Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 2 )

Oleh : Irza Setiawan

Akhwat Bercadar Putih

Matahari mulai menggerogoti kulitku, keringat demi keringat berceceran jatuh ke bumi, rasanya topi yang bertengger di kepalaku tidak cukup untuk menahan ganasnya sinar matahari, udara hawa panas membuat tubuhku semakin gerah, kuusap wajahku dengan sapu tangan, hitam, penuh dengan debu, padatnya asap kendaraan semakin memperkeruh suasana, seandainya aku tidak ingat dengan tanggung jawabku sebagai seorang mahasiswa yang mencari ilmu, seandainya tidak ingat bahwa diriku dilepas orang tua dengan linangan air mata, tentu lebih enak berada di rumah, merebahkan diri di kasur yang empuk sambil menyalakan kipas angin yang sejuk, lalu terbuai dengan belaian lembut mimpi-mimpi yang indah, oh…alangkah indahnya.

Warung kecil di pinggir jalan mempengaruhi pikiranku untuk singgah, kulihat arlojiku, masih banyak waktu, tidak ada salahnya jika aku singgah sebentar untuk menghilangkan keletihan, rasanya segelas air sudah cukup untuk mengobati rasa lelahku, lalu kuteguk kesegaran es teh yang mengaliri kerongkonganku yang kering, terasa sekali kesejukan menggetarkan seluruh syaraf-syaraf di tubuhku, semangatku rasanya mulai kembali, setelah membayar es teh tersebut, aku melanjutkan perjalanan.

Tak terasa akhirnya aku sampai juga di kampus, sebelum masuk kampus, aku mampir dulu sebentar di toko ponsel Caim yang terletak tidak jauh dari kampusku, kurang lebih hanya berjarak sekitar 100 meter, setelah sampai di toko ponsel, kulihat Caim sedang asik mendengarkan lagu lewat  I-Pod nya sambil membaca majalah, lalu aku mengucapkan salam.

Assalamualaikum “.

Tidak ada jawaban, Caim masih larut dalam alunan lagu, kedua telinganya tertutup headphone, matanya terus saja membaca majalah, malah sesekali dia bernyanyi karena larut dalam alunan lagu, aku bingung harus bagaimana, lalu perlahan-lahan kuhampiri dia, dan kutepuk pundaknya.

“ Hei Caim, bangun sudah pagi!“

Caim kaget bukan kepalang

“ Oh.., kamu Dre, maaf tadi telingaku tertutup headphone, makanya gak dengar, ada apa ya? “

“ Tadi Clara nitip beli pulsa ke aku, tolong isikan pulsanya 50 ribu. “

“ Oke, eh ngomong-ngomong Clara hari ini liburan ke rumah neneknya di Kalimantan kan? “

“ Iya, rumah neneknya berdekatan dengan rumahku. “

“ Oh…, pasti dekat juga dengan rumah Anisa cewekmu itu kan ? “ Tanya Caim sambil tersenyum menggoda, aku hanya bisa membalas senyumannya dengan senyuman, ini anak memang suka sekali bercanda.

Di kampus, teman-teman sudah berkumpul, pengajian pun dimulai, seperti biasa, kelas laki-laki dan perempuan di pisah, untuk laki-laki di bimbing oleh ustadz Yusuf, sedangkan perempuan di bimbing oleh ustadzah Maulidah, istri ustadz Yusuf, tema hari ini adalah masalah pergaulan antara laki-laki dengan perempuan, Ustadz Yusuf merasa khawatir dengan pergaulan para anak muda zaman sekarang yang sudah sangat kelewat batas, beliau memberikan materi sambil memutarkan film tentang bahaya pergaulan bebas.

Usai pengajian, aku tidak langsung pulang, ustadz Yusuf mengajakku mengobrol tentang masalah valentine, bulan Februari yang penuh cinta, pada hari valentine, pergaulan antara laki-laki dan perempuan benar-benar sudah kelewat batas, beliau memberikan nasehat yang bisa menyejukkan jiwaku, sedangkan Surya dan Nai pergi ke studio radio, karena hari ini Rona siaran, gadis cantik berkaca mata ini memang sangat lihai dalam urusan bercakap-cakap, di tambah lagi ciri khas suaranya yang tidak sampai mengucapkan huruf ‘R’, tetapi hal itu tidak mengurangi kehebatannya dalam berbicara.

Karena Surya dan Nai berada di studio, makanya untuk hari ini aku pulang sendiri, tidak seperti hari biasanya, kami selalu pulang bersama, aku sengaja mengambil jalan pintas yang sepi untuk menghindari keramaian, jalanan di sini benar-benar sepi, hanya pohon-pohon, suara kicau burung, dan deru angin yang menemaniku, rasanya aku seperti berada di hutan belantara saja, hidup sendirian, tanpa ada seorangpun yang menemani.

Tiba-tiba telingaku menangkap suara mobil dari belakang, semakin lama suara mobil ini semakin dekat, kupikir-pikir, sangat jarang ada mobil yang melintas di jalan ini, pemandangan ini menjadi pemandangan yang cukup aneh bagiku, perlahan-lahan mobil itu melewatiku, andai saja mobil itu mau berhenti dan memberikan tumpangan kepadaku, pasti aku bakalan senang sekali, mobil terus melaju di depanku, tapi kelihatannya mobil ini jalannya tidak seimbang, entah karena mesin mobilnya yang amburadul, atau karena sopirnya yang masih amatiran, semakin lama mobil itu semakin tak terkendalikan, dan….

“ Bruuuuuaaaaakkkkkkkkk!!!!!!!! “

“ Allahu Akbar. “

Hanya nama Allah yang dapat kukatakan ketika melihat peristiwa tragis di depan mataku, kulihat mobil itu menabrak sebuah pohon besar, badan mobil hancur berantakan, kaca  mobil pecah berhamburan, jalanan sangat sepi, hanya aku sendiri yang melihat kejadian ini, aku bingung harus berbuat apa, tidak ada orang lain yang bisa membantunya, dengan hati-hati dan perasaan was-was, aku mendekati mobil itu, begitu kudekati, terlihat seorang gadis bercadar putih dengan jilbab lebar pingsan dengan tetesan darah di kepalanya, kuamati seluruh isi mobil, tidak ada orang lain lagi, hanya ada gadis ini, aku harus mencari pertolongan, tapi tidak ada orang lain di sini, aku berusaha mencari identitas dirinya, tidak ada kartu pengenal seperti KTP ataupun SIM, tapi alhamdulillah aku menemukan buku kecil bertuliskan biodata dirinya, disitu tertulis nama Aisha Az Zahra, alamat dan telpon rumahnya, tapi hal yang harus dilakukan terlebih dahulu, adalah membawanya ke rumah sakit terdekat, tapi aku bingung bagaimana caranya? Aku tidak mungkin menggendongnya, aku tidak akan bisa menyentuh wanita yang bukan mahramku, karena begitulah islam, seorang laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan selain istri atau mahramnya, jalanan sangat sepi, kendaraan pun aku tidak punya.

Tidak lama terdengar suara mobil Taxi di belakangku, syukurlah, tanpa pikir panjang aku langsung menghentikan motor itu.

“ Pak, tolong pak, antarkan kami ke rumah sakit. “ Teriakku kepada bapak sopir, bapak sopir terlihat kaget bukan kepalang.

“ Ayo cepat naik dik. “

Aku segera naik Taxi, lalu kami bertiga menuju rumah sakit, mobil terus melaju, menghindari bebatuan dengan gesitnya, dan akhirnya sudah mulai memasuki jalan kota, jalan yang sudah mulai ramai dengan orang-orang dan berbagai kendaraan, , tiba-tiba mobil berhenti.

“ Sial! Jalanan macet lagi. “ Gerutu bapak sopir Taxi.

“ Bagaimana ini pak? “

“ Kita ambil jalan pintas di samping kios sana. “

Mobil berbalik arah, lalu melewati jalan sepi di samping kios Madyan, jalan ini cukup efektif untuk di lewati pengguna jalan, karena tidak terlalu padat, meskipun jalannya agak rusak dan sempit, tapi hanya jalan disini yang bisa kami lalui untuk mempersingkat waktu, tidak lama kemudian kami melewati jalan kota lagi, jalan yang mulai padat, mobil terus melaju dengan cepatnya, menyalip mobil-mobil dan motor-motor yang lain, dan akhirnya kami sampai juga di rumah sakit, para perawat langsung membantu kami, aku dan bapak sopir duduk di ruang tunggu.

“ Rokok dik? “ Kata bapak sopir menawarkan sebatang rokok padaku.

“ Terima kasih, maaf saya tidak merokok. “

“ Gadis bercadar tadi adikmu ya?“

“ Bukan, tadi kebetulan saja saya lewat jalan sana, kemudian saya melihat sebuah mobil kecelakaan, saya bingung harus gimana, jalanan sangat sepi, kendaraan tidak ada yang melintas, untung ketemu bapak di sana, kalau tidak ada bapak, saya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi, terima kasih ya pak. “

“ Janganlah kamu berterima kasih terlalu berlebihan kepadaku, sebab hanya kepada Allah kita patut bersyukur, berterima kasihlah kepada Allah, karena semua ini tidak lepas dari rencanaNya, eh apa kamu mendapatkan kartu identitas gadis itu, biar kita bisa menghubungi keluarganya. “

Alhamdulillah, kebetulan saya mendapatkan buku kecil bertuliskan biodatanya, disitu tertulis alamat dan nomor telpon rumahnya. “

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil handphone di dalam saku celanaku, kemudian menghubungi keluarga Aisha, pihak keluarga Aisha terdengar kaget dan cemas begitu mendengar kabar yang kuberikan, dalam waktu dekat, mereka akan ke rumah sakit menemui Aisha.

Kemudian aku berkenalan dengan bapak sopir taxi itu, ternyata nama beliau bapak Mahmud, seorang sopir taxi keliling, kami berbincang-bincang, berhubung bapak Mahmud suka dengan sepak bola, lalu aku memfokuskan berbicara mengenai bola kepadanya, kudengarkan beliau berbicara panjang lebar tentang klub sepakbola yang di sukainya, beliau terlihat senang, usai berbincang-bincang, aku pulang dengan di antar pak Mahmud, tetapi begitu aku sudah sampai di rumah, beliau menolak pembayaranku, oh.., mulia sekali hati pak Mahmud, semoga Allah membalas segala kebaikanmu pak Mahmud.

Hari ini benar-benar melelahkan, keringat demi keringat terus saja membanjiri tubuhku, dengan langkah gontai, aku masuk rumah.

“ Assalamualaikum. “

“ Waalaikum salam. “ Terdengar suara Nai menjawab salam, rumah kos sangat sepi, hanya Nai yang berada di dalam.

“ Teman-teman yang lain mana Nai? “

“ Gak tau pada kemana, mungkin bentar lagi mereka pulang. “

Aku pergi ke dapur, tubuhku penuh dengan keringat, benar-benar gerah, lalu aku minum air putih untuk membasahi tenggorokanku yang kering, rasanya aku ingin mandi, entah kenapa siang ini aku ingin mandi, mungkin karena faktor keletihan.

Usai mandi, aku duduk di tepi ranjang dengan menyandarkan bahuku, kuselunjurkan kakiku, mataku mulai berkunang-kunang, penglihatanku sedikit-demi sedikit mulai buram, lalu aku menangkap suatu kilatan cahaya gelap.

Di dalam cahaya gelap, samar-samar aku melihat Anisa, dia tersenyum manis kepadaku, hatiku benar-benar tentram melihat wajahnya, dia bagaikan seorang bidadari yang turun dari surga, tapi lama kelamaan, Anisa menghilang, aku tersadar, Astagfirullah, rupanya mimpi, kulihat jam dinding di kamarku, pukul setengah dua, aku ingat, aku belum shalat zuhur, setan memang suka sekali menggoda makhluk Allah yang sedang lemah, lalu aku bangkit untuk menunaikan shalat zuhur.

Usai shalat, kurebahkan diriku, tiba-tiba handphone-ku berbunyi, ada SMS masuk, dari Clara, kubuka.

“ Dre, makasih banyak ya atas pulsanya, entar uangnya ku ganti begitu aku pulang, salammu udah kusampaikan kepada Anisa, kebetulan Anisa lagi ada di rumah. “

Kubalas.

“ Oh ya, makasih ya “

Clara membalas.

“ Sama-sama, katanya dia merindukanmu lho. “

Kubalas.

“ Ah, kamu bisa saja, sudah ya aku mau istirahat dulu, Assalamualaikum. “

Clara membalas.

“ Waalaikum salam. “

Lalu aku membuka radio, kebetulan Iyan lagi siaran, kudengar, kali ini dia sedang membahas topik tentang masalah seorang cewek, nama cewek itu berinisial SK, ceritanya SK sudah lama menjalin cinta dengan seorang cowok, dan sering melakukan making love, akhirnya SK hamil, ketika SK meminta pertanggung jawaban, si cowok pergi melarikan diri entah kemana, SK menyesal sudah melepaskan keperawanannya sebelum menikah, SK bingung harus gimana, orang tuanya belum mengetahui tentang masalah ini, karena itu Iyan meminta bantuan kepada para pendengar untuk memberi saran atau masukan buat SK melalui Via SMS atau melalui Line telpon, sudah banyak SMS masuk memberikan masukan buat SK, ada yang bilang jujur aja kepada orang tuanya, ada juga yang menyumpahin si cowok dengan kasar, dan sebagainya, tetapi masih belum ada satupun line telpon yang masuk, lalu aku mencoba-coba menelpon, kudengar suara Iyan di radio.

“ Yap guys, kelihatannya sudah mulai ada telpon masuk, gue coba angkat penelpon pertama pada siang hari ini, halo selamat siang… “

“ Halo, assalamualaikum. “

“ Waalaikum salam, dengan siapa? “

“ Dengan Andre. “

“ Wah…, Andre ya, tumben lho nelpon, oh ya Dre, gue butuh bantuan nih, ceritanya gini, dulu teman kita si SK pernah menjalin cinta dengan seorang cowok, dan sudah ngelakuin making love, hasilnya SK hamil, saat SK mau meminta pertanggung jawaban ama cowoknya, cowoknya melarikan diri entah kemana, kira-kira apa yang harus SK lakuin ? “

“ Kalau melihat masalah kayak gini ya, aku lebih memandang kepada sisi positifnya dan sisi negatifnya. “

“ Sisi positif dan sisi negatif, maksudnya ? “

“ Yang namanya pernikahan, bukan hanya butuh kesiapan fisik dan mental aja, tetapi juga membutuhkan dana, sisi positifnya mungkin si cowok menghilang sementara untuk mencari uang menyiapkan resepsi pernikahan dengan si SK, tetapi kalau memandang dari sisi negatifnya, kayaknya SK hanya di jadikan budak penyaluran syahwat cowoknya, hal ini sudah bisa di lihat dari penjelasan SK yang mengatakan sering melakukan making love dengan cowoknya, tapi yang pasti, making love sebelum ada ikatan halal, maksudnya sebelum menikah, merupakan perbuatan yang sangat keji, yang tidak pantas dilakukan oleh generasi muda, kalaupun cowoknya benar-benar melarikan diri, SK harus berani menerima kenyataan, setiap kejadian, pasti ada hikmahnya, dan kita bisa menjadikan masalah ini menjadi pelajaran buat kita semua, agar hal seperti ini tidak akan terulang kembali, kayaknya itu aja masukan dari aku. “

“ Oke makasih banyak ya Dre, semoga aja SK bisa mencerna saran darimu. “

Nyettt….., handphone-ku berbunyi, baterai lemah, segera ku charge baterai handphone-ku, kusandarkan punggungku ke tepi ranjang sambil kuselunjurkan kakiku, aku jadi memikirkan Anisa, Clara bilang dia merindukanku, apakah perkataan Clara benar, atau hanya main-main, hatiku mulai tidak karuan rasa, pikiranku kacau balau, apa yang harus kulakukan? Aku segera ke dapur untuk mengambil air wudlu, setelah berwudlu aku mulai membaca Al Quran.

Thaaha.

Maa anzalna ‘alaikal Qur’aana li tasyqa

Illa tadzkiratan liman yakhsya

( Thaaha.

Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar kamu jadi susah

Tetapi sebagai tadzkirah bagi orang yang takut kepada Allah)3

***

Hari mulai gelap, angin bertiup kencang, suasana dingin benar-benar menusuk tulang, perlahan-lahan hujan mulai turun ,  semakin  lama  semakin

deras, sedikit demi sedikit air mulai merembes memasuki rumah kos kami,  meskipun aku sudah mengenakan sweater-ku, tapi suasana dingin terus saja mengancam tubuhku, Surya dan Iyan sedang sibuk memperbaiki atap yang bocor, sedangkan aku sedang berada di depan komputerku, sibuk menyelesaikan tugas kuliah, entah kenapa akhir-akhir ini tugas kuliah mulai menumpuk, tapi aku harus menyelesaikannya dengan hati yang ikhlas, baru setengah tugas kuselesaikan, handphone-ku berbunyi, ada SMS masuk, nomor baru, kubuka.

“ Assalamualaikum, maaf, benarkah ini nomor ka Andre “

Kubalas.

“ Waalaikum salam, benar, ini siapa ya? “

3. QS. Thaaha 1-3

“ Ini SK, yang kemaren punya masalah di radio, sebenarnya nama saya Siska, rumah saya dekat dengan kos ka Andre, bersebelahan dengan rumah Clara,oh ya, terima kasih banyak atas saran kaka kemaren. “

Kubalas.

“ Oh Siska yang warna cat rumahnya biru dan banyak dihiasi tanaman itu kan, sama-sama, gimana kabar tentang pacarmu ? “

Siska membalas.

“ Sampai sekarang dia belum kelihatan batang hidungnya, saya sedih sekali, saya menyesal, sudah melakukan perbuatan keji dan sangat dilarang agama. “

Kubalas.

“ Sabar, tabahkan hatimu, yang pasti jadikan semuanya menjadi pelajaran yang berharga, bertobatlah, Allah masih membukakan pintu maaf bagimu, Allah masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri, gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. “

Siska membalas.

“ Iya ka, saya akan berusaha memperbaiki diri, sudah terlalu banyak dosa yang saya lakukan, mungkin janin yang saya kandung ini merupakan peringatan dariNya karena saya sudah terlanjur masuk dalam kubangan dosa, ka Andre makasih banyak atas perhatiannya. “

Klik, kumatikan komputerku, rupanya SK itu Siska, puteri sulung pak Tarno, seorang pengusaha karet yang kaya raya, Siska merupakan gadis aneh yang selalu senyum kepadaku, setiap kali aku berpapasan di jalan dengannya, dia tidak pernah menyembunyikan senyumannya, tapi hanya kubalas dengan menundukan pandanganku, Siska merupakan sesosok gadis yang sangat cantik, wajahnya yang putih dan rambutnya yang indah selalu membuat para laki-laki terpesona, andai saja Siska mau memakai jilbab, pasti dia bakalan lebih cantik lagi, dia seorang siswi kelas 3 sekolah menengah atas, aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya, kami tak sangaja berjumpa, dia pulang sekolah dengan mobil mewahnya, sedangkan aku  pulang kuliah dengan jalan kaki, kebetulan dia menawarkan memberikan tumpangan kepadaku, karena kami satu jalur, awalnya aku menolak, tapi karena dia terus memaksa, akhirnya aku masuk mobilnya.

“ Hei namamu Andre kan? “

“ Iya. “

“ Kamu pasti tahu namaku, iya kan ? ”

“ Iya, aku tahu, namamu Siska, putri sulung pak Tarno, seorang pengusaha karet. “

“ Kau benar, bagaimana kuliahmu tadi, seru gak? “

“ Seru, tapi cukup capek juga sih, maklum akhir-akhir ini tugas menumpuk “

Begitulah Siska, bicaranya sangat lancar dan ceplas-ceplos, aku lebih banyak diam, mendengarkan segala ocehannya, Siska sebenarnya seorang gadis yang baik, tapi mungkin karena pengaruh teman-temannya, dan kurangnya perhatian dari orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan, makanya Siska terlalu liar dan bebas, bahkan kupikir-pikir, Siska lebih akrab dengan pembantunya sendiri daripada orang tuanya, Siska sangat dekat dengan Anton, temannya dari kecil, Anton sudah dianggap Siska sebagai kakak kandungnya sendiri, Anton merupakan pemuda yang sangat baik hati dan sangat rajin beribadah, kadang-kadang Anton suka menasehati Siska, tapi sayang, Siska tidak pernah mau mendengarnya. Dulunya Anton pernah bilang kepadaku, kalau dia sebenarnya mencintai Siska, Anton sudah mencintai Siska sejak mereka sama-sama berumur 8 tahun, tapi karena perbedaan status, dan mengingat Siska adalah anak orang kaya, sedangkan Anton hanyalah orang yang sangat sederhana, yang orang tuanya hanya punya penghasilan seadanya, makanya Anton memendam perasaannya, suatu perasaan cinta yang tidak bisa di ungkapkan, dan terus tersimpan di lubuk hati yang paling dalam.

Menurutku, Anton merupakan pasangan yang ideal buat Siska, aku yakin, Anton bisa memimpinnya dan membimbingnya untuk menuju jalan-Nya, tapi sayang, Anton merupakan sosok pemuda yang sangat pemalu, bahkan dia tidak berani berkhalwat.4 dengan Siska tanpa didampingi oleh mahramnya, merupakan seorang pemuda yang bijaksana dan benar-benar menjunjung nilai-nilai keislaman, Anton dan Siska satu sekolah, tapi mereka tidak sekelas, karena mereka berdua beda jurusan, Anton jurusan IPA, sedangkan Siska jurusan IPS.

Ahhirnya sedikit demi sedikit hujan mulai reda, suasana mulai tenang kembali, kasian Surya dan Iyan, mereka berdua pada basah kutup karena memperbaiki atap rumah yang bocor, kudengar suara Surya sedang bersin-bersin dari luar, lalu dia mendekatiku.

“ Dre, punya obat flu gak ? “ Ucap Surya terbata-bata, wajahnya pucat pasi.

“ Cuma ada paracetamol, di dapur, letaknya di laci biru nomor dua. “

“ Oh…, makasih ya. “ Kata Surya sambil melangkah ke dapur.

“ Surya tunggu sebentar! “

“  Ada apa? “ Langkah Surya terhenti.

“ Ni pakai sweater-ku, kamu pasti sangat kedinginan. “

“ Oh.., makasih. “

Suasana mulai sepi, aku mulai merebahkan diriku di tempat tidur, badanku capek sekali, perlahan-lahan kupejamkan kedua mataku, lalu aku terbuai dalam mimpi indah.

4. Berdua-duaan bagi yang bukan mahram

( Bersambung )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: