Pesona Pandangan

Di lubuk hati terdalam
Benih Cinta mulai berkembang
Diliputi rasa kebahagiaan
Selalu teringat sang pujaan
Namun saat kubaca FirmanNya
Jagalah pandangan demi kemuliaan
Hatiku terbesik rasa keraguan
Ada apa dengan pandangan
Mungkin pesona Yusuf terlalu hebat
Membuat semua pandangan menjadi terpikat
Sehingga cinta Zulaikha tumbuh mengakar kuat
Wahai Cantik
izinkan kami berevolusi diri
bantulah kami dalam menjaga pandangan
tutuplah auratmu demi kemuliaan
jangan biarkan kami terlena karena wewangian tubuhmu
pelihara telinga kami dari kelembutan suaramu
niscaya kamu akan mendapat kemuliaan disisi Allah
di doakan ribuan malaikat
dan dicemburui para bidadari surga

Amuntai, Sabtu 20 Februari 2010, pukul 3.25 siang
HambaNya yang berusaha menepis jerat syaitan
Meski air mata menitik tak tertahankan

Irza Setiawan

Melintasi Sirath

Wahai Sahabat
Di serambi masjid
Saat rintik hujan menitik
Ayat itu kau bacakan untukku
Dan saat itu kita merasa hati kita menjadi sesak
Air mata membanjir, kepiluan datang mencekam
Saat kembali kau bacakan tiap ayat demi ayat
Kurasa kesadaranku mulai hilang, dan hampir pingsan
Karena ledakkan tangis yang tak tertahankan

“Dan tidak ada seorangpun dari padamu,
melainkan mendatangi neraka itu.
hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa
dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam Keadaan berlutut.”

Tiada yang tahu bagaimana nasibnya nanti
Ketika melintasi sirath
Jembatan yang lebih tipis dari rambut
Dan lebih tajam dari pedang
Yang panjangnya sekitar tiga ribu atau lima belas ribu tahun perjalanan
Dimana jilatan jahanam menanti di bawahnya
Ada yang melewatinya secepat mata memandang
ada juga yang melewatinya dengan luka lecet karena sayatan
dan di sentuh jilatan neraka yang panas membara
atau terjatuh ke dalam kubangan kengerian luar biasa
hanya amal ibadah yang kan menyelamatkan kita semua
Ya Allah, sungguh dengan anugerahMu
Selamatkan kami dari kengerian neraka

Masjid Al Jihad, Sabtu 20 Februari 2010
Kutulis dengan tumpahan air mata
Irza Setiawan

Mekarnya Pesona Bidadari

Oleh : Irza Setiawan

Awan menghitam, sekelam langit malam, petir terus bersahut-sahutan, membuat gaduh suasana bumi, daun-daun berguguran, di terpa angin kencang, sudah dua jam lebih hujan terus mengalir, membasahi bumi, menggenangi setiap lubang di jalan, sehingga mirip danau yang di terpa lautan, di saat sang penguasa sibuk dengan kekayaan, sementara para rakyatnya kelaparan, tidak ingatkah meraka bahwa ada amanah yang terkandung di dalam jabatan,  tidak seperti para khulafur rasyidin, yang siang malam menangisi sebuah jabatan, karena takutnya mengemban amanah, khawatir seekor kijang yang terperosok akibat lubang di jalan, apalagi seorang manusia.

Di serambi masjid, seorang pemuda duduk termenung, menahan suasana dingin, tidak ada yang menemaninya selain para malaikat yang tersenyum manis kepadanya, karena amalnya yang begitu mulia, matanya menatap kedepan, tetapi tatapannya kosong, pikirannya terus melayang, memikirkan dirinya di masa lalu, pemuda itu bernama Hafiz, sosok pemuda yang dikenal tanpa aturan, hidup dalam kemewahan, suka menghambur-hamburkan uang, siang malam dilaluinya dengan selalu berkelahi, sehingga dikenal masyarakat sebagai si tinju besi, mabuk  sempoyongan, teler sampai jatuh kedalam got, judi sampai bangkrut, dan perbuatan nista lainnya, hanya saja dia sekalipun tidak pernah di sentuh wanita, meskipun banyak wanita nakal yang terpesona karena ketampanan wajahnya, tapi Hafiz tahu diri akan kehormatan dirinya. Continue reading