Berkaca Diri Diserambi Masjid

Wahai Sahabat
Di serambi masjid
Saat rintik hujan menitik
Ayat itu kau bacakan untukku
Dan saat itu kita merasa hati kita menjadi sesak
Air mata membanjir, kepiluan datang mencekam
Saat kembali kau bacakan tiap ayat demi ayat
Kurasa kesadaranku mulai hilang, dan hampir pingsan
Karena ledakkan tangis yang tak tertahankan

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu,
melainkan mendatangi neraka itu.
hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa
dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut.”

Tiada yang tahu bagaimana nasibnya nanti
Ketika melintasi sirath
Jembatan yang lebih tipis dari rambut
Dan lebih tajam dari pedang
Yang panjangnya sekitar tiga ribu atau lima belas ribu tahun perjalanan
Dimana jilatan jahanam menanti di bawahnya
Ada yang melewatinya secepat mata memandang
ada juga yang melewatinya dengan luka lecet karena sayatan
dan di sentuh jilatan neraka yang panas membara
atau terjatuh ke dalam kubangan kengerian luar biasa
hanya amal ibadah yang kan menyelamatkan kita semua
Ya Allah, sungguh dengan anugerahMu
Selamatkan kami dari kengerian neraka
Rintik hujan semakin deras, mengguyur setiap arena kehidupan dunia, membasahi tiap pesisir bumi, namun aku masih larut dalam ayat tersebut, mungkin terjebak hujan ini sungguh berarti, kesibukan dunia yang melenakan sehingga bisa melupakan Tuhan, pekerjaan yang menyita waktu sehingga zikir terlantarkan, astagfirullah, ya Allah, sungguh hati ini lebih tenang saat Kau jebak di tempat mulia ini, karena waktumu bisa digunakan dijalan ibadah. Di jalan manfaat ketika pengaruh dunia semakin menyiksa, teringat para ulama yang bisa mengkhatamkan ayatmu dalam sehari, teringat akan sedekah Abu Bakar sang sahabat nabi yang begitu luar biasa, terkenang tentang Kehebatan Yusuf saat berhasil melewati pengaruh syahwat, sungguh diri ini terlalu hina, sungguh jiwa ini masih miskin iman, sungguh batin ini masih perlu bimbingan.
Saat beban dakwah terasa berat, saat tiap tetesan keringat terasa puas, saat hati kagum akan keberhasilan, namun saat membaca kisah teladan, tentang hambaMu yang beriman, tentang ibadahnya yang begitu dasyat, sungguh terasa kerdil diri ini, terasa kecil batin ini, terasa hilang beban dakwah yang menggelayuti diri selama ini, sungguh aku ingat, bahwa hanya orang yang lepas dari dosa yang bisa lurus dan secepat kilat dalam melintasi sirath, setiap dosa akan memberatkan dalam melintasinya, kadang ada yang berjalan miring dan hampir menyentuh neraka, saat tiap pikulan dosa yang disandang.
Lalu bagaimanakah ibadah kekasihMu Muhammad, saat dosa Kau hapuskan dari dirinya, saat hatinya bersih bagai permata, berkilau tanpa noda, namun semangat ibadahnya tidak tertandingi, ketika teringat kakinya yang bengkak saat shalat malam, sungguh membuatku makin kerdil, ibadahku yang masih sedikit ini, apakah mampu membuatMu bangga.
Aku tidak tahu, mengapa air mata ini mengalir, hati ini selalu sesak, apakah aku takut dengan dosa, atau air mata ini menetes karena masih belum bisa membuatMu bangga, atau rintik mutiara yang mengalir di pelupuk mata ini hadir karena rasa cinta, rasa cinta yang mengalun dalam dekapan zikir, ikatan ibadah, teringat saat hambaMu yang masih tetap shalat, meski banyak anak panah menembus kulit mulianya, namun dia tetap shalat karena cinta yang luar biasa kepadaMu.
Dua jam Kau jebak aku dibalik hujan yang semakin deras ini, saat motorku yang butut dengan suara berisik semakin banjir karena parkir di depan, saat helm pelindung kepalaku tak ubahnya seperti ember yang penuh air, saat suara petir tak ubahnya laksana musik yang membuat orang mengantuk, namun rasa cinta padaMu semakin mengalir, lantunan cinta ini kan selalu berkembang di setiap waktu, mengalir dalam setiap desah nafasku, ya Allah, mungkin ibadahku begitu terasa kurang, mungkin aku hambaMu yang masih curang, ingat diriMu saat susah, namun melupakanMu di saat serakah, namun di balik karuniaMu, jadikanlah imanku setegar karang, yang takkan hancur walau di terpa jutaan ombak. Amin

Irza Setiawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: