Sekilas Pandangan: Ilmuwan Muslim klasik dan Ilmu Modern

Sejarah membuktikan bahwa pemikir Muslim merupakan penemu, peletak dasar, dan pengembang dalam berbagai bidang ilmu. Nama-nama pemikir Muslim bertebaran di sana-sini menghiasi arena ilmu-ilmu pengetahuan. Baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social.

Para pemikir Muslim klasik tidak terjebak untuk mengkotak-kotakkan berbagai ilmu tersebut seperti yang dilakukan oleh para pemikir saat ini. mereka melihat ilmu-ilmu tersebut sebagai ‘ayat-ayat’ Alloh yang bertebaran di seluruh alam. Dalam pandangan mereka ilmu-ilmu itu walaupun sepintas terlihat berbeda-beda dan bermacam-macam jenisnya, namun pada hakikatnya berasala dari sumber yang satu yakni Alloh SWT yang Maha Mengetahui seluruh ilmu. Para pemikir Muslim memang melakukan klasifikasi terhadap berbagai macam ilmu, tetapi yang dilakukan oleh mereka adalah pembedaan, bukan pemisahan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila para pemikir klasik Muslim menguasai berbagai macam bidang ilmu. Misalnya Ibnu Sina, Al Ghazali dan Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Sina , sebagai contoh selain terkenal sebagai ahli kedokteran juga adalah ahli filasafat dan psikologi. Salah satu bukunya dalam bidang Kedokteran, Al Qanun fi al Thib, dipelajari selama enam ratus tahun (dari abad 12-18) sebagai pelajaran dasar kedokteran di universitas-universitas tua di Eropa.

Al Ghazali, selain banyak membahas masalah-masalah fiqh (hukum), ilmu kalam (teologi) dan tasawuf, beliau juga banyak membahas masalah filsafat, pendidikan, psikologi, ekonomi dan pemerintahan. Ibn Khaldun, selain banyak membahas masalah sejarah, juga banyak menyinggung masalah-masalah sosiologi, antropologi, budaya, ekonomi, geografi, pemerintahan, pembangunan, peradaban, filsafat, psikologi, epistomologi dan futurologi. Karya-karya Al Ghazali jumlahnya hampir 100 buah dan pengaruhnya tidak hnya pada kalangan islam saja, tetapi juga dipelajari oleh tokoh-tokoh agama Kristen. Salah satu kitabnya yang berjudul Maqashidul-Falasifah yang berisi ringkasan dari bermacam-macam ilmu filsafat, logika, metafisika, dan fisika diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Dominicus Gundisalvus di akhir abad ke-17.

Ibnu Taimiyah. Penguasaan Ibnu Taimiyyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha (ahli hukum) dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pem- bagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

Sayangnya, tradisi pemikiran seperti ini tidak berlanjut sampai sekarang karena mundurnya peradaban umat Muslim hampir di segala bidang. Kemunduran ini sebagian disebabkan karena musuh dari luar, sebagian lagi disebabkan oleh sikap Muslim sendiri.

Malik Ben Nabi, sosiolog Muslim kontemporer asal Aljazair, menyatakan hal ini. Menurutnya kemunduran Muslim ini disebabkan oleh dua koefisien, yakni koefesien eksternal dan koefesien internal. Koefisein eksternal yakni musuh-musuh Islam yang mengadakan ekspansi merampas negeri-negeri muslim dan menghancurkan seluruh kekhilafahan islam. Sedangkan koefisen kedua yaitu koefisien internal adalah sikap kondusif kaum muslimin terhadap penjajahan (sikap mental/pemikiran ) umat Islam itu sendiri. Dan sesungguhnya itu adalah musuh terbesar.

Umat muslim tenggelam lama dalam tidur nyenyaknya. Kegiatan berfikir terhenti, sehingga umat Islam mengalami kemerosotan di segala bidang. Mulai dari bidang politik, ekonomi, social, budaya, teknologi, dll. Lama kelamaan peradaban Muslim tidak terdengar lagi gaungnya untuk jangka waktu yang lama. Bahkan negeri-negeri Muslim akhirnya menjadi sasaran empuk penjajahanbangsa-bangsa non Muslim. Sekulerisasi terjadi di berbagai bidang. Banyak institusi khas Islam yang terpinggirkan. Kedaulatan politik diambil alih oleh bangsa penjajah. System hukum Islam yang berlaku diganti dengan system hukum penjajah warisan Romawi. Institusi ekonomi Islam (baitul mal, al hisbah, ma’una, dll) terpinggirkan. Dalam pendidikan ilmu dan pengetahuan,tidak lagi mengambil metodlogi Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melainkan memaki metodologi ilmiah yang menghilangkan pengetahuan sebelumnya dan kekuasaan Alloh.

Hasilnya pada masa kini umat Muslim mengalami kebodohan dan kemiskinan, padahal dalam surat Ali Imran: 110 dinyatakan bahwa kita, yang nota benenya kaum muslimin telah di beri gelar ummat yang terbaik… see more:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Di tengah-tengah keadaan seperti ini, terjadilah proses penghilangan fakta-fakta sejarah. Andil pemikir-pemikir muslim dalam ilmu-ilmu pengetahuan tertutupi, sehingga apabila kita membaca buku-buku sejarah ilmu pengetahuan, maka kebanyakan menyatakan bahwa sejak zaman filosof-filosof Yunani yang masyhur (Socrates, Plato, Aristoteles) beberapa abad sebelum masehi terjadi kekosongan perkembangan ilmu pengetahuan.

Joseph Schumpter (A history of Economic Analysis, (new York: Oxford University Press.1954), misalnya dalam buku magnum opusnya menyatakan adanya great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, yaitu masa yang dikenal sebagai dark ages. Masa kegelapan Barat itu sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat Muslim, suatu hal yang berusaha ditutup-tutupi oleh Barat karena pemikiran ekonom Muslim pada masa inilah yang kemudian banyak disuri oleh para ekonom Barat.

Adapun proses pencurian terjadi dalam berbagai bentuk, misalnya uraian di bidang ekonomi berikut ini: pada abad ke 11 dan 12 sejumlah pemikir Barat seperti Constantine the African, Adelard of Barth melakukan perjalanan ke Timur Tengah. Meraka belajar bahasa Arab dan melakukan studi serta membawa ilmu-ilmu baru ke Eropa. Contohnya, Leonardo Fibonaci atau Leonardo of Pisa belajar di Bougie Aljazair pada abad ke-12. Ia juga belajar aritmatika dari Al Khawarizmi dan sekembalinya di sana ia menulis buku Liber Abaci pada 1202.

Beberapa pemikiran ekonom Muslim yang dicuri tanpa pernah disebut sumber kutipannya antara lain:
– Gresham-law dan Oresma treatise dari kitab Ibnu Taimiyah.
– Bar Hebraeaus, pendeta Syriac Jacobite Church menyalin beberapa bab Al Ihya Ulumuddin Al Ghazali.
-St. Thomas (1225-1274), salah satu ekonom Barat yang pemikirannya banyak bertentangan dengan dogma-dogma gereja sehingga para sejarawan menduga St. Thomas mencuri ide-ide dari para ekonom muslim. St Tomas sendiri menyalin banyak bab dari Al farabi.
– bapak Ekonom Barat, Adam Smith (1776) dengan bukunya The Wealth of Nations diduga banyak mendapat inspirasi dari buku al-Amwalnya Abu Ubayd (838) yang dalam bahasa Inggrisnya persis judul bukunya Adam Smith The Wealth.

Oleh karena itu, para pemikir islam sebenarnya telah memberikan kontribusi berarti dalam perkembangan ilmu modern. Maka kita sebagai kaum muslimin, tidak perlu terkesima dengan teori-teori Barat. Apalagi kebanyakan metodologi pemikiran yang mereka pakai dalam pengembangan ilmu pengetahuan telah jelas-jelas memisahkan antara agama dan kehidupan. Sehingga tak ayal ilmu yang seharusnya bisa memkamurkan bumi justru malah membuat banyak kerusakan. Padahal sesungguhnya apabila ilmu itu dikembangkan sesuai dengan aturan Alloh maka yang terjadi adalah keberkahan dan kemakmuran. Seperti firman Alloh berikut ini:
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar Ruum: 40-41)

”Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. Kepunyaan Allah lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan”. (Ali Imron: 108-109)

So,, mari kita kembangkan ilmu yang telah kita peroleh sesuai dengan aturan Alloh.. pengembangan ilmu pengetahuan harus di didasarkan pada dua pedoman yang telah Alloh turunkan melalui perantaraan Nabinya, Rasullulloh saw. Yaitu Al Quran dan Al Hadits.. sesuai firman Alloh berikut ini:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah….. “ (Ali Imron: 103)..

Wallohu a’lam bishawwab..
• Reference: Ir. Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islami. 2006 (Jakarta: Rajawali Press)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: