Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 4 )

Oleh : Irza Setiawan

Kehadiran Anisa

Jam Bekerku berbunyi, sudah jam setengah empat, meskipun hanya terlelap satu jam setengah, itu sudah cukup untuk meremajakan seluruh syaraf tubuhku, karena anggota tubuh juga mepunyai hak untuk beristirahat, setelah shalat tahajud, aku dan teman-temanku membaca Al-Quran bersama, sambil menanti azan subuh berkumandang, teman-teman sangat melestarikan kegiatan rutin pagi seperti ini, mekipun aku melihat mata Ujang terpejam-pejam menahan kantuk.

Continue reading

Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 3 )

Oleh : Irza Setiawan

Restoran Mewah

“ Andre, bangun Dre! Ada orang mencarimu. “

Suara Nai yang membangunkanku dari bibit-bibit mimpi yang indah segera menyadarkanku, cuma satu jam aku tidur, meregangkan otot-otot syaraf setelah kuliah, dan lembur mengerjakan makalah.

“ Siapa sih? “ Tanyaku sambil mengeliat sambil mengucek-ngucek mata.

Gak tau? Katanya ada perlu sama kamu, penting banget.”

Dengan mengusir rasa malas, aku segera melangkah ke ruang tamu, di sana kulihat seorang bapak berjaket biru sedang duduk sambil menikmati teh hangat buatan Nai, setelah kuamati, ternyata pak Mahmud, beliau tersenyum kepadaku.

“ Eh pak Mahmud, tumben datang kesini, apa kabar? “ Kataku sambil menjabat tangan beliau.

Alhamdulillah, kabar bapak baik-baik saja, maaf Dre, bapak mengganggu tidurmu. “

“ Ah…, gak papa kok, malah saya senang bapak sudi berkunjung ke tempat kami yang sangat sederhana ini. “

Continue reading

Di Balik Kerudung Cinta ( Bagian 2 )

Oleh : Irza Setiawan

Akhwat Bercadar Putih

Matahari mulai menggerogoti kulitku, keringat demi keringat berceceran jatuh ke bumi, rasanya topi yang bertengger di kepalaku tidak cukup untuk menahan ganasnya sinar matahari, udara hawa panas membuat tubuhku semakin gerah, kuusap wajahku dengan sapu tangan, hitam, penuh dengan debu, padatnya asap kendaraan semakin memperkeruh suasana, seandainya aku tidak ingat dengan tanggung jawabku sebagai seorang mahasiswa yang mencari ilmu, seandainya tidak ingat bahwa diriku dilepas orang tua dengan linangan air mata, tentu lebih enak berada di rumah, merebahkan diri di kasur yang empuk sambil menyalakan kipas angin yang sejuk, lalu terbuai dengan belaian lembut mimpi-mimpi yang indah, oh…alangkah indahnya.

Warung kecil di pinggir jalan mempengaruhi pikiranku untuk singgah, kulihat arlojiku, masih banyak waktu, tidak ada salahnya jika aku singgah sebentar untuk menghilangkan keletihan, rasanya segelas air sudah cukup untuk mengobati rasa lelahku, lalu kuteguk kesegaran es teh yang mengaliri kerongkonganku yang kering, terasa sekali kesejukan menggetarkan seluruh syaraf-syaraf di tubuhku, semangatku rasanya mulai kembali, setelah membayar es teh tersebut, aku melanjutkan perjalanan.

Tak terasa akhirnya aku sampai juga di kampus, sebelum masuk kampus, aku mampir dulu sebentar di toko ponsel Caim yang terletak tidak jauh dari kampusku, kurang lebih hanya berjarak sekitar 100 meter, setelah sampai di toko ponsel, kulihat Caim sedang asik mendengarkan lagu lewat  I-Pod nya sambil membaca majalah, lalu aku mengucapkan salam.

Assalamualaikum “.

Tidak ada jawaban, Caim masih larut dalam alunan lagu, kedua telinganya tertutup headphone, matanya terus saja membaca majalah, malah sesekali dia bernyanyi karena larut dalam alunan lagu, aku bingung harus bagaimana, lalu perlahan-lahan kuhampiri dia, dan kutepuk pundaknya.

Continue reading

Dibalik Kerudung Cinta ( Bagian 1 )

Karya : Irza Setiawan

Gadis Itu Bernama Anisa

Bintang-bintang mulai kelam di tengah lipatan langit malam, cahayanya masih membiaskan berbagai warna yang dapat menyejukkan kalbu, kokok ayam mulai bersahut-sahutan memecah kesunyian gelapnya malam, baginda Rasulullah Shallallahu’ Alaihi Sallam bersabda, “ Apabila kamu mendengar kokok ayam, maka berdoalah kepada Allah dari kemurahan-Nya, karena sesungguhnya ayam tersebut baru saja melihat seorang malaikat.”1 Semoga saja hari ini bakalan lebih baik dari hari kemarin. Terdengar deru angin bergulung-gulung diluar sana, membuatku semakin bersemangat untuk membuka mata, setelah seharian menjelajahi alam mimpi yang indah, dunia maya yang penuh makna.

Pagi ini cuacanya sangat menyenangkan, suara adzan bergema memecah kesunyian kota, bisa juga disebut suara panggilan jalan menuju surga bagi umat islam, aku segera bangkit dari tempat tidurku, merapikan tempat tidurku yang sangat berantakan, lalu membuka jendela kamarku, setelah kubuka jendela kamar, terasa sekali kesejukan semilir angin menampar tubuhku, menggerogoti urat sarafku, dengan penuh semangat, aku melangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu, kulihat teman-teman kosku juga melakukan hal yang sama, di kos ini kami tinggal berlima, ada Aku, Surya, Iyan, Nai dan Ujang. Aku, Surya dan Nai adalah Mahasiswa sebuah Universitas di kota ini, sedangkan Ujang dan Iyan berstatus sebagai penyiar radio di sebuah perusahaan radio swasta, kami mengambil air wudhu secara bergantian, tetapi entah mengapa mereka lebih senang mendahulukan kepentinganku daripada kepentingan mereka, mereka sangat perhatian kepadaku, mungkin karena aku adalah orang termuda di antara mereka.

Panggilan Iqamat terdengar bersahut-sahutan di penjuru kota, panggilan yang sangat menenteramkan hati, jalan menuju surga masih terbuka lebar, kulangkahkan kaki, begitu aku mulai membuka pintu.

Wusss………..!!!!!

Dinginnya angin malam langsung menampar tubuhku, terus menggorogoti urat-urat syarafku , aku dan empat orang temanku pergi bersama  menuju  masjid  di  persimpangan  jalan , masjid  yang tidak begitu

1. HR. Al – Bukhari dan Muslim

jauh dari tempat kos kami, masjid yang begitu banyak menyimpan kenangan

selama aku menuntut ilmu di kota ini, dan jauh dari keluarga, kadang-kadang air mata ini menetes menggenang ayah bunda yang jauh disana, entah dengan cara apa aku bisa membalas pengorbanan mereka, ingin sekali aku berjumpa dengan mereka, tapi disini aku masih mempunyai tugas untuk menuntut ilmu, biar bagaimanapun, belajar itu ibadah.

Alhamdulillah, nikmat rasanya kalau sudah berada di dalam masjid, puluhan orang sudah berjajar rapi, kedamaian menghiasi hati begitu aku mulai mengangkat takbir, aku berkonsentrasi untuk meraih cinta Allah dan berusaha mencintainya, hatiku sangat sejuk dan tentram di saat mengucapkan ayat-ayat suci.

Usai shalat, kulihat fajar telah terbit, menerangi penjuru kota, sinarnya yang sangat indah benar-benar menghiasi hatiku, sambil menikmati indahnya pagi, aku berdoa.

Sami’a Saami’um bi hamdillaahi wa husni balaa’ihii alainaa. Robbanaa shoohibnaa wa afdhil’alainaa’ aa’idzam billaahi minan naar.

( Mendengarlah yang bisa mendengar akan pujian kepada Allah dan nikmat-Nya, serta cobaan-Nya yang baik kepada kita. Wahai Tuhan kami, temanilah kami dan berilah keutamaan kepada kami. Kami berlindung kepada Allah dari neraka. ) 2 Continue reading