Fenomena Caleg Gagal

caleg-gagalFENOMENA CALEG GAGAL

Ada satu pendapat menarik yang dilontarkan oleh Ketua Kelompok Kerja Calon Legislator KPU DKI Jakarta, Bapak Sumarno, beliau mengatakan bahwa usai pemilu nanti penghuni RS Jiwa akan bertambah akibat kegagalan menjadi wakil rakyat. Hal ini disebabkan karena begitu banyak uang yang sudah dikeluarkan pada masa kampanye ini. Saya rasa pendapat itu manusiawi bagi orang-orang yang memang menginginkan kekuasaan, segala cara dihalalkan, mulai dari bagi-bagi sembako, kaos, dan sebagainya yang memang menbutuhkan dana yang luar biasa beratnya, tujuannya hanya satu, yaitu meraup simpati sebanyak-banyaknya dari masyarakat agar mau mempercayakan dirinya untuk menjadi pemimpin yang bisa mengayomi rakyat, tetapi saat dana habis dikorbankan, tenaga terkuras, waktu tersita, ternyata hasil tidak seindah impian, akhirnya malah menjadi sebuah pukulan kejiwaan yang sangat menggoncangkan iman, sehingga banyak yang stress, sakit jiwa, sampai bunuh diri. Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum Kalsel, dr Asyikin SPKJ, mengatakan, sekarang sudah ada 160 kamar untuk pasien sakit jiwa termasuk untuk para caleg yang gagal. “Bahkan sudah ditambah 30 kamar, yang siap menampung siapa saja yang mengalami gangguan jiwa, benar-benar di luar dugaan, yang dulunya gila kekuasaan, tapi ujung-ujungnya malah gila beneran, sungguh ini fenomena yang sangat mengkhawatirkan.

Arti Kehidupan

Fenomena ini tidak lepas dari jalan pikiran seseorang dalam memaknai arti kehidupan, Ada orang yang menjadikan standar kehidupannya materi. Dia akan termotivasi untuk mencari materi. Keberhasilannya adalah ketika bisa meraih materi sebanyak-banyaknya. Kesuksesannya juga terukur dengan pencapaian nilai materi. Misalnya punya rumah megah, mobil mewah, harta berlimpah, dan sebagainya, Kebahagiaanya juga kalau mendapat materi sebanyak-banyaknya. Ukuran kecantikan, jabatan, kedudukan, juga bisa bersifat materi. Tapi di sinilah, yang namanya materi, tidak akan pernah membuat manusia puas. Kalaupun seseorang sudah kaya raya, punya segalanya tapi dia akan sampai pada titik jenuh. Dia akan merasakan hidupnya hampa lagi. Jadi sesungguhnya materi itu standar yang bersifat semu. Kita seringkali melihat, banyak orang kaya yang tidak bahagia. Mungkin bagi orang miskin, dia melihat orang kaya itu bahagia. Padahal belum tentu orang kaya bahagia, Tidak jarang yang gampang stress. Nah, bagaimana kalau pandangan islam dalam memaknai kehidupan, islam memberikan tuntunan kepada kita dalam memaknai hidup, bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah kamu seakan-akan kematianmu semakin dekat, kita tidak di tuntut untuk selalu beribadah, tetapi meninggalkan dunia, dan kita juga tidak diperintahkan mengejar dunia, tetapi melupakan akhirat, Kehidupan itu fana, hanya sementara. Kehidupan yang kekal hanyalah di akhirat. Allah SWT memberi petunjuk kepada umat Islam bagaimana menjalani hidup ini agar bisa selamat. Kalau kita memahami kasih sayang Allah, maka itu bukan terletak pada kelimpahan materi atau kedudukan. Tetapi pada kemuliaan sebagai hamba Allah yang bertaqwa. Inna akramakum ‘indallaahi atsqaakum: Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Siapapun manusia pasti mendapat cobaan. Bagi hamba Allah yang beriman, cobaan itu adalah bentuk kecintaan Allah kepada manusia. Dalam sebuah Hadits. Dari Mahmud bin Lubaid, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi ujian kepada mereka. Barangsiapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (HR Ahmad dan at Thirmidzi)

Ujian Seorang Pemimpin

Menjadi pemimpin, meskipun dalam skala kecilpun bukanlah perkara enteng, organisasi paling sederhana adalah rumah tangga, dan sang ayah selaku kepala rumah tangga akan diminta pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya dalam keluarga, menjadi pemimpin bukan perkara mudah, berat di dunia dan juga di akhirat karena harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya, saking beratnya, Umar bin Khattab yang pernah menjabat sebagai pemimpin kaum muslimin sedunia menyatakan, andai saja kebaikan dan kesalahan beliau dalam memimpin bisa impas, itu sudah merupakan kesuksesan yang luar biasa, tetapi pandangan ini menjadi kabur ketika melihat fenomena di negeri ini, jabatan dan kedudukan diperebutkan seperti sebuah makanan lezat, ada yang rela menghabiskan dana yang luar biasa hanya untuk sebuah jabatan, hal ini sangat berbeda dengan sikap ulama salaf dahulu soal jabatan, jika dulu mereka enggan dengan jabatan meskipun mampu tetapi sekarang banyak yang mencalonkan diri dengan menghabiskan dana jutaan rupiah, jika dulu lisan mereka penuh dengan mohon ampun kepada Allah, air mata bercucuran di saat bersumpah saat mengemban sebuah jabatan, tapi sekarang banyak yang mengobral janji, bahkan fenomena aneh lagi, di saat mereka mendapatkan jabatan, malah syukuran terlebih dahulu padahal kerjanya kepada rakyat masih belum kelihatan. Kita sangat berharap, semua ini adalah suatu hal positif, dimana bermunculan para manusia yang sadar akan keterpurukan orang-orang di sekitarnya yang kemudian dengan niat tulus dan hati yang ikhlas ingin memajukan dan mensejahterakan mereka. Bukan sebaliknya, semakin banyaknya manusia yang ingin memanfaatkan jabatan untuk mengeruk keuntungan yang tidak menilai kemampuan diri dan beratnya tanggung jawab, mudah-mudahan negeri kita semakin maju dan rakyatnya semakin sejahtera, amin

Irza Setiawan

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Amuntai. http://www.irzasetiawan.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: