelah kuamati, ternyata pak Mahmud, beliau tersenyum kepadaku.

“ Eh pak Mahmud, tumben datang kesini, apa kabar? “ Kataku sambil menjabat tangan beliau.

Alhamdulillah, kabar bapak baik-baik saja, maaf Dre, bapak mengganggu tidurmu. “

“ Ah…, gak papa kok, malah saya senang bapak sudi berkunjung ke tempat kami yang sangat sederhana ini. “

“ Meskipun sederhana, tapi cukup bersih rapi dan nyaman, eh masih ingat ama si Aisha? “

“ Aisha! Gadis bercadar yang kecelakaan empat hari yang lalu, tentu saja saya masih ingat, bagaimana keadaannya sekarang? “

“ Dia sudah pulang ke rumah, keadaannya sudah mulai pulih kembali, meskipun belum pulih sepenuhnya. “

“ Oh.., Alhamdulillah, mudah-mudahan saja dia cepat sembuh. “

“ Amin…,Dre, kedatangan bapak kemari adalah untuk memperkenalkanmu kepada keluarga Aisha, kita bisa kesana sekarang. “

“ Kemana pak? “

“ Ke rumah Aisha, bisa gak? “

“ Bisa, sebentar ya saya mandi dulu. “

Kemudian aku mandi, kebetulan kos lagi kosong, Nai entah pergi kemana, tu anak memang ajaib banget, sebentar ada, sebentar menghilang, kulihat jam di dinding kamarku, sudah hampir pukul 3, biasanya Ujang pulang siaran jam 3, segera kuambil handphone-ku, kemudian aku mengirim SMS.

“ Jang, kunci kos kutitipin sama bundanya Clara, kebetulan kos lagi kosong “

Ujang membalas.

“ Ok, makasih atas informasinya. “

Lalu aku berangkat bersama pak Mahmud dengan menggunakan mobil taxi beliau, dan akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang sangat mewah, halaman rumahnya sangat luas, aku sempat berpikir, ini rumah atau istana, rumah kok sangat besar sekali. Setelah itu aku masuk dengan terlebih dahulu mengucapkan salam, yang ada di dalam serentak menjawab salam, disana sudah banyak sekali orang berkumpul, termasuk Aisha, Aisha terlihat sangat anggun dan cantik dengan jilbab dan cadar birunya, matanya yang lentik bergerak-gerak menatapku, kelihatannya kondisi kesehatannya sudah mulai pulih kembali.

“ Diakah pemuda itu? “ Seorang lelaki setengah baya yang duduk di samping Aisha berkata sambil memandangku.

“ Benar, dialah orangnya. “ Pak Mahmud menjawab.

Aku yang merasa menjadi obyek pembicaraan menjadi bingung, lalu aku mulai bertanya.

“ Kalian membicarakan saya? “

“ Iya nak Andre, seperti yang saya bilang di kos kamu tadi, ada orang yang punya keperluan denganmu, ceritanya begini, bapak ini adalah pak Ali, beliau adalah ayah dari Aisha, beliau ingin berterima kasih denganmu karena telah menyelamatkan Aisha, putri tunggalnya. “ Pak Mahmud menjelaskan.

“ Benar nak Andre, saya sangat berterima kasih kepadamu karena telah menyelamatkan Aisha, seperti yang pak Mahmud jelaskan tadi, Aisha adalah puteri saya satu-satunya, Aisha sangat berharga bagi saya, sebagai rasa terima kasih, saya ingin memberikan sesuatu kepadamu, nilainya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan keselamatan puteri saya. “

Aku tak bisa berkata apa-apa, entah kenapa mulutku terkunci rapat, namun pak Ali berdiri dan menyerahkan sebuah amplop kepadaku, betapa kagetnya aku setelah melihat isi amlop yang ada di tanganku, jantungku berdebar kencang, isi amlop tersebut tidak lain adalah uang senilai puluhan juta rupiah, mendadak tanganku jadi kaku.

“ Sebentar pak Ali, kemaren itu saya hanya menunaikan amanah karena Allah, itu saja, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang muslim, jadi saya rasa, tidak semestinya saya menerima yang berlebih, tidak perlu berterima kasih kepada suatu kewajiban, bersyukurlah kepada Allah. “

“ Iya, kau benar. Tapi terimalah tanda terima kasih saya kepadamu nak. “

“ Maaf, janganlah bapak memaksa saya untuk menerima sesuatu sebagai imbalan kewajiban yang harus saya tunaikan, saya melakukannya ikhlas karena Allah, saya terima ungkapan terima kasihnya, tapi tidak untuk sesuatu yang hendak bapak berikan kepada saya. “

Pak Ali memandang pak Mahmud, pak Mahmud mengisyaratkan dengan gelengan kepala supaya tidak memaksa.

“ Baiklah aku tidak memaksa, tapi maukah kau menerima undanganku malam ini untuk makan malam bersama. “

Aku diam, aku tidak bisa berkata apa-apa.

“ Ayolah, untuk hal ini toleran sedikit lah “ Ucap pak Mahmud kepadaku.

“ Baiklah, dengan senang hati. “ Jawabku mantap.

Pak Ali terlihat senang sekali, kemudian kami semua berbincang-bincang, pak Ali menjelaskan bahwa Aisha sedang belajar menyetir mobil, mungkin karena belum terlalu lihai, makanya kemarin kecelakaan, pak Ali lalu menceritakan kehidupan Aisha masa kecil, Aisha selalu menjerit supaya ayahnya tidak meneruskan, tapi pak Ali terus bercerita, katanya dulu Aisha manja banget, pokoknya segala keinginannya selalu harus di penuhi, kalau tidak dia pasti bakalan mengeluarkan jurus andalannya, menangis dengan keras, hal ini juga di perkuat oleh ibunya Aisha, aku hanya diam sambil sesekali bertanya, benarkah? Lalu Aisha menjawab, ah ayah bohong! Sambil di barengi dengan teman-teman yang lain dengan tawa terpingkal-pingkal.

Setelah capek mengobrol, lalu aku duduk di halaman rumah Aisha, halaman rumahnya sangat luas, dan ditanami dengan berbagai tanaman, indah sekali, lalu perlahan-lahan aku mendengar suara langkah kaki dari belakang, setelah kulihat ternyata Aisha, dia duduk disampingku, kami berdua sama-sama diam, menikmati indahnya taman di depan mata.

“ Bagaimana keadaanmu, sudah baikan? “ Kataku memulai pembicaraan.

Alhamdulillah,  keadaanku sudah mulai pulih kembali, terima kasih ya Dre, kemaren kamu sudah menyelamatkanku. “

“ Sama-sama. “

Gimana kuliahmu, lancar? “

“ Ya begitulah, seperti anak kuliahan yang lain, kadang-kadang kalau banyak tugas, pasti bakalan lembur ngerjain tugas. “

Aku dan Aisha mulai berbincang-bincang, dia selalu bertanya tentangku, bagaimana masa kecilku? Bagaimana kehidupan pedesaan di tempat kelahiranku? Bagaimana rumah kosku? Dan sebagainya, dan entah kenapa aku dan Aisha cepat akrab, kami berdua seperti sudah lama saling mengenal, kadang-kadang kami saling tertawa terpingkal-pingkal menceritakan tentang kehidupan kami berdua.

Waktu terus berlalu, matahari sudah mulai tenggelam, entah kenapa waktu seakan tidak terasa ketika aku mengobrol dengan Aisha, aku pamit dengan Aisha dan keluarganya sambil mengucapkan salam, mereka serentak menjawab salamku, setelah melangkah menuju halaman rumah Aisha, tiba-tiba saja ibu Mina, tantenya Aisha memanggilku, beliau mengajakku ke suatu tempat, yang pasti berusaha menjauhi Aisha.

“ Nak Andre, kamu tau kan malam ini bakalan makan di sebuah restoran mewah. “

“ Iya, memangnya kenapa bu? “

“ Pakaian apa yang bakalan kamu kenakan malam nanti. “

Kupandangi tubuhku, aku hanya memakai kemeja putih yang sangat sederhana, aku baru sadar, pasti restoran mewah yang dimaksud adalah restoran yang biasanya dipakai oleh orang-orang kaya, tentunya pakaian mereka juga tidak sederhana, aku mulai bingung, bagaimana ini? Masa aku pergi hanya menggunakan kemeja sederhana seperti ini, rasanya aku seperti bakalan pergi ke kandang singa, aku hanya bisa tersenyum kepada ibu Mina, ibu Mina membalas senyumku.

“ Sudah kuduga, ayo ikut ibu. “ Ucap ibu Mina kepadaku, aku hanya bisa menurut, ibu Mina membawaku ke sebuah ruangan yang cukup luas, ruangannya bercat biru langit dengan dihiasi bermacam-macam lampu hias, banyak sekali cermin-cermin besar terpajang di dinding ruangan, dan beberapa lemari pakaian.

“ Coba kau pakai ini. “ Ucap ibu Mina sambil memberikanku sebuah jas mengkilap, kemeja mewah, dan sebuah dasi kupu-kupu berwarna hitam, awalnya aku sempat ragu, bagaimana tidak ragu, aku yang terbiasa mengenakan pakaian sederhana, di suruh memakai pakaian yang mewah seperti ini, ibu Mina terus mendesakku, akhirnya aku luluh juga, aku segera pergi ke sebuah ruangan untuk mengenakan kemeja putih, celana dan dasi kupu-kupu pemberian ibu Mina, setelah itu, tinggal jas yang belum kukenakan.

Setelah semua dirasa siap, aku memandangi diriku dari kepala sampai kaki lewat cermin besar yang bergantung di dinding, betapa kagetnya aku setelah memandang diriku sendiri, aku seakan-akan tidak percaya, penampilanku bagaikan seorang pengusaha muda yang kaya raya, jas yang kukenakan sangat mencolok, aku merasa seperti orang kaya betulan, mungkin orang-orang yang memandangku tidak bakalan sadar kalau aku hanyalah seorang mahasiswa biasa.

“ Sudah kuduga, ukuranmu pas dengan anakku. “ Ibu Mina tersenyum padaku, aku membalas senyumnya.

“Cocok gak bu? “

“ Cocok banget, kamu terlihat ganteng sekali saat memakai jas itu, mungkin Aisha bakalan kaget ketika melihatmu nanti. “

“ He he.., bu Mina bisa aja, eh ngomong-ngomong anak ibu mana? Kok gak kelihatan. “

Mendadak wajah bu Mina yang tadinya tersenyum berubah menjdi murung, matanya memerah dan berair, kemudian air matanya mulai menetes sedikit demi sedikit, aku bingung melihat perubahan sikap bu Mina, apa aku salah bicara? atau ada perkataanku yang menyinggung perasaan bu Mina, hatiku mulai tidak enak.

“ Maaf bu, apakah perkataanku salah ? “

“ Tidak, ibu hanya rindu sama anak ibu. “ Kata Bu Mina sesunggukan.

Bu Mina kemudian menceritakan tentang  Yongky anaknya, kurang lebih satu tahun yang lalu, di tengah-tengah derasnya hujan mengguyur bumi,  dan gelapnya malam menyelimuti langit, Yongky mengendarai mobilnya dengan santai, jalanan sangat sepi, entah kenapa? Mungkin karena malam sudah terlalu larut, dan penduduk sudah pada terlelap pada mimpi indahnya, makanya jalanan terlalu sepi.

Tiba-tiba saja, ada seorang preman yang mabuk mencegat mobilnya, Yongky tidak bisa berbuat apa-apa selain menghentikan mobilnya, preman itu menghalangi jalan dengan tubuhnya, apabila Yongky tidak menghentikan mobilnya, maka otomatis dia akan menabrak preman itu, begitu Yongky menghentikan mobil, preman itu meminta Yongky untuk menyerahkan segala harta bendanya dengan ancaman sebilah pisau, awalnya Yongky bisa mempertahankan diri, tapi begitu preman berhasil menusuk tubuhnya, keadaan Yongky mulai lemah, kemeja putihnya di penuhi dengan tetesan darah, Yongky berhasil melarikan diri dengan mobilnya, dia mempercepat laju mobilnya, tetapi karena darahnya terus menetes dan mengalir, membasahi kemeja putihnya, dan penglihatannya sedikit demi sedikit mulai berkurang, akhirnya mobilnya tak terkendali dan menabrak sebuah pohon besar, napasnya Yongky terhenti seketika.

Besak paginya, keluarga Aisha, termasuk bu Mina sebagai ibu kandung Yongky sangat gelisah, karena Yongky sampai sekarang belum pulang ke rumah, bu Mina mencoba menghubungi handphone-nya, tetapi tiada jawaban, karena hari sudah terlalu siang, dan Yongky belum pulang juga, akhirnya Pak Ali, Aisha, dan bu Mina pergi mencari Yongky, jalan demi jalan mereka lalui, tetapi Yongky belum di temukan juga.

Hari sudah menjelang sore, mereka terus melakukan pencarian, tapi hasilnya nihil, akhirnya mereka sepakat untuk pulang, dalam perjalanan pulang, Aisha melihat di suatu sisi jalan, orang-orang ramai berkumpul, lalu mereka sepakat menghentikan mobil untuk mencari tahu, kenapa jalan yang sempit itu ramai dengan orang-orang.

Begitu mereka mendekati, dan berusaha masuk dalam keramaian orang-orang yang mengerumuni tempat itu, terlihatlah sebuah mobil BMW yang hancur berantakan karena menabrak sebuah pohon besar, begitu kagetnya mereka ketika mengetahui bahwa mobil itu tidak lain adalah mobilnya Yongky, dan Yongky di temukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi.

Hatiku perih ketika mendengar cerita bu Mina, aku berusaha menghibur bu Mina semampuku, semoga saja Yongky di terima di sisiNya.

***

Akhirnya, aku, pak Mahmud, dan bu Mina sampai juga di sebuah restoran yang lumayan mewah, bu Mina memarkirkan mobilnya, rasanya aku tidak biasa memakai pakaian secanggih ini, penampilan pah Mahmud pun cukup menawan, dengan sebuah kaos katun hijau dan rompi hijau tua, di sini banyak sekali orang-orang kaya, pakaian mereka pun sangat bagus, aku mulai sedikit bimbang, tapi bu Mina memberikan semangat padaku.

“ Tenanglah, dengan penampilanmu seperti ini, kamu seperti bagian dari mereka. “

Akhirnya kami turun dari mobil, bu Mina dan pak Mahmud menyuruhku masuk, tapi aku ingin santai di halaman restoran dulu, nanti menyusul, pak Mahmud dan bu Mina memakluminya, lalu mereka masuk lebih dulu, aku memandangi halaman parkir restoran, mungkin karena restoran ini hanya di khususkan untuk orang-orang kaya, makanya banyak sekali berjejer mobil-mobil mewah, kebersihan halaman restoran pun sangat terjaga, rombongan Aisha belum datang, lalu aku memasuki restoran.

“ Selamat malam tuan. “ Ucap penjaga pintu sambil tersenyum ramah kepadaku, akupun membalas senyumnya, baru pertama kali ini aku di panggil tuan oleh seseorang, restoran ini terlihat sangat luas, kebersihannya sangat terjaga, lalu aku menuruni anak tangga,di dinding sebelah kanan, terpampang sebuah jam dinding raksasa, dengan ukiran kayu yang sangat luar biasa, lampu-lampu putih menghiasi ruangan, banyak sekali orang-orang yang kaya raya berjalan-jalan di restoran ini, di sebelah kiri, terlihat seorang pemuda memakai jas mengkilat sedang memainkan pianonya, menghibur para pengunjung yang datang, aku harus berusaha supaya tidak terlihat gagap di depan semua orang.

Tiba-tiba saja pak Ali bersama istrinya lewat di sampingku, mereka tidak mengenaliku, entah kenapa? Mungkin karena penampilanku beda dari biasanya.

Aku berusaha belajar supaya terlihat seperti bagian dari mereka semua, pertama-tama, kupandangi seorang lelaki berkumis lebat, sambil kuteliti,  cara berjalannya dengan dada sedikit di busungkan, kepala sedikit terangkat, tangan kanan melingkar ke belakang pinggang, lalu berjalan perlahan.

Setelah kuamati, aku berusaha mempelajarinya, dadaku sedikit kubusungkan, kepalaku sedikit terangkat, tangan kanan melingkar ke belakang pinggang, lalu aku mulai melangkah sedikit demi sedikit, ketika aku menoleh kesamping, kulihat Aisha tertawa melihat tingkahku, Aisha terlihat anggun sekali hari ini, benar-benar cantik,dengan jubah putih dan cadar putih yang menutupi wajahnya yang bersih, kelihatannya dia sedang tersenyum padaku, aku bisa mengetahuinya dari gerak repleks wajah bagian bawah matanya,bulu matanya yang lentik bergerak, lalu perlahan-lahan dia mendekatiku.

“ Hari ini kamu ganteng banget Dre, penampilanmu luar biasa, akupun awalnya hampir tidak mengenalimu, mungkin orang-orang disini berpikir, kau adalah pengusaha muda ganteng yang kaya raya. “

Ucapan Aisha terlalu berlebih-lebihan, aku tidak bisa apa-apa selain tersenyum manis kepadanya.

“ Mau mengantarku menemui ayah ? “ Aisha meminta padaku dengan manja, belum sempat aku menjawab, dia sudah membimbingku, menemui ayahnya, di sana semuanya sudah berkumpul, lalu aku dan Aisha bergabung dengan mereka.

“ Andre??? “ Pak Ali kaget melihat penampilanku, beliau sama sekali tidak mengenaliku, lalu bu Mina menjelaskan tentang semuanya.

Setelah memesan makanan, kami berbincang-bincang sambil sesekali tertawa kecil, kulihat meja makan, piring, garpu, pisau, sendok, dan sapu tangan tersusun dengan rapi.

“ Jadi, bagaimana keadaan rumah kosmu Dre? “ Ibunya Aisha bertanya kepadaku.

“ Lumayan bu, hampir setiap hari ditemani oleh tikus. “

Semuanya tertawa terpingkal-pingkal.

“ Andre, coba kamu ceritakan, bagaimana perjalanan hidupmu, supaya kami lebih mengenalmu. “ Pak Ali bertanya kepadaku, sepertinya keluarga Aisha benar-benar ingin mengenalku dengan baik, aku menarik napas.

“ Saya tinggal di Amuntai, sebuah kota di kawasan Kalimantan Selatan, letaknya sekitar kurang lebih 200 km dari Banjarmasin, saya tinggal secara berpindah-pindah tempat, dan akhirnya menetap di kos, yang pasti saya suka sekali keluar rumah, dan saya tak tahu, kejadian apa yang bakalan terjadi, kemaren saya makan malam di kamar berdiameter 4×4, dan sekarang saya makan malam di sebuah restoran mewah bersama orang-orang yang sangat luar biasa, yang pasti, hidup ini anugerah yang di berikan Allah SWT, tinggal cara kita mengisinya dengan sebaik-baiknya.

“ Kata yang sangat bijak Dre. “ Kata ibu Mina tersenyum kepadaku.

Tiba-tiba saja teman pak Ali dari Belanda menghampiri kami, nama beliau pak Robert, beliau ada urusan penting di Indonesia, dan kebetulan sekali berjumpa dengan keluarga pak Ali, pak Ali menyambutnya dengan ramah, ketika memandangku, pak Robert terlihat bingung.

“ Siapa pemuda itu, suami Aisha ya? “ Tanya Pak Robert dengan bahasa Indonesia dengan logat bulenya yang kental, aku benar-benar jadi salah tingkah, Aisha tertunduk, bulu matanya yang lentik bergerak-gerak.

“ Oh, itu Andre temannya Aisha. “

***

Waktu terus berlalu, malam semakin larut, aku pulang dengan penuh rasa syukur, tidak seperti biasanya, aku bisa makan enak malam ini, waktunya berbaris dengan anak-anak lain, menjadi sosok pemuda yang sederhana, kubawakan beberapa makanan untuk teman-teman di kos, mereka semua sangat senang, dan makan dengan lahapnya, aku duduk menemani Ujang, Iyan, Surya, dan Nai yang sedang asik menyantap makan malam sambil sesekali bercanda bersama.

Di saat-saat asiknya bercanda, tiba-tiba kami mendengar suara ribut, seorang lelaki dan perempuan memaki habis-habisan dengan perkataan kotor yang tidak pantas untuk di dengar, sayup-sayup terdengar suara perempuan menangis, asal suara terdengar dari sebelah kanan, tepat di samping rumah Clara, begitu kami mengintip dari jendela kamar untuk menyelidiki, kami melihat Siska menagis sambil memeluk lututnya sendiri, Siska di usir dari rumah, baru-baru ini aku sempat mendengar kabar, bahwa masalah Siska yang hamil di luar nikah ketahuan oleh orang tuanya, hatiku meringis melihat penderitaannya.

“ Dasar pelacur Sial! Aku tidak mau mempunyai anak pelacur sepertimu, kami bukan keluargamu! “ Sengit ayahnya Siska kepada Siska.

Siska menangis sesunggukan di gerbang rumahnya sendiri, aku paling tidak tahan kalau melihat perempuan menangis, teman-teman kos bertanya, apa yang harus dilakukan untuk menolong Siska. Aku terdiam, aku masih bingung, belum menemukan jawaban, aku masuk ke kamar, perlahan-lahan kubuka jendela, angin malam semilir masuk menghiasi tubuhku, kulihat Siska masih terisak-isak menahan tangis, aku dan teman-teman ingin sekali menolong Siska, meskipun dengan sepatah kata untuk menghibur hatinya, atau untuk memberitahukan bahwa sebenarnya ada yang masih peduli padanya,  tapi bagaimana caranya? Apalagi ayahnya Siska bisa melakukan apa saja tanpa pertimbangan akal sehatnya.

Tiba-tiba saja handphone-ku berbunyi, ada Sms masuk, dari Anton, teman masa kecil Siska, kubuka.

“ Andre, apa kamu mendengar suara tangis di samping kos mu? “

Kubalas.

“ Ya, aku mendengarnya, aku melihat Siska sedang menangis lewat jendela kamarku. “

Anton membalas.

“ Apa kamu tidak kasihan padanya ? Maukah kau menolongnya, aku ingin sekali menolongnya, tapi tidak bisa. “

Kubalas.

“ Kenapa? “

Anton membalas.

“ Kamu tahu sendiri kan, keluarga Siska sangat mengenaliku, aku takut berurusan dengan mereka, bisakah kamu mendekatinya, paling tidak menyeka air matanya, Kumohon. “

Kubalas.

“ Baiklah, tapi kau harus mengawasi keadaan, siapa tahu keluarga mereka melihatku. “

Anton membalas.

“ Baiklah, tapi biasanya sekarang ayahnya Siska sudah terlelap tidur, beliau seorang pekerja keras, siapa tahu beliau sudah tidur karena kelelahan. “

Aku juga meminta kepada teman-teman kos supaya mengawasi keadaan, Bismillah, perlahan-lahan aku keluar rumah, benar saja dugaanku, sebenarnya banyak tetangga yang terbangun karena suara teriakan ayahnya Siska, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa, mereka takut berurusan dengan ayahnya Siska, aku berjalan mendekati Siska, suasana aman, lalu aku duduk di sampingnya, Siska diam seribu bahasa, air matanya terus menetes, aku berusaha menenangkan dirinya, tapi tiba-tiba saja dia memeluk tubuhku sambil menangis tersedu-sedu, aku ingat, dia bukan mahramku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, rasanya aku ingin melepas pelukannya, tapi aku tidak bisa, mungkin hanya aku yang bisa menjadi tempat sandaran rasa gundahnya, aku hanya bisa menghibur sambil menenangkan hatinya.

Handphone-ku berbunyi, aku berusaha mengambil handphone-ku yang ada di saku celana sambil menahan pelukan Siska, kemejaku basah dengan air matanya, ada SMS dari Anton.

“ Bagaimana keadaannya ? “

Lalu aku dan Anton berdialog lewat SMS.

“ Pipi Siska agak memar-memar, mungkin karena bekas pukulan, sekarang aku harus bagaimana? “

“ Tak bisakah kamu membawanya ke tempatmu, cuacanya dingin banget, kasian Siska. “

“ Itu tidak mungkin, kamu tahu sendiri kalau tempatku khusus buat laki-laki, aku takut akan menimbulkan fitnah kalau seandainya Siska kubawa ke tempatku. Bagaimana kalau untuk malam ini, Siska tidur dengan adikmu, si Melati, aku yakin Melati bisa menghiburnya.

Lama tidak ada jawaban, setelah lima menit, SMS Anton masuk.

“ Baiklah, kata Melati dia sangat senang kalau Siska mau menemaninya malam ini.”

Tanpa pikir panjang, aku membawa Siska menuju rumah Anton, kami masuk lewat jalan belakang, jalan yang langsung menuju kamar Melati, adiknya Anton, aku yakin, Melati bisa menghiburnya, lagipula, Melati sudah lama akrab dengan Siska, meskipun Melati sedikit lebih muda darinya.

Lalu aku pamit pulang dengan Siska, melati, dan Anton. Siska mengucapkan terima kasih berkali-kali kepadaku sambil menangis, hatiku miris, tanpa terasa, air mataku mulai menetes, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

Sesampainya di rumah, suasana sangat sepi, teman-teman sudah terlelap di kamarnya masing-masing, mungkin karena kekenyangan, kulihat jam dinding, sudah hampir menunjukkan pukul dua malam, kupasang beker, aku ingin melelapkan mataku, walau hanya sebentar saja.

( Bersambung )

One Response

  1. assalamu alaikum..

    hmnnn….

    ceritanya seru….

    moga2 nanti da judul lain lagi yah…

    Q tunggu…heeee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: