Pemakaian Hadist Dlaif

S O A L :    

 

Pemakaian Hadist Dlaif

Betulkah boleh dipakai Hadiets dla’if untuk fadla- ilul-a’mal ? Apakah mentalqienkan orang yang sudah mati itu masuk di dalam golongan fadla-ilul-a’mal ? Bagaimana syarat memakai Hadiets itu ?

 

 

J A W A B :     

 

‘Ulama’ Hadiets membagi Hadiets-hadiets itu atas dua bagian, yaitu Hadiets yang boleh dipakai dan yang tidak boleh dipakai.

Hadiets yang boleh dipakai pula terbagi kepada dua bagian, yaitu Mutawatir dan Aahad.

 

Hadiets Mutawatir itu, ialah Hadiets yang didengar dari Nabi oleh orang banyak, lalu mereka sampaikan kepada orang banyak. Begitulah seterusnya hingga tercatat di kitab-kitab Hadiets.

 

Adapun Hadiets Aahad itu, ialah Hadiets-hadiets yang diriwayatkan dari Nabi oleh orang-orang yang tidak sebanyak yang meriwayatkan Hadiets Mutawatir tadi.

Hadiets yang tak boleh dipakai pula terbagi kepada dua bagian, yaitu yang lemah riwayatnya dan yang palsu riwayatnya. Maka yang lemah riwayatnya itu, ada beberapa macam pula, tetapi sekalian itu masuk di dalam bilangan lemah yang tak boeh dipakai buat menetapkan satu hukum : halal, haram, sunnat atau makruh.

 

Hadiets dla’if itu sering juga dipakai oleh ‘ulama’, tetapi di dalam perkara budi pekerti, perangai, nashihat keduniaan dan sebagainya, itupun apabila sudah ada ayat Qur-an atau Hadiets shahih yang dijadikan pokok di dalam hal-hal itu.

 

Jadi, berarti, bahwa Hadiets dla’if itu hanya dipakai untuk membantu keterangan saja, bukan jadi pokok bagi halal, haram dan lainnya.

 

Begitulah ringkasan pendapat kami ditentang pembagian dan pemakaian Hadiets yang kami dapati dari kitab-kitab Ushul Hadiets, Ushul-Fiqh dan lain-lainnya.

 

Yang mengatakan boleh pakai Hadiets dla’if untuk fadla-ilul-a’mal itu, kalau kita tidak salah, ialah ahli tashawwuf, bukan ‘ulama’ Hadiets atau ‘ulama’ Fiqh. Dan yang mereka maqshudkan dengan fadla-ilul-a’mal itu ialah ‘amal-‘amal yang bukan wajib atau fardlu, yaitu seperti dzikir-dzikir, bacaan­bacaan dan sebagainya yang di dalam sesuatu ‘ibadat atau di Iuarnya.

 

Di sini kita mau terangkan sedikit, bahwa fadla-ilul-‘amal itu sudah terang mereka maqshudkan buat ‘ibadat-‘ibadat yang sunnat. ‘Ibadat yang sunnat itu ialah ‘ibadat yang diharap dapat pahala dengan mengerjakannya.

 

Perkara mendapat pahala itu, satu hal yang tak dapat dan tak patut kita tetapkan dengan keterangan ragu-ragu, tetapi perlu dengan keterangan yang sekurangnya rnenimbulkan zhann, yaitu sekurangnya dengan Hadiets Aahad yang shahih.

 

Hadiets dla’if itu ringkasnya ialah yang tak dapat diakui datangnya dari Nabi.

Itulah yang ‘ulama’ katakan keterangan ragu-ragu atau syak. Orang yang mau gunakan keterangan yang begitu, tak patut dibilang mempunyai ‘akal yang sehat.

 

Adapun mentalqienkan orang mati itu, belum kami berjumpa ada ‘ulama’ memasukkan di dalam bilangan fadla-ilul­a’mal.

 

A.H.

 

 

Hadiets dan syarat shahihnya

 

S O A L :

 

Bagaimanakah syarat-syarat Hadiets shahih menurut perkataan imam Syafi’ie ?

 

J A W A B :

 

Tersebut di kitab Ushul-Fiqh imam Syafi’ie, bahwa sekurang-kurang Hadiets yang boleh dinamakan shahih itu, ialah Hadiets yang tiap-tiap seorang daripada rawinya, hingga sampai kepada Nabi atau kepada Shahabat itu, bersifat :

 

  1. Berbakti.

  2. Boleh dipercaya agamanya.

  3. Jujur di dalam perkataannya.

  4. Mengerti apa yang diriwayatkannya.

  5. Tau apa-apa yang bisa mengubah ma’na Hadiets, (yaitu kalau ia meriwayatkan Hadiets dengan ma’na).

  6. Quat hafalannya (yaitu kalau ia meriwayatkan Hadiets dengan hafalan).

  7. Ingat akan kitabnya, (yaitu kalau ia meriwayatkan Hadiets dengan tulisan), dan ada lain-lain syarat yang tidak begitu penting, bahkan telah termasuk disalah satu syarat yang tersebut di atas itu.

 

Begitulah syarat-syarat Hadiets shahih menurut pendapat imam Syaf’ie.

Begitu juga pendapat kebanyakan ‘ulama’ Hadiets.

 

Adapun syarat boleh ber’amal dengan Hadiets yang shahih riwayatnya, hendaklah Hadiets itu tidak berlawanan dengan Qur-an dan tidak berlawanan dengan Hadiets yang lebih quat riwayatnya.

 

Kalau kita bertemu satu Hadiets yang shahih menurut riwayat, tetapi ada berlawanan dengan Qur-an atau berlawanan dengan Hadiets yang lebih quat, maka di waqtu itu hendaklah dita’wil dengan ta’wil yang tidak terkeluar daripada kemauan bahasa ‘Arab.

Tetapi kalau sudah tak dapat dita’wil lagi, maka pada masa itu hendaklah didiamkan Hadiets itu, ya’ni tidak boleh dipakai.

 

A.H.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: