Manajemen Qalbu

Manajemen Qolbu

Al-Khobir, Yang Maha Mengetahui

Penulis: KH Abdullah Gymnastiar

Bismillahirrahmaanirrahiim

 “Wahai anakku, sesungguhnya kalau ada satu butir biji sawi yang tersembunyi di dalam batu atau di langit atau di bumi, maka Allah mengetahuinya. Sungguh Allah itu Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.31 : 16)

Allah SWT mempunyai nama indah Al-Khobir. “Kho”, “ba”, dan “ro”, itulah huruf-huruf penyusunnya. Kata yang tersusun dari huruf-huruf tersebut berkisar maknanya pada dua hal, yaitu pengetahuan dan kelemahlembutan. Khobir biasanya digunakan untuk menunjukkan pengetahuan yang dalam dan sangat rinci menyangkut hal-hal yang sangat tersembunyi.

Menurut Imam Al-Ghozali, Al-Khobir adalah yang tidak tersembunyi bagi-Nya hal-hal yang sangat dalam dan yang disembunyikan. Tidak terjadi sesuatu pun dalam kerajaan-Nya yang di dunia maupun alam raya kecuali diketahui-Nya. Tidak bergerak atau diam satu butir atom pun dan tidak bergerak atau tenang satu jiwa pun kecuali ada beritanya di sisi Allah.

Allah mengetahui apapun yang dikandung hati atau disimpan oleh pikiran. Bisikan-bisikan nafsu, ajakan-ajakan syetan, khayalan-khayalan pikiran, prasangka-prasangka di hati, rencana-rencana jahat, komentar-komentar dan gumaman hati, semua ada dalam pengetahuan Allah.  Ada dua tindakan yang dapat dilakukan untuk meneladani asma Al-Khobir ini. Tindakan pertama menyangkut hubungan keluar dengan makhluk lain. Kita sadar bahwa pengetahuan kita sangat terbatas. Kita tidak tahu isi hati dan kepala orang lain, dan kita pun tidak tahu banyak tentang maksud-maksud di balik penciptaan makhluk disekitar kita. Berangkat dari kesadaran ini, maka akhlak yang patut dikembangkan adalah baik sangka! Selalu berbaik sangka kepada Allah dan sesama. Bila kita melihat orang yang cacat, seperti pincang, buta, atau lumpuh, janganlah mencela tetapi berbaik sangkalah, karena boleh jadi cacat itu pada fisiknya saja sedangkan batinnya penuh kemuliaan dan kesempurnaan karena ridho menerima ketentuan Allah. Bila kita mencela maka kitalah yang sebenarnya cacat. Cacat hati karena tidak mampu melihat hikmah Allah, cacat adab karena merendahkan makhluk Allah, dan cacat Akhlak karena baru bisa mencela dan tidak mampu berbuat untuk menolong.   Tindakan kedua menyangkut diri kita sendiri. Pertama, kenalilah jasad ini dan hubungkan dengan kekuasaan Allah. Kedua, kenalilah kekurangan-kekurangan kita dalam segi ilmu, sikap, dan perilaku dan hubungkanlah dengan pengawasan Allah. Ketiga, kenalilah tujuan hidup ini dan selaraskan dengan keinginan Allah.   Bila kita perhatikan jasad ini, maka insya Allah kita sadar dari mana asal kita dan siapakah kita. Dari setetes air yang hina, ke mana-mana membawa kotoran dan kalau sudah mati menjadi bangkai, itulah jasad ini. Tidak berdaya bila sudah kena penyakit. Bila sudah tua akan mengeriput dan melemah. Tidak ada yang patut disombongkan. Bila kita perhatikan betapa besar karunia Allah atas tubuh ini, maka insyaAllah kita sadar bahwa keindahan dan kesempurnaan tubuh ini Allah-lah yang membuat. Kekurangan dan kecacatan pun bukan kita yang menghendaki. Ini akan melahirkan rasa terima kasih dan rasa menerima.  Sibukkanlah diri melihat kekurangan diri lalu bekerjalah untuk memperbaiki. Kita tahu betapa bodohnya kita dan betapa sedikitnya ibadah kita. Yang sedikit itupun kita rusak dengan tidak khusyuk dan kita hancurkan dengan ketidakikhlasan. Kita seharusnya malu kepada Allah karena kebusukan-kebusukan kita.

Hidup ini untuk akhirat. Awasilah setiap tindakan agar benar-benar diniatkan karena Allah dan selalu berada di jalan Allah. Belajar dari Al-Khobir membuat kita banyak melihat ke dalam diri dengan waspada dan melihat keluar diri dengan berbaik sangka. ***

——————————————————————–————

Rangkuman Tausyiah KH. Abdullah Gymnastiar, Pengajian MMQ Masjid Al-Azhar, 28 Agustus 2002

Tawakal

Sumber: Abdullah Gymnastiar

Bismillahirrahmanirrahiim

Kajian Kitab Al-Hikam

Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah

Bab: Tawakal

“Tidak akan terhenti suatu permintaan yang semata-mata engkau minta, engkau sandarkan kepada karunia kekuasaan Rab-Mu, dan tidak mudah tercapai permintaan, pengharapan yang engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.”

Tidak akan berhenti permintaan, jikalau kita bersandar kepada karunia Allah, tetapi akan penuh dengan kesulitan, penderitaan, macet, jikalau kita bersandar kepada daya upaya dan kepandaian kita sendiri.

Ini penting sekali dipahami, karena kita akan banyak kecewa ketika kita bersandar kepada diri atau bersandar kepada selain Allah. Semua kejadian itu mutlak hanya bisa terjadi karena ijin Allah. Sekiranya bergabung jin dan manusia seluruhnya akan mendatangkan satu butir pasir pun tidak akan terjadi tanpa ijin Allah. Sekiranya bergabung jin dan manusia bermaksud akan mencelakakan, maka “Ma ashobadhum mim musibatin illa bi’idznillah.” Tidak akan menimpa kepada kita satu musibahpun tanpa ijin dari Allah. Tidak jatuh satu helai daun tanpa ijin dari Allah, mutlak semua yang terjadi adalah dengan ijin Allah.

Bergantungnya kita kepada selain Allah itu adalah kesalahan besar, selain membuat kita sengsara dan banyak kecewa, juga bisa mengugurkan amal kita. Apalagi kita bergantung kepada kemusyrikan, dukun, paranormal, hilanglah sudah amal kita. Dalam hal ini, terjadi atau tidak terjadinya keinginan kita, dua-duanya menjadi bencana. Tetapi bagi orang yang bertawakal kepada Allah, terjadi atau tidak terjadi, dua-duanya jadi amal. “Laahaula wala quwwata illa billahil’aliyyil adzim”.

Sebelum ikhtiar, kita sempurnakan niat. Kita gunakan perencanaan sesuai dengan sunnatullah. Kita siapkan untuk wujudnya suatu amal, tetapi di awal, tengah dan akhir harus tahu bahwa yang akan terjadi adalah apa yang Allah kehendaki. Jadi kita tidak usah panik. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Contohnya, Jika kita ingin punya anak yang terbaik menurut pilihan kita, sempurnakan ikhtiar dengan istikharah, jika belum menikah, mintalah kepada Allah. Terlahirnya anak atau tidak, hanya Allah yang menciptakan. Lima tahun tidak punya anak, walaupun sudah pergi ke dokter, pergi berobat; tidak identik dengan kegagalan karena lima tahun perjuangan semuanya jadi amal. Apakah menikah dan langsung punya anak pertanda kebaikan? Belum tentu. Ada orang yang punya anak, malah tambah penderitaan. Kebaikan adalah kalau niatnya benar. Tidak punya anak, tidak berarti suatu musibah. Siti Aisyah tidak punya anak, tapi tidak berkurang kemuliaannya. Yang penting dari awal kita sudah tahu bahwa yang menciptakan janin adalah Allah, yang membentuk janin adalah Allah, yang memberikan ruh adalah Allah, yang mengeluarkan adalah Allah; dan kita Laahaula Wala quwwata illabillahil ‘aliyyil adzim.

Benar, manusia akan punya keinginan, dorongan-dorongan untuk cepat terwujud apa yang diinginkan, tetapi kalau orang sudah yakin hanya Allah yang menguasaiInnalloha ‘ala kulli’syaiin Qodir. Sesungguhnya Allah-lah yang menguasai segala kejadian, tidak bergerak walaupun sebesar zahrah, Illa Bi’idnillah. Inilah sebetulnya yang membuat orang akan merasakan nikmat luar biasa ketika hatinya sudah meyakini bahwa setiap kejadian hanya terjadi dengan ijin Allah.

Allah SWT berfirman “Wamayyatawakkal alallahu fahuwa hasbu.” Dan barang siapa yang bertawakal, akan dicukupi kebutuhan lahir batinnya. Allah Maha Tahu kebutuhan kita, lebih tahu daripada kita sendiri. Mengandalkan Allah dari awal sampai akhir adalah adab bagi orang-orang yang beriman.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, selayaknya kita melatih diri untuk bertawakal. Ciri khas orang yang bertawakal adalah sedikit kecewanya terhadap kejadian. Saya katakan sedikit, karena kalau kita kecewa itu menunjukkan kualitas ketawakalan. Apakah kita tidak boleh kecewa? Kita boleh kecewa kalau tidak bisa menyempurnakan amal kita; kecewa karena sedekah masih terasa berat; kecewa karena masih menunda-nunda dalam beramal; kecewa karena sholat belum bisa khusyu; kecewa karena sudah taubat kok terjadi lagi maksiat; kecewa ketika dipuji tapi jadi ujub; dalam hal demikian maka kita boleh kecewa.

Allah mengukur hamba-hambanya karena Dia tahu persis kekuatan iman kita, kadar pengendalian diri kita, emosi kita, nafsu kita, makanya tidak akan dikecewakan bagi orang-orang yang selalu bertawakal. Ciri tawakal diantaranya adalah, kalau memilih sesuatu selalu dengan istikharah. Orang yang bertawakal kepada Allah akan memperbanyak istikharah karena hal ini merupakan etika untuk meminta pertolongan Allah. Orang yang bertawakal kepada Allah, dia tidak akan tergesa-gesa walaupun dia sangat menginginkannya, karena tidak ingin terjebak oleh keinginannya sendiri.

“Ya Allah, tiada Tuhan selain Engkau yang menggengam segala kejadian, jangan pernah biarkan diri kami berharap selain dari-Mu…

Ya Allah, jangan biarkan hati ini tenteram selain hanya bersamaMu, tiada Tuhan selain Engkau karena Engkaulah yang menggenggam segala apapun yang Engkau kehendaki.”

——————————————————————————–

Rangkuman Kajian Kitab Al-Hikam TRANS TV, 3 Ramadhan 1423 H/8 November 2002.

 Kekayaan Ma’rifat

Sumber: Abdullah Gymnastiar

Bismillahirrahmanirrahiim

 Kajian Kitab Al-Hikam

Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah

Bab: Kekayaan Ma’rifat

 Semoga Allah yang Maha Kaya, memperkaya diri kita dengan perasaan tidak membutuhkan selain kepada Allah, karena ternyata banyak orang kaya yang menjadi miskin, karena kebutuhannya lebih banyak daripada kekayaannya. Sayangnya kebutuhan itu tidak pernah ada ujungnya, seperti minum air laut, makin diminum makin haus. Begitulah, banyak orang yang diberi kekayaan duniawi tapi batinnya miskin, hari-harinya dilalui dengan sengsara karena diperbudak oleh keinginan. Semoga Allah memperkaya kita dengan rasa puas terhadap segala yang ada. Kita akan mengupas hikmah dari Imam Ibnu Atailah dalam kitab Al-Hikam berikut ini.

“Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah dan orang yang terbatas rezekinya, yaitu orang yang sedang berjalan menuju kepada Allah.

Orang yang telah sampai kepada Allah karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah ke alam tauhiid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa.

Sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan paham yang terbatas mereka inipun mengeluarkan sekedarnya.”

Orang yang kaya adalah orang yang sedikit kebutuhannya, dan senang menafkahkannya. Orang yang miskin adalah orang yang sibuk menyembunyikan hartanya dalam tabungan; dia miskin karena takut berkurang rezekinya. Makin banyak berkurang, makin merasa miskin. Orang yang kaya tidak pernah takut terhadap kekurangan, orang yang kaya hakiki adalah orang yang yakin kepada jaminan Allah sehingga dia ringan bersedekah karena sedekah itu tidak akan mengurangi harta melainkan akan menambahnya. Jangan melihat kekayaan orang lain dari apa yang dimilikinya, tapi lihatlah kekayaan seseorang dari apa yang bisa dinafkahkannya.

Kekayaan lain adalah ilmu. Orang yang kaya dengan ilmu, leluasa dalam mencari ilmu, dia sampaikan kepada yang lain sesudah dia amalkan. Tapi ada orang yang punya ilmu, kemudian dia kikir tidak mau memberikan kepada yang lain. Ciri keilmuan seseorang adalah kalau dengan ilmunya dia makin lapang; makin dekat dengan Allah dan makin gemar memberikan ilmunya bagaikan cahaya matahari.

Kekayaan yang kita bahas di sini sebenarnya adalah kekayaan yang disebut ahli ma’rifat, yaitu orang yang mengenal Allah dengan baik. Dia kaya dengan pengenalan akan keagungan kebesaran Allah, dia akan sangat leluasa menjelaskan siapa Allah. Tidak semua orang bisa menjelaskan Allah, bahkan ada yang menyebut Allah saja tidak sanggup, paling tinggi ‘Tuhan’ atau ada yang mengatakan ‘Yang di Atas’; ‘Dia yang maha kuasa’ dan lain sebagainya. Ada yang begitu berat sekali dalam menyebut, karena memang dia miskin dalam keyakinan kepada Allah.

Orang yang miskin keyakinan sulit memberikan ketenangan kepada keluarganya, karena dia sendiri tidak punya ketenangan itu. Sebaliknya, orang yang sudah kenal dan akrab dengan Allah mempunyai ketenangan yang melimpah pada dirinya, akibatnya dia bisa menenangkan kepada banyak orang disekitarnya. Wajahnya membuat tenang orang yang menatap, kata-katanya menenangkan orang banyak. Tidak semua orang menyuruh orang tenang, bisa membuat orang menjadi tenang. Karena yang berkatanya belum tentu tenang.

 

Orang yang sudah mengenal Allah, akan mendistribusikan hartanya karena dia tidak takut miskin, dia mendistribusikan ilmunya, tenaganya, pikirannya. Itulah kekayaan sejati orang yang kaya, orang yang leluasa sekali mendoakan orang lain, menolong orang lain. Dia tidak pernah berat untuk menyenangkan orang, menghormati orang, itulah orang yang kaya hakiki. Sebaliknya, ada orang yang miskin penghargaan. Kemana-mana ingin dihormati, ingin dihargai, ingin dibedakan, ingin diperlakukan spesial. Kalau tidak dihargai sakit hati. Dia sebetulnya miskin, dia belum berharga karena yang berharga itu adalah jika kita bisa menghargai dan menghormati.

Bagi seorang yang ma’rifat kepada Allah, dia tidak membutuhkan apapun, dari siapapun, kecuali hanya dari Allah. Hidupnya tenang, mantap, tidak menjilat, tidak meminta-minta, tidak menggadaikan dirinya kepada mahluk. Mungkin rumahnya sederhana tapi batinnya megah, mungkin uangnya sedikit tapi batinnya kaya, mungkin tanahnya sempit tapi hatinya lapang, mungkin tubuhnya mungil tapi jiwanya besar, inilah kekayaan hati.

Kemegahan dunia dibagikan kepada siapa saja oleh Allah, termasuk kepada orang yang dholim, ingkar, munafik, tapi kekayaan Ma’rifatullah tidak dibagikan kepada sembarang orang. Inilah keadilan Allah SWT. Oleh karena itu jikalau kita ingin tergolong orang yang kaya, teruslah belajar mengenali Allah, dekati Allah dan jadikanlah diri kita menjadi orang yang senang dan cinta kepada Allah, segalanya Allah. “Innalaha ‘ala kulli syai’in qodir.” Makin kokoh keyakinan, makin nikmat dalam hidup, makin mulya dan cemerlang dalam kepribadian.

Jangan sampai menganggap melimpahnya kekayaan duniawi sebagai karunia Allah yang memuliakan kita, belum tentu. Adakalanya berbentuk ‘istidraj’. Oleh Allah diberi, tapi bisa menambah kerugian dan kesesatan, maka waspadalah. Kekayaan sesungguhnya adalah pada batin kita.

Mudah-mudahan dengan ilmu ini kita tidak menjadi risau dengan apa yang telah Allah janjikan. Allah yang bertanggungjawab terhadap segala kebutuhan kita, tapi kita punya kewajiban untuk menyempurnakan ikhtiar agar selalu berada di jalan Allah. Kalau kita berpegang lurus, Allah tidak mungkin menyia-nyiakan siapapun yang berpegang teguh di jalanNya. ***

——————————————————————————–

Rangkuman Kajian Kitab Al-Hikam TRANS TV, 6 Ramadhan 1423 H/11 November 2002

 

Menyikapi Waktu

Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar

 Maha perkasa Allah Azza wa Jalla, Dzat yang memiliki segala keagungan, kemuliaan, keunggulan, dan segala kelebihan lainnya. Dzat yang Mahasempurna sifat-sifat-Nya, tiada satu kejadianpun yang terbebas dari kekuasaan-nya. Allah, Dzat yang Maha adil meningkatkan derajat siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Namun, sesungguhnyalah kemuliaan dan kehinaan yang ada pada diri kita merupakan buah dari segala amal yang telah kita lakukan. Tidak bisa tidak. Karena demi Allah, Allah SWT tidak akan pernah dzhalim terhadap hamba-hamba-Nya.

Sahabat-sahabat, sungguh betapa banyak orang yang cukup potensial, tetapi tidak bisa menjadi unggul. Salah satu sebabnya adalah karena ketidakmampuannya dalam mengelola waktu. Yakinilah bahwa kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam urusan dunia maupun akhirat adalah sangat bergantung bagaimana kesungguhannya dalam menyikapi waktu. Kita saksikan, betapa banyak orang yang mengeluh karena merasa tak pernah punya waktu, sedangkan beberapa orang yang lain selalu mencari jalan untuk membunuh waktu.

Padahal, subhanallah, Allah dengan Maha cermat dan Maha adil telah membagikan waktu dengan seadil-adilnya, dengan secermat-cermatnya tanpa akan luput satupun. Setiap orang pastilah akan mendapat jumlah waktu yang sama, yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari di tempat manapun di dunia ini. Di negara maju, negara berkembang, atau negara yang hancur terpuruk sekalipun tetap 24 jam perhari 60 menit per jam.

Singapura 24 jam per hari, Singaparna 24 jam per hari, Chichago 60 menit per jam, Cikaso 60 menit per jam, semuanya sama. Pengusaha sukses, yang jatuh bangun, atau bahkan yang bangkrut sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. The Best Executive, karyawan asal-asalan,dan pengangguran kelas berat sekalipun jatah waktunya tetap sama 24 jam per hari. Seorang bintang kelas; yang biasa saja, atau yang tidak naik kelas sekalipun tetap 24 jam per hari 60 menit per jam. Maka, nyatalah bahwa yang menjadi masalah bukan jumlah waktunya, tapi isi waktunya.

Sebab, ada yang dalam waktu 24 jam itu mampu mengurus negara, jutaan orang, atau aneka perusahaan raksasa dengan beratus ribu orang, tapi ada yang dalam 24 jam mengurus diri saja tidak mampu! Naudzhubillah, Karakteristik waktu memang sebuah keunikan, bahkan ia suatu misteri kehidupan ini, yang terekam dalam tik-tok jam, tercatat dalam buku harian, terhitung dalam kalender tahunan, terukir dalam prasasti-prasasti kehidupan. Walau, sebenarnya ukuran-ukuran itu akan kurang berarti, sebab ukuran waktu yang nyata adalah kehidupan kita sendiri. Ya, hidup kita adalah waktu itu sendiri, yang menggelinding tiada henti. Sebagai makhluk ciptaan-Nya waktu ternyata memiliki tabiat tersendiri, waktu adalah terpendek karena tak pernah cukup menyelesaikan tugas hidup. Waktu adalah terpanjang karena ia adalah ukuran keabadian. Waktu akan berlalu cepat bagi mereka yang bersuka cita. Waktu berjalan sangat lambat bagi yang dirundung derita. Waktu adalah saksi sejarah yang akan membeberkan segala kehinaan dan kenistaan yang kita lakukan.

Waktu adalah perekam abadi yang akan mengekalkan segala keagungan dan kemuliaan seseorang. Dan yang utama waktu modal kita, kehidupan kita. Tiada yang dapat terjadi tanpa dia. Maka, sungguh suatu kerugian yang sangat besar bila seorang hamba tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan sangat baik dan optimal. Allah berfirman, “Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran” [Q.S. AI Ashr: (103): 1-3].

Imam Syafii mengatakan bahwa, “Cukup dengan Surat Al Ashr, Al-Quran sudah terwakili”. Subhanallah, demikian pentingnya waktu dalam pandangan Allah. Dikisahkan bahwa suatu waktu Khalifah Umar bin Abdulaziz sesampai di rumah setelah mengurus jenazah Sulaiman bin Abdul Malik kakeknya ia (Umar) sedang istirahat tidur-tiduran di ranjang, kemudian datang anaknya Abdul Malik, dan ia bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, gerangan apakah yang membaringkan anda di siang hari bolong ini. Jawab ayahnya; “Aku letih, aku butuh istirahat”. Abdul Malik berkata; “Pantaskah anda beristirahat padahal banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, lihat di sana rakyat yang tertindas butuh pertolonganmu.” jawab ayahnya, “Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu yang mendorong aku istirahat, nanti setelah shalat dhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang-orang yang tertindas dan teraniaya”. Anaknya bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah yang menjamin anda hidup sampai dhuhur. Bagaimana kalau Allah menakdirkan anda mati sekarang?” Kemudian Umar bangun dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang kelaparan.

Dalam kisah ini, nampaklah betapa beratnya tanggung jawab untuk mengelola waktu. Bagaimana pula dengan kita yang telah diberi amanah mengurus bumi ini? Subhanallah, marilah kita berlindung kepada Allah dari kelalaian memanfaatkan waktu seraya memohon agar dikaruniakan kemampuan untuk mengelola waktu dengan optimal, penuh makna, sesuai dengan yang telah dituntunkan Allah dan Rosul-Nya. Ada dua hal yang perlu kita lakukan, agar memiliki keunggulan dalam hidup ini, yaitu:

a. Waktu boleh sama tapi isi harus beda

Ajaran Islam sangat menghargai waktu, Allah SWT sendiri berkali-kali bersumpah dalam Al Quran berkaitan dengan waktu. Wal ‘ashri (Demi waktu), Wadh dhuha (Demi waktu dhuha), Wallail (Demi waktu malam), Wannahar (Demi waktu siang). Allah juga sangat menyukai orang yang shalat lima waktu dengan tepat waktu, memuliakan sepertiga malam sebagai waktu mustajabnya doa, dan waktu dhuha sebagai waktu yang disukai-Nya. Maka, sangat beruntunglah orang-orang yang mengisi waktunya efektif hanya dengan mempersembahkan yang terbaik dalam rangka beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi, yang artinya, “Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru-seru: “Wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh sebab itu manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak kembali lagi sehingga hari pengadilan.” (H.R. Turmudzi).

Cobalah bayangkan, andaikata dalam suatu perlombaan balap sepeda, dalam satu detik si A berhasil mengayuh satu putaran, si B setengah putaran, dan si C mengayuh dua putaran. Siapa yang jadi juaranya? Maka, dengan meyakinkan si C-lah yang akan berpeluang menjadi juara, mengapa? Karena pada detik yang sama si C dapat berbuat lebih banyak daripada yang lain. Nah, begitupun kita semua semakin banyak dan baik hal positif yang kita lakukan dalam waktu yang sama, insyaAllah kita akan lebih dekat dengan kesuksesan. Persis dengan apa yang anda lakukan saat ini, pada saat yang sama ada yang sedang tidur, sedang di WC, sedang bermain atau mungkin bermaksiat atau apa saja, dan pada saat akhir membaca tulisan ini. Maka, hasilnya pun berbeda-beda tergantung dari apa yang dilakukan, dan anda insyaAllah beruntung karena telah mendapat ilmu yang mahal yaitu bagaimana mengelola modal hidup ini, yakni waktu.

b. Sekarang harus lebih baik daripada tadi

Sahabat-sahabat, sungguh kita merasakan bahwa seringkali kita tidak begitu serius menghargai waktu, sehingga kadang-kadang menghamburkannya tanpa guna. Kadangkala kesia-siaan selalu menjadi bagian dari hidup kita ini; bersantai-santai tanpa merasa rugi waktu, berbicara sia-sia tanpa merasa berdosa, berjalan tanpa tujuan hanya untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal, sungguh waktu adalah modal kita dalam mengarungi kehidupan ini. Kalau kita mengoptimalkan modal kita, maka beruntunglah kita, tapi kalau kita menyia-nyiakannya.Maka sangat pasti akan rugilah kita. Orang yang bodoh adalah orang yang diberi modal (waktu), kemudian dengan modal itu ia sia-siakan. Naudzhubillah. Padahal, andaikata hari ini sama dengan hari kemarin berarti kecepatan kita sama, tak ada peningkatan. maka tak akan pernah bisa menyusul siapapun, dan andaikata orang lain selalu meningkat, maka kita akan tertinggal dan jadi pecundang. Rasulullah SAW. mengingatkan kita dengan sabdanya, ” Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang-orang yang merugi” (H.R. Dailami).

 

Maka, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari kemarin, bahkan kalau bisa sekarang ini harus lebih baik daripada barusan tadi, dalam hal apapun. Kalau tidak demikian, maka harus diakui bahwa hari ini adalah hari yang gagal dan rugi, dan ingat andaikata hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti kita terkena musibah, kerugian yang sangat besar dan mencelakakan diri. Naudzhubillah, hal ini tak boleh terjadi pada diri kita. Rasulullah SAW sendiri mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki waktu kita, sebab setiap waktu memiliki beban persoalan tersendiri, sabdanya, “Carilah yang lima sebelum datang yang lima, yaitu manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu (dengan ibadah), gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu (dengan amal saleh), gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu (dengan sedekah), gunakanlah masa hidupmu sebelum datang masa matimu (mencari bekal untuk hidup setelah mati). gunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu.’ (Al Hadits).

Dari uraian diatas, maka sebenarnya ada tiga kelompok orang yang menggunakan waktu, yaitu:

1. Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, dan ia melakukan sesuatu yang tidak diminati oleh orang yang gagal.

2. Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan selalu memulai sesuatu dengan esok harinya.

3. Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi orang hebat, tidak ada hari esok. Dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja sesuatu kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam.

Maka , mulai sekarang waspadalah terhadap waktu. Setiap detik yang kita lalui harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya, sematang-matangnya, dan seakurat-akuratnya, lalu mengisinya dengan hal-hal yang membuahkan peningkatan kemampuan kita. Kita tidak hanya perlu bekerja keras, tapi kita perlu juga bekerja keras dan cerdas. Lebih jauh kita lagi kita perlu kerja keras, cerdas dan efektif, sehingga waktu yang kita gunakan akan lebih optimal, bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti.***

 

Empat Rahasia Ahli Syukur

Penulis: Aa Gym

 Semoga Allah Yang Maha Menatap, Maha Gagah, Maha Menguasai segala-galanya mengaruniakan kepada kita hati yang bersih sehingga bisa menangkap hikmah di balik kejadian apapun yang kita rasa dan kita saksikan, karena penderitaan dalam hidup bukan karena kejadian yang menimpa tapi karena kita tertutup dari hikmah.

Allah menakdirkan apapun Maha Cermat, tidak pernah mendzolimi makhluk-makhluk-Nya. Kita sengsara adalah karena kita yang mendzolimi diri sendiri.

“Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu.”

Firman Allah SWT: La in Syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)

Wa maa bikummin ni’matin faminallohi tsumma idzaa massakumudllurru failaihi tajaruun (Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan , maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS.16: 53)

Wa ammaa bini’mati rabbika fahaddits (Dan terhadap Nikmat Tuhan-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(QS.93: 11)*

*(diambil dari kitab Al Hikam; Syekh Ahmad Atailah)

Jadi setiap nikmat itu menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya. Kita sering menginginkan nikmat padahal rahasia yang bisa mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada. Jangan engkau lepaskan nikmat yang besar dengan tidak mensyukuri nikmat yang kecil.

Tidak usah risau terhadap nikmat yang belum ada, justru risaulah kalau nikmat yang ada tidak disyukuri. Allah sudah berjanji kepada kita dengan janji yang pasti ditepati, La in syakartum la-aziidannakum (jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)

Maka, daripada kita sengsara oleh nikmat yang belum ada lebih baik bagaimana yang ada bisa disyukuri. Sayangnya kalau kita mendengar kata syukuran itu yang terbayang hanya makanan, padahal syukuran itu adalah bentuk amal yang dahsyat sekali pengaruhnya.

Syarat yang pertama menjadi ahli syukur adalah hati tidak merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik Allah SWT. Makin kita merasa memiliki sesuatu akan makin takut kehilangan, takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan. Tapi kalau kita yakin semuanya milik Allah, maka diambil oleh Allah tidak layak kita merasa kehilangan karena kita merasa tertitipi. Makin merasa rejeki itu milik manusia kita akan merasa berharap kepada manusia dan akan makin sengsara, senikmat-nikmat dalam hidup adalah kalau kita tidak berharap kepada mahluk tetapi berharap hanya kepada Allah SWT.

Rahasia yang kedua ahli syukur adalah “orang yang selalu memuji Allah dalam segala kondisi”. Karena apa? Karena kalau dibandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya. Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada bertepi. Apa yang harus membuat kita menderita? Adalah menderita karena kita tamak kepada yang belum ada.

Ciri yang ketiga dari ahli syukur adalah manfaatkan nikmat yang ada untuk mendekat kepada Allah. Alkisah ada tiga pengendara kuda masuk kedalam belantara, ketika dia tertidur kemudian saat terjaga dilihat kudanya telah hilang semua. Betapa kagetnya mereka dan pada saat yang sama dalam keadaan kaget, ternyata seorang raja yang bijaksana melihat hal tersebut dan mengirimkan kuda yang baru lengkap dengan perbekalan. Ketika dikirimkan reaksi ketiga pengendara yang hilang kudanya itu berbeda-beda. Si-A kaget dan berkomentar, “Wah ini hebat sekali kuda, bagus ototnya, bekalnya banyak pula!” Dia sibuk dengan kuda tanpa bertanya kuda siapakah ini.

Si-B, gembira dengan kuda yang ada dan berkomentar, “Wah ini kuda hebat,” sambil berterima kasih kepada yang memberi. Sikap C beda lagi, ia berkomentar “Lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik siapa? Yang ditanya menjawab, “Ini kuda milik raja.” Si-C bertanya kembali “Kenapa raja memberikan kuda ini? Dijawab “Sebab raja mengirim kuda agar engkau mudah bertemu dengan sang raja”. dia gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat memudahkan dia dekat dengan sang raja.

Nah begitulah, si-A adalah manusia yang kalau mendapatkan mobil, motor, rumah, dan kedudukan sibuk dengan kendaraan itu, tanpa sadar bahwa itu adalah titipan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang punya dunia tapi dia tidak sadar bahwa itu titipan Allah. Yang B mungkin adalah model kita yang ketika senang kita mengucap Alhamdulillah, tetapi ahli syukur yang asli adalah yang ketiga yang kalau punya sesuatu dia berpikir bahwa inilah kendaraan yang dapat menjadi pendekat kepada Allah SWT.

Ketika mempunyai uang dia mengucap Alhamdulillah, uang inilah pendekat saya kepada Allah, dia tidak berat untuk membayar zakat, dia ringan untuk bersadaqah, karena tidak akan berkurang harta dengan bersadaqah.

Maka, jika sahabat ingin banyak uang, sederhana saja rumusnya, pakailah uang yang ada untuk berjuang di jalan Allah. Jangan heran jika rejeki datang melimpah. Punya rumah ingin nikmat bukan masalah ada atau tidak ada AC, bukan masalah ukuran, tetapi rumah yang nikmat adalah rumah yang menjadi kendaraan untuk mendekat kepada Allah. Bangunlah rumah yang tidak membuat kita sombong, belilah asesoris rumah yang membuat setiap tamu yang datang menjadi dekat kepada Allah, bukan ingat kepada kekayaan kita. Pasanglah hiasan yang mebuat tamu kita ingat kepada kekuasaan Allah bukan kekuasaan kita. Itulah rumah yang Insya Allah tenang dan barokah. Tapi kalau rumah dipakai untuk pamer dan menginginkan kursi yang amat mewah, potret-potretnya yang tidak membuat ingat kepada Allah, malah ujub, riya takabur, tidak usah heran rumah itu semakin diminati pencuri, dan rumah yang diminati pencuri itu membuat strees bagi yang punya. Dia harus menyewa alarm, menggaji satpam, di depan harus ada anjing. Coba kalau rumahnya ingat kepada Allah dia tidak akan sesibuk itu.

Mohon maaf kepada saudara-saudaraku yang kaya tidak apa-apa memiliki yang bagus, tapi usahakan setiap tamu yang masuk ke rumah bukan ingat kepada kita tetapi ingat kepada kekayaan Allah. Andai kita mempunyai jabatan, lalu bagaimana cara mensyukurinya? Gunakanlah jabatan itu agar karyawan kita dekat kepada Allah.

Kesungguhan kita untuk mendidik anak lebih baik daripada punya anak tetapi tidak tahu agama, lalu bagaimana anak itu akan memuliakan ibu bapaknya? Ketika kita mati mereka hanya berebut harta warisan jangankan mensholatkan ibu bapaknya.

Maka orang yang bersyukur yang adalah orang yang mendidik anaknya supaya dekat dengan Allah. Di dunia nama orang tuanya terbawa harum karena anaknya mulia. Di kubur lapang kuburnya karena doa anaknya. Di akherat Insya Allah akan terbawa karena barokah mendidik anak.

Kunci syukur yang keempat adalah berterima kasih kepada yang telah menjadi jalan nikmat. Seorang anak disebut ahli syukur kalau dia tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya. Dimana-mana anak sholeh itu harum namanya. Tapi anak durhaka tidak pernah ada jalan menjadi mulia sebab kenapa? Karena mereka tidak tahu balas budi. Benar orang tua kita tidak seideal yang kita harapkan, tetapi masalah kita bukan bagaimana sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua.

Saudara-saudaraku yang budiman negeri kita dikatakan negeri bersyukur kalau sadar bahwa negeri ini adalah titipan dari Allah, bukan milik seseorang, bukan milik pahlawan, bukan milik siapapun yang membangun negeri. Tapi negeri ini tidak ada pemiliknya selain Allah tapi kita episodenya hidup di Indonesia. Maka syukuri, jangan minder jadi orang Indonesia yang disebutkan negara koruptor, tetapi justru kita yang harus bangkit untuk tidak korupsi! Dengan minder tidak akan menyelesaikan masalah. Kita harus bangkit! Negara ini harus jadi ladang untuk mendekat kepada Allah.

Dengan ada perasaan dongkol, sakit hati, itu semuanya tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan menambah masalah. Sekarang justru kesempatan kita menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi. Daripada sibuk mempermasalahkan masalah lebih baik mari kita sedikit demi sedikit menyelesaikan masalah. Itulah namanya syukur nikmat.

Dan sahabat-sahabat, salah satu tugas kita untuk mensyukuri nikmat adalah kita harus memilih pemimpin kita yang berakhlaq baik yang bisa membimbing kita. Rakyat seluruh negeri ini menjadi orang yang baik-baik. Kita membutuhkan suri tauladan yang baik. Jangan pernah melihat orang dari topeng duniawinya tetapi lihatlah orang dari akhlaqnya karemna akhlaq adalah buah dari keimanan dan keilmuan yang diamalkan. Harta, gelar, pangkat, jabatan dan kedudukan yang tidak menjadikan kemuliaan akhlaq seseorang berarti dia telah terpedaya. Kita tidak membutuhkan topeng. Yang kita butuhkan adalah isi dan isi inilah milik orang-orang yang ahli syukur kepada Allah.

Mudah-mudahan daripada kita memikirkan yang tidak ada lebih baik mensyukuri yang ada. Wallahu a’lam Bishowab. ***

Disampaikan dalam Kajian Hikam Kamis 29 Agustus 2002 di Masjid Daarut Tauhiid dan disiarkan trans TV Ahad 8 Agustus 2002.

.

Zuhud

Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar

 Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya :

Pertama, orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini

biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai

dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.

Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Ketiga, orang tak berharta tapi berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina kalau menjadi beban dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun tetap juga berpeluang menjadi mulia jikalau sangat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, tegar, dan memiliki harga diri.

Keempat, orang yang berharta tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang

mulia dan memiliki keutamaan. Dia mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tidak berbiaya tinggi, tidak menjadi bahan iri dengki orang lain, dan tertutup peluang menjadi sombong, serta takabur plus riya. Dan yang lebih menawan akan menjadi contoh kebaikan yang tidak habis-habisnya untuk menjadi bahan pembicaraan. Memang aneh tapi nyata jika orang yang berkecukupan harta tapi mampu hidup bersahaja (tentu tanpa kikir). Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya yang lebih kaya dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya, subhanallaah.

Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak

mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin dengan janji dan jaminan Allah.

Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.

Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang

dimilikinya tidak mejadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri.

Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin. Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara. Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tidak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja.

Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang parkir yang petantang

petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain

waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress. Kenapa sampai demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa memiliki, melainkan merasa dititipi. Ini rumusnya.

Seharusnya begitulah sikap kita akan dunia ini. Punya harta melimpah,

deposito jutaan rupiah, mobil keluaran terbaru paling mewah, tidak

menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu juga sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan putus asa. Semuanya biasa-biasa saja. Bukankah semuanya hanya titipan saja? Suka-suka yang menitipkan, mau diambil sampai habis tandas sekalipun, silahkan saja, persoalannya kita hanya dititipi.

Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, “Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.” (HR. Ahmad).***

 

Hikmah Ayat Kursi

Penulis: Aa Gym

Bismillahirrahmanirrahiim,

“Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Na. Kursi (pengetahuan/kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Al Baqarah: 255).

Maha Agung Allah yang Maha dahsyat dengan ayat-ayat yang Dia sampaikan kepada hamba-hamba-Nya, yang meyakini dan mengamalkan, dan membimbing menuju kemuliaan Ialah Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

Saudaraku, ini adalah ayat Kursi, yang sarat dengan keindahan, keagungan dan kebesaran Allah. Allah yang tiada tuhan selain Dia. Yang kekal serta terus menerus mengurus segala-galanya, Allah tidak tersentuh oleh kantuk, apalagi tertidur. Semuanya dalam kesibukan mengurus hamba-hamba-Nya. Allah selalu dalam kesibukan mengurus hamba-hamba-Nya.

Tiada satupun yang memiliki apapun di langit dan bumi selain Allah dan tidak ada syafaat selain Allah, termasuk siapapun yang diizinkan-Nya memberi syafaat. Tiada yang tersembunyi karena Allah Maha Tahu apa yang ada di depan, di belakang, samping kiri kanan, luar dan dalam Allah Maha Tahu segala-galanya. Dan mahluk tidak pernah tahu apapun kecuali yang Allah kehendaki. Kita tidak pernah tahu apa-apa kecuali sepercik ilmu yang Allah berikan kepada kita.

Kekuasaaan Allah meliputi langit dan bumi, total dan sempurna. Dan Allah tidak berat sama sekali mengurus apapun yang Dia ciptakan, Dia genggam, memelihara segala-galanya. Andaikata kita meyakini, kedahsyatan, kehebatan Allah ini, maka kita akan puas memiliki pelindung Allah SWT. Kita memiliki penjamin, Ialah Allah SWT. Kita memiliki penuntun, Ialah Allah Yang Maha Tahu segala-galanya. Memang orang yang paling puas dan paling bahagia dalam hidup adalah orang yang paling yakin dengan kehebatan, keagungan, kebesaran Allah dan segala janji serta jaminan-Nya.

Semoga kita semua semua termasuk orang yang bisa memahami ayat Kursi dengan baik, mengamalkannya dengan benar dan meyakini hikmah yang tersirat di dalamnya.***

 

Allah Pelindung Orang yang Beriman

Penulis: Aa Gym

Bismillahirrahmannirrahiim,

“Tidak ada paksaan untuk agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” (QS: Al Baqarah ayat 256-257)

Alhamdulillahhirrobil alamin…

Mahasuci Allah yang telah mengislamkan kita. Sebuah karunia yang amat besar yang bisa membedakan kesesatan dan kebenaran. Wahai saudaraku, semoga Allah mengaruniakan dirimu Istiqomah dalam Islam, karena ternyata surat Al Baqarah ayat 256 menyiratkah hikmah bahwa Islam begitu jelas: Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam karena jelas yang benar dan yang bathil, tinggal hati memilih kebenaraan atau kebathilan. Ingkar kepada Allah tidak menambah kemudharatan bagi Allah Yang Maha Agung, kecuali mudharat bagi dirinya sendiri.

Surat Al Baqarah ayat 257 menyiratkan Allahlah pelindung orang yang beriman. Allah yang mengeluarkan kita dari kegelapan, kekafiran menuju kepada keimanan. Sedangkan orang-orang yang kufur kepada Allah justru berlindung kepada syaitan yang terkutuk, yang sebaliknya mengeluarkan dari cahaya menuju kegelapan.

Saudaraku, orang-orang yang dibimbing oleh Allah akan mudah melangkah bagai langkah dalam cahaya yang terang benderang dan itulah perlindungan dari Allah. Tapi orang-orang yang ada dalam kegelapan batin was-was tidak bisa membedakan mana nikmat mana mudharat. Kegelisahan, kegalauan akan menghiasi setiap gerak langkah dan waktunya.

Oleh karena itu, bersyukurlah kita jikalau kita termasuk orang yang beriman, karena Allahlah yang akan mencahayai setiap gerak langkah hidup kita. Nikmat sekali hidup bisa menatap lurus apa yang akan kita tempuh. Nikmat yang belum didapat sudah kita rasakan nikmatnya karena jelas ini nikmat dari Allah. Subhanallah.

Semoga Allah mengaruniakan kita istiqamah dalam Islam dan iman dan memberikan hidayah kepada saudara-saudara kita lainnya untuk memasuki agama Islam karena melihat cahaya kebenaran bukan karena paksaan siapapun jua. Laa iqro hafiddin, tiada paksaan untuk memasuki agama Islam. ***

 

Pribadi Muslim Berprestasi

Penulis: KH. Abdullah Gymnastiar

Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji. Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!

Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.

Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah …” (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini? Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman.

Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita, yang merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam. Kita jarang merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.

Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan kualitas.

Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.

Misalnya saja shalat, “Qadaflahal muinuun. Alladziina hum fii shalaatihim” (QS. Al Muinuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas shalatnya. Sebaliknya, “Fawailullilmushalliin. Alladziina humn shalatihim saahuun” (QS. Al Maaun [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya!

Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.

Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para pemuda yang unggul juga bisa bermanfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.

Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.

Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan terbaik pula.

Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.

Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!

Ingat, wahai hamba-hamba Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang mauf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah …!(QS. Ali Imran [3] : 110)

Oleh  : KH Abdullah Gymnastiar

 ManajemenQolbu.Com : Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmai’iin. Saudara-saudara yang baik, Alangkah beruntungnya andaikata selama hidup yang sebentar ini kita diberikan karunia rumah tangga yang sakinah, rumah tangga yang penuh dengan ketentraman.Karena sebuah rumah tangga akan menjadi basis ,sepatutnya rumah tangga menjadi pangkalan ; ketika diluar gelisah tetapi ketika masuk rumah menjadi tentram, ketika di luar lelah masuk rumah Insya Allah menjadi kuat, diluar tergelincir berlumpur dosa masuk ke rumah mempunyai kemampuan bertaubat.

Andaikata rumah tangga  ini benar-benar dengan sadar dijadikan pangkalan. Subhanalloh betapa banyak orang yang berumah tangga kemudian akan melejit kemampuannya. Bayangkanlah seorang istri dengan latar belakang kemampuan masa lalu yang berbeda bertemu dengan seorang suami yang latar belakang keilmuan dan wawasan yang berbeda, hal ini pasti membutuhkan sebuah energi. Belum lagi pengalaman mertua, belum lagi ada anak-anak yang mungkin dari rumah ke sekolah bisa menghimpun suatu informasi, kemampuan yang seharusnya setiap masuk ke rumah menjadi semakin meningkat. Namun kenyataannya tidak sedikit orang yang malah menjadi parah dengan berumah tangga ,ada yang suaminya dikantor dikenal tapi dirumah tidak ada harga sama sekali. Di kantor memimpin ribuan orang ; sebagai direktur misalnya, tetapi dirumahnya untuk memimpin dua orang anak saja hampir gagal. Ada yang dikantornya dihormati tetapi di keluarganya sendiri ditertawakan.

Tidak sedikit kita lihat rumah tangga seseorang atau karir seorang ayah terpelanting atau coreng moreng oleh anaknya sendiri ,seorang ibu terjungkal oleh anak-anaknya sendiri, bahkan beberapa saat yang lalu ada seorang suami yang karirnya bagus, pendidikkannya tinggi , ketika sedang pergi ke luar negeri ternyata (maaf)  Istrinya berzina.Naudzubillahi Min Dzalik.

Saudaraku, rumah tangga itu tidak seindah seperti yang kita duga kalau tidak tahu rumusnya. Lalu Kenapa rumah tangga bisa babak belur? salah satu penyebabnya adalah karena rumah tangga yang kurang ilmu sehingga visinya tidak jelas akan dibawa kemana. Ada yang arahnya hanya duniawi saja dimana alat ukurnya hanya harta atau kedudukan .Justru karena alat ukur yang salah menyebabkan cara menilainya pun menjadi salah ; anak yang pendidikannya kurang tinggi dianggap tidak sukses, bapak yang penghasilannya sedikit dianggap gagal. Begitulah yang terjadi kalau alat ukunya salah.

Ada orang yang berumah tangga tetapi ilmunya tidak bertambah,  dulu memang dia belum punya anak tapi ketika sekarang mempunyai anak tentu dibutuhkan ilmu yang baru. Anak akan terus tumbuh dari TK,SD, remaja hingga dewasa , tapi ada orang yang mendidik anak memakai pola yang sama dengan zaman orang tuanya tersebut sehingga tidak cocok dengan perkembangan zaman sekarang.

Ada juga orang yang membangun rumah tangga dengan sisa waktu ; untuk keluarga sisa tenaga, sisa pikiran. Semuanya untuk kantor,untuk bisnis dan mencari uang sedangkan anak dibangun dengan sisa, lalu apa yang akan terjadi jika sesuatu dibangun dengan sisa? rumah tangga sisa waktu misalnya ; bapak berangkat sebelum anak bangun dan pulang sesudah anak tidur, akibatnya ? Anak merasa tidak punya bapak, Istri tidak ada kasih sayang.

Pahamilah sebuah rumah tangga tidak bisa dibangun hanya dengan uang, tetapi ada yang lebih berharga dari uang yaitu sikap. Makanya maaf-maaf saja bangsa kita yang babak belur begini sulit mencari pemimpin-pemimpin karena rumah tangganya belum terbentuk dengan baik. Kalau masyarakat kita rumah tangganya tidak sehat, akibatnya hanya akan melahirkan keturunan yang tidak sehat. Dan inilah yang akan menjadi pemimpin negara kita sehingga menimbulkan Negara yang tidak sehat.

Prioritas untuk perbaikan masalah ini yaitu kembali lagi kepada keluarga.“ A’udzubillaahi minasyaithoonirrojiim Wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajal li taskuunuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddataw wa rahmatan inna fii dzaalika la aayaatil li qaumiy yatafakkaruun. Artinya: Dan diantaranya tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kamu istri dari jenismu supaya kamu tenteram bersamanya. Dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (Q.S : Ar Ruum/30,21)

Jika seseorang menikah kurang ilmu dan hanya mengandalkan cinta saja maka ketahuilah cinta tidak cukup untuk bekal , tapi harus ada perangkat lain yang membuat rumah tangga menjadi sakinah.Jangan ada kata patah semangat, mulai saat ini kita harus sungguh-sungguh untuk menetapkan visi yang jelas dengan menjadikan sebuah rumah tangga menjadi basis ketenteraman bagai suami,istri dan anak. Yang sering terjadi justru sebaliknya, jadi seharusnya rahasia terpenting sebuah ketentraman adalah “A’udzubillaahi minasyaithoonirrojiim alaa bi dzikrillaahi tathma innul quluub” artinya : Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. 13 : 28)

Andaikata sebuah rumah tangga tidak tertanam nilai-nilai agama, tidak banyak didengarkan nama Allah,ayat-ayat Allah dan  tidak pernah dipakai untuk sujud kepada Allah, Jangan heran jika rumah tangga itu tidak akan menemukan ketenteraman.Ketahuilah barokah dari ilmu agama yang dipelajari secara sistematis, ibadah yang sistematis kita lakukan, banyak dipakai untuk Sholat Tahajud, Membaca Al Qur’an, lagu-lagu yang diperdengarkan lagu-lagu yang mengingatkan kepada Allah, barang-barang yang ada adalah barang-barang yang membuat ingat kepada Allah akan menyebabkan siapapun yang masuk ke rumah kita yang diingat adalah kebesaran Allah, dan Insya Allah kita tidak menjadi sombong. Itulah rumah yang diantaranya akan mendapatkan ketentraman. Wallahu’alam(and/mikha)[www.manajemenqolbu.com]***.

 

  

Kekayaan Yang Hakiki

 

Oleh       : KH Abdullah Gymnastiar

 ManajemenQolbu.Com : Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmai’iin. Saudaraku yang budiman, kekayaan seseorang itu tidak terletak pada uangnya tetapi terletak pada bathinnya.

*)“ Hendaknya membelanjakan setiap orang kaya menurut kekayaannya ialah mereka yang telah sampai kepada Alloh dan orang yang terbatas rejekinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Alloh, orang yang telah sampai kepada Alloh karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Alloh ke alam tauhid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan paham yang terbatas mereka inipun mengeluarkan sekedarnya”

*) Dari Kitab Al Hikam Syekh Ibnu Ataillah

Saudaraku, orang yang kaya itu bisa dilihat dari sedikitnya kebutuhan karena kalau orang sedikit kebutuhannya sehingga senang menafkahkan kekayaannya itulah orang yang kaya harta , tapi kalau orang memiliki uang dan lebih sibuk disembunyikan dalam tabungannya sebenarnya dia termasuk miskin karena dia takut berkurang rejekinya. Pahamilah, makin banyak takut kekurangan akan membuat semakin miskin,padahal orang yang kaya tidak pernah takut kekurangan.

Orang yang paling kaya hakiki adalah orang yang yakin kepada jaminan Alloh sehingga dia ringan untuk bershadaqah, karena shadaqah tidak akan mengurangi harta tetapi justru akan menambah. Jadi jangan melihat kekayaan orang dari apa yang dimilikinya tapi lihatlah kekayaan orang dari apa yang bisa dinafkahkannya.

Kekayaan lain adalah ilmu, orang yang kaya dengan ilmu dia akan leluasa mengajari ilmu. Dia akan mencari ilmu yang kemudian dia sampaikan kepada orang lain sesudah dia amalkan. Tapi ada juga orang yang memiliki ilmu kemudian dia kikir dan tidak mau memberikan kepada yang lain, orang seperti ini  sebetulnya bukan termasuk orang yang berilmu.

Ciri keilmuan seseorang adalah kalau dengan ilmunya dia makin lapang dan semakin dekat dengan Alloh dan makin gemar memberikan ilmunya bagai cahaya matahari yang tidak pernah merasa rugi dengan mengeluarkan cahayanya.

Kekayaan seorang ahli makrifat adalah kekayaan dengan mengenal Alloh dengan baik , dan dia kaya dengan pengenalan akan kebesaran dan Keagungan Alloh. Seorang ahli makrifat akan sangat leluasa menjelaskan siapa Alloh, dan tidak semua orang dapat menjelaskan Alloh bahkan ada orang yang untuk menyebut Alloh saja tidak sanggup, paling tinggi dia hanya berani menyebut Tuhan , Yang di Atas ,atau Dia Yang Maha Kuasa, semuanya terasa begitu berat sekali karena dia memang miskin dalam keyakinan kepada Alloh.

Saudaraku, orang yang miskin akan keyakinan sulit sekali untuk memberikan ketenangan pada istrinya, kepada anaknya, dan dia sendiri tidak memiliki sumber ketenangan itu. Orang yang jauh dari Alloh dia selalu gelisah dan tidak bisa menenangkan keluarganya , karena apa yang akan dia tenangkan ? dia sendiri saja tidak memiliki sumber ketenangan.

Makanya orang yang sudah kenal dan akrab dengan Alloh dirinya akan memiliki ketenangan yang melimpah kepada dirinya , akibatnya dia bisa menenangkan banyak orang di sekitarnya.Misalnya ; ketika wajahnya bersikap tenang saja sudah membuat orang lain tenang menatapnya.

Orang yang sudah mengenal Alloh sekujur tubuhnya memiliki ketenangan yang luar biasa dan dia kaya sekali untuk mendistribusikan ketenangannya kepada oranglain, kaya untuk mendistribusikan hartanya karena dia tidak takut miskin, kaya untuk mendistribusikan ilmunya, tenaganya dan pikirannya. Inilah orang yang kaya hakiki.

Orang yang leluasa sekali untuk mendoakan orang lain, senang menolong orang lain dan tidak pernah berat untuk menyenangkan orang lain serta menghormati orang, itulah orang yang kaya hakiki. Karena ada orang yang miskin dengan penghargaan , itu terlihat dari sikapnya yang dimanapun ingin selalu dihargai dan dihormati, ingin dibedakan , ingin dispesialkan dan kalau tidak dihargai dia malah sakit hati,dan itu semua menandakan kemiskinannya karena sebenanya dia belum berharga.

Bagi seorang yang makrifat kepada Alloh, dia kaya karena dia tidak membutuhkan apapun dan dari siapapun kecuali dari Alloh semata. Sehingga hidupnya tenang dan mantap , tidak menjilat, tidak meminta-minta , tidak menggadaikan dirinya. Mungkin rumahnya sederhana tapi bathinnya megah , mungkin uangnya sedikit tapi bathinnya kaya, mungkin tanahnya sempit tapi hatinya lapang , mungkin tubuhnya mungil tapi jiwanya besar. Dan inilah kekayaan hakiki.

Saudaraku yang budiman, jangan sampai mengganggap melimpahnya kekayaan sebagai karunia Alloh yang memuliakan kita, karena belum tentu karena adakalanya berbentuk istidraj namanya, yaitu ; oleh Alloh diberi tapi hanya menambah kerugian dan kesesatan. Waspadalah saudaraku, kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan pada bathin kita. Wallahu a’alam (mikha) [www.manajemenqolbu.com]*** 

 

Menghidupkan Hati

Oleh       : KH Abdullah Gymnastiar

 ManajemenQolbu.Com : Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmai’iin .Saudaraku yang baik, saat ini kita mencoba memohon pertolongan Allah agar kita lebih mengenal siapa Allah , bagaimana cara mendekat kepada Allah dan tahu apa yang akan menghijab dari Allah.

 Bagaimana akan dapat terang hati seorang yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa cermin hatinya, atau bagaimana akan pergi menuju kepada Allah  padahal ia masih terikat dan terbelenggu oleh syahwat hawa nafsunya, atau bagaimana akan dapat masuk ke hadirat Allah padahal ia belum bersih suci dari kelalaiannya atau bagiannya yang di sini diumpamakan dengan janabatnya mengharap akan mengerti rahasia yang halus padahal ia belum bertobat dari kekeliruan-kekeliruannya”(*Dari Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Ataillah)

Saudaraku yang baik, bagaimana mungkin seseorang hatinya akan terang benderang kalau di hatinya ini selalu duniawi saja yang terlukis, bagaimana mungkin seseorang akan dapat mendekat bergerak kepada Allah kalau dia masih diikat dan dibelenggu oleh syahwat nafsunya , dan bagaimana bisa membuka pintu gerbang kedekatan dengan Allah kalau dia masih melumuri dirinya dengan aib dosa dan belum mensucikan dirinya.

Kurang lebih kita ibaratkan sebuah wadah. Bagaimana bisa diisi makanan yang nikmat andaikata wadah ini penuh dengan kotoran , penuh dengan belatung. Tentu senikmat apapun makanan tidak akan pernah dinikmati , karena tidak bisa bercampur kotoran dan kesucian.

Suatu saat Nabi Muhammad saw pernah berjalan melalui pasar yang diikuti sahabat dan orang-orang lain. Kebetulan beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang putus telinganya. Ditunjukkannya kambing tersebut sambil bersabda: “Siapa diantara kalian yang mau menerima kambing ini dengan harga satu dirham?” Orang-orang menjawab: “Kami tidak ingin memilikinya”. Nabi bersabda: “Apakah kalian mau memilikinya tanpa bayaran?” Salah seorang menjawab: “Demi Allah, sekiranya dia hidup pun kami tidak menyukainya, karena telinganya putus, apalagi sudah menjadi bangkai begini, buat apa?”.

Nabi saw. bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya dunia ini menurut pandangan Allah, lebih hina dari pandanganmu terhadap bangkai anak kambing ini”.(H.R. Muslim yang bersumber dari Jabir)

Dunia yang mana ; harta ? kedudukan ?  jabatan ? , ternyata Rasulullah berharta , Rasulullah memiliki kedudukan dan populer , Rasulullah memiliki kekuasaan .Yang disebut dunia adalah semua yang disebutkan tadi yang membuat lalai kepada Allah ,contoh ; mencari harta dan membuat lalai kepada Allah itulah dunia ; membabi buta mencari nafkah sedangkan shalat diabaikan , kejujuran diabaikan. Itulah pecinta dunia .

Sedangkan pecinta Allah sama sibuknya dengan gigih mencari harta tetapi selalu Allah yang dipikirkan , karena yakin Allah yang membagikan rejeki ; dia berdagang tapi dia yakin Allah yang menggerakan pembeli , dia tidak mau mengurangi timbangan 1 mg pun , dan dia tidak mau ada ketidakjujuran yang dia inginkan hanya untuk memudahkan jual beli karena jual beli yang mudah diberkahi oleh Allah.

Dia tidak akan tamak dengan keuntungan karena dia tahu menguntungkan orang lain adalah disukai oleh Allah , dia bisnis , dia sibuk dengan harta tetapi kesibukannya membuat dia semakin taat kepada Allah ,yang seperti itu bukan bukan dunia yang menghinakan.

Pebisnis atau pedagang yang jujur termasuk orang yang berkedudukan di sisi Allah, dan kelak kalau sudah wafat bisa setara kekasih-kekasih Allah , mengapa ? karena hiruk pikuk dunianya justru membuat dia dekat dengan Allah , ini perlu kita pahami.

Lalu kekuasaan ; ada orang yang berkuasa kemudian jadi dzalim dan sibuk mempertahankan kekuasaannya, sepanjang hari yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana berkuasa , itu adalah duniawi. Tapi bagi orang yang tidak tamak dengan kekuasaan justru yang dia pikirkan adalah bagaimana dengan kekuasaannya kebenaran bisa menjadi milik ummat , bagaimana dengan kekuasaannnya keadilan dapat ditegakkan dan memudahkan orang lain untuk dekat dengan Allah, nah kekuasaan yang seperti ini tidak diartikan sebagai duniawi .

Selanjutnya bagaimana orang bisa melesat berjalan ke arah Allah kalau dirinya masih terbelenggu ,bukankah kalau kita terbelenggu sulit untuk melangkah ? bukankah kita kalau diikat sulit untuk mendekat ? maka Allah menciptakan nafsu bagi kita bukan untuk membelenggu kita untuk mendekat kepada Allah tapi orang-orang yang diperbudak nafsu memang akan terikat.

Kita ambil contoh dengan nafsu perut ; seseorang yang nafsu perutnya telah membelenggu maka yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana untuk mencari makanan yang enak yang dapat memuaskan perutnya.Dia rela untuk pergi jauh dan membayar dengan harga yang mahal untuk memuaskan perutnya.

Tapi bagi orang yang lapar dan laparnya digunakan untuk mendekat kepada Allah ,maka dia akan taklukan nafsu perutnya itu dengan shaum . Tidak boleh diperbudak makanan, dia hanya mau makan kalau sudah lapar , dia berhenti makan ketika sebelum kenyang , setiap dia makan yang dia lihat bukan makanannnya tapi siapa yang memberi makannya, walaupun hanya dengan garam dia tahu semua ini karunia Allah. Makan penuh dengan rasa syukur karena lidahnya masih berasa , makan dengan rasa syukur karena masih berjumpa dengan nasi dan garam , makan dengan rasa syukur karena kita masih bisa menikmati makanan dibanding saudara kita yang lapar , maka dia makan tapi bukan nafsu yang berjalan tapi makrifat dia menemukan butir-butir nasi. Allahu Akbar !

Padahal dirinya jauh dari ladang tetapi dia dimudahkan ; ada bagian yang mengetam, menumbuk , ada bagian yang memasak, dan sekarang dia terpilih pada sebagai orang yang menikmati makanan yang dihidangkan oleh Allah nun jauh dari sana.Garam dari laut ada yang mengambil, mengeringkan sampai di piring ,Allahu Akbar ! .

Maka ,lapar yang seperti itu Insya Allah akan menjadi pendekat kepada Allah.Inilah kenikmatan dan orang yang menjalankan makan penuh dengan ingatan kepada Allah sepanjang makan Insya Allah jadi ibadah , sambil makan ingat kepada saudaranya yang lapar dan makin bertambah rasa syukurnya. Jauh berbeda dengan pecinta nafsu hari demi hari diperbudak dengan makanan saja , belum lagi yang diperbudak oleh amarah sehari-hari hanya dipikirkan bagaimana memuntahkan ketidaksukaannya

Jadi bagaimana kita akan mendekat kepada Allah kalau kita belum membersihkan diri kita , Allah Maha Suci sedangkan kita amat nista “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri.” (QS. 2 : 222).

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membuat hati kita menjadi tempat kasih sayang Allah ? kalau pada diri ini kita kumpulkan kebencian , maka sulit orang-orang yang tidak punya waktu untuk membersihkan hati  untuk meraup kedekatan dengan Allah , “Qad aflaha man zakkaahaa, Wa qad khaaba man dassaahaa” (Q.S: Asy Syams: 9-10) Artinya : Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.

Maka kegigihan kita untuk sekuat tenaga bertobat, ketika berbuat dosa hapus kembali dengan tobat ; 1 noktah tinta bersihkan , jangan biarkan tinta-tinta ini berkumpul menebal karena akan sangat sulit membersihkannya, perbanyaklah istighfar karena kalau cermin sudah berkilau Insya Allah kita akan tahu siapa diri kita dan orang lain pun dapat memanfaatkan cermin ini.

Kita rindu sekali agar dibimbing oleh Allah, Allah lah yang Maha Tahu semua ilmu yang bisa membuat kita sampai kepadanya Allah-lah Yang Maha Tahu bagaimana kita bisa mengenalnya. Maka kuncinya adalah berusahalah sekuat tenaga untuk menjadi orang yang mendekat dengan cara mengamalkan ilmu karena barang siapa yang mengamalkan ilmu yang diketahuinya niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahui oleh kita. Wallahu a’lam (mikha)[www.manajemenqolbu.com]***

 

Allah Penjamin Rejeki

Oleh       : KH Abdullah Gymnastiar

 ManajemenQolbu.Com : Duhai Yang Menghembuskan setiap angin , wahai Yang Menurunkan setiap tetesan hujan , apapun Yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepadaMu , wahai Yang Maha Menatap , ijinkanlah pertemuan demi pertemuan kami membuat semakin jelas agar kami dapat mengenalMu , merasakan kehadiranMu, merasakan tatapanMu, Merasakan kokohnya perlindunganMu , Tiada Tuhan selain Engkau wahai Yang Maha Mendengar lindungi pertemuan ini dari ilmu yang dapat menjauhkan kami dariMu.

Tenangkanlah dirimu dari memikirkan urusan duniawi, karena apa yang telah direncanakan Allah Ta’ala bagimu, tidak perlu kamu sibuk memikirkannya “(Dari Mutu Manikam Kitab Al Hikam)

Allah berfirman dalam surat Al Ankabut 60 :

Wa ka ayyim min daabbatil laa tahmilu rizqahallaahu yarzuquhaa wa iyyaakum wa huwas samii’ul ‘aliim.

 Artinya : Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus ) rejekinya sendiri. Allah-lah Yang Memberi Rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Saudaraku, penyimak ManajemenQolbu yang budiman surat Al Ankabut ayat 60 ini menunjukan bahwa semua makhluk telah dijamin rejekinya oleh Allah , yang tidak dijamin adalah ganjaran karena ganjaran harus kita cari , pahala harus kita cari tapi rejeki sudah menjadi jaminan Allah SWT, oleh karena itu Syekh Ahmad Ataillah menganjurkan “jangan risaukan apa yang telah dijanjikan Allah kepada kita tapi risaukanlah kalau kita lalai menjalankan kewajiban2 yang dibebankan kepada kita”

Luar biasa pentingnya bagi kita untuk menjaga diri dari apapun yang membuat kita tidak bisa melaksanakan kewajiban kita,sederhananya begini ada seseorang yang disuruh majikannya untuk bekerja , tidak mungkin majikan ini lupa memberi makan kepada hamba sahayanya karena jika sampai lupa diberi makan, hamba sahaya ini tidak akan bisa bekerja, makin bagus kerjanya kalau majikan bijaksana pasti akan dicukupi pakaiannya karena tidak mungkin dia akan dapat bekerja tanpa pakaian, pasti dicukupi makananya karena dia tidak akan bisa bekerja tanpa kekuatan, ini hanya sekedar ilustrasi manusia yang banyak kikirnya dan banyak alpanya , lalu bagaimana mungkin Allah Yang Memerintahkan kita ibadah  “Wa maa kholaqtuljinna wal insa illa liya’buduun “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah (menyembah) pada-Ku”(QS. Adz Dzariyat : 56 )bagaimana mungkin Allah Memerintahkan kita ibadah dan kalau kita ibadah tidak dicukupi.

Kita ambil contoh shalat ; untuk shalat kita harus memakai penutup aurat , kalau kita mau shalat pasti Allah memberi rejekinya karena yang menyuruh kita menutup aurat adalah Allah , kita disuruh bershadaqah ,kalau kita mau bershadaqah tidak mungkin Allah tidak memberikan rejeki , lalu bagaimana mungkin kita bisa bershadaqah kalau kita tidak memiliki rejekinya , sedangkan pembagi rejeki adalah Allah , kita pasti diberi makan karena kalau tidak diberi makan bagaimana kita bisa menolong orang, kalau kita tidak diberi makan bagaimana bisa ibadah , jadi andakata kita tahu kewajiban kita dan kita tunaikan, Demi Allah !  Allah tidak akan pernah menyia-nyiakannya .

Maka saudaraku, kewajiban kita yang pertama adalah husnudzon , berbaik sangka bahwa Allah adalah penjamin rejeki , karena Allah berfirman dalam hadits qudsi “ Aku sesuai prasangka hambaku “ jadi kita harus berprasangka baik kepada Allah “Yakin bahwa kita sudah ada rejekinya, hanya kita harus menjemput dengan cara yang kreatif “

Yang kedua kewajiban kita adalah ikhtiar dengan ikhtiarnya yang Allah sukai , sudah cukup itu ! kalau Allah menyuruh kita jujur, maka  kejujuran tidak akan pernah meleset.Kalau Allah memerintahkan kita shalat dan bisnis tidak boleh melalaikan shalat , maka ketika kita mendengar kumandang adzan , segeralah untuk menutup toko lalu shalatlah ,lalu pertanyaannya nanti ,bagaimana dengan pembeli ? rejeki itu bukan datang  dari pembeli tapi dari Allah yang datang  lewat pembeli , tidak mungkin Allah memerintahkan kita shalat lalu gara-gara shalat kita menjadi terhalang rejeki.

Kita diperintahkan untuk membayarkan zakat, bukankah uang yang kita miliki adalah milik Allah, maka tunaikanlah zakat karena uang itu bukan milik kita, kalau Allah mau mengambil mudah saja, misalnya diberikan saja ujian dengan tabrakan atau sakit pasti akhirnya akan keluar juga uang yang semula kita pertahankan, maka daripada dipaksa keluar uang lebih baik tunaikan saja, Allah lah yang dengan Keagungannya dan Maha Bertangung jawab Mengatur lalu litas rejeki kita

Saudaraku maka hidup ini mudah sebenarnya kalau kita sudah tahu rumusnya, sayangnya kita ini lebih sibuk memikirkan apa yang dijanjikan Allah daripada apa yang menjadi kewajiban kita , sayangnya kita ini lebih sibuk memikirkan sesuatu yang tidak harus kita pikirkan.

Apakah dengan bersadaqah itu kita menjadi miskin ? justru jaminan Allah diberikan kalau kita merasakan nikmatnya , melakukan yang diwajibkan oleh Allah SWT. marilah saudaraku, bisnis yang baik adalah bisnis yang yakin bahwa Allah pembagi rejeki , bekerja yang baik bukan mengabdi kepada atasan , karena atasan akan mati di kemudian hari,kita tidak mengabdi kepada perusahaan bekerja itu adalah mengabdi kepada Allah, jangan tergiur oleh harta haram karena tanpa licik pun kita akan berjumpa dengan rejeki kita,lihatlah binatang-binatang selalu ada rejekinya, lihatlah cecak bukankah makanannya dapat terbang kesana kemari karena memiliki sayap , tapi ternyata tetap saja cecak berjumpa dengan rejekinya.Subhanalloh ! Oleh karena itu jJangan pernah risau saudaraku, karena Allah satu-satunyanya penjamin rejeki.kewajiban kita adalah luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.Wallahu a’lam (mikha)[http://www.manajemenqolbu.com]***

 

Cahaya Di Dalam Hati

Oleh       : KH Abdullah Gymnastiar

 

ManajemenQolbu.Com : Alhamdullilaahhirrabil  aa’lamin  Allahuma Shalli ‘Ala Muhammad Wa’ala aliihi Washahbihii Ajma’in ‘Amma Ba’du. Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita.

*)Syekh Ataillah bertutur : ”Nur yang tersimpan dalam hati , datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban”

Nurul yaqin (cahaya keyakinan) yang tersimpan dalam hati hamba Allah yang arifin dan berkeyakinan teguh , datangnya dari khasanah kegaiban Allah Ta’ala. Alam semesta ini menjadi terang benderang karena cahaya benda-benda langit yang diciptakan Allah. Sedang cahaya yang menerangi hati manusia adalah nur dari sifat-sifat Allah. Cahaya yang nampak adalah bekas cahaya yang diciptakan Allah, dan cahaya yang tidak nampak adalah cahaya dari sifat-sifat Allah.

Syekh Ataillah melanjutkan lagi : Nur yang memancar dari panca inderamu, adalah berasal dari ciptaan Allah, dan cahaya yang memancar dari hatimu adalah berasal dari sifat-sifat Allah.*)

*)Dari Mutu Manikam Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Ataillah

Saudaraku,Ada mata indera dan ada mata hati, mata indera bisa melihat apa yang diberikan cahaya oleh Allah berupa cahaya alam ini, sedangkan mata hati dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh pandangan mata.

Allah SWT tidak bisa dilihat oleh mata karena mata ini terlalu lemah, melihat yang jauh saja tidak mampu begitupun untuk melihat yang sangat dekat,orang yang hatinya diberi cahaya oleh Allah ketika melihat sesuatu hatinya pun ikut melihat keagungan Allah,kita coba ambil contoh : ketika seseorang melihat kucing di jalan, hatinyapun ikut melihat dalam arti ikut merasakan keagungan Allah Yang Menciptakan kucing.

Maka orang-orang yang hatinya bersih, dia akan melihat alam ini berbeda dengan yang terlihat oleh mata , mungkin melihat ular matanya memandang jijik, tetapi orang yang hatinya sudah bersih, ketika melihat ular dirinya merasakan kekaguman kepada Allah yang menciptakan ular, melihat nyamuk mungkin orang gemas karena takut akan mengambil darahnya, tetapi orang yang sudah ma’rifat melihat nyamuk dia melihat bagaimana Allah memberi makan kepada makhluk-makhluknya.

Ada orang yang terpesona kepada boneka, dan dipujinya pabrik yang membuat bonekanya itu,”wah Jepang hebat ! bisa membuat boneka yang bagus, tetapi lain lagi dengan orang yang mata hatinya melihat ; mata melihat boneka dan hati melihat Allah.

Pertanyaannya, kenapa kita kagum kepada orang-orang yang membuat boneka, tetapi tidak kagum kepada anak yang memainkan boneka? seharusnya melihat boneka saja kagum, apalagi melihat anak-anak yang memainkan boneka, padahal anak-anak yang memainkan boneka itu bisa menangis, bisa tertawa, bisa makan,dan lain sebagainya sedangkan boneka ? tidak bisa apa-apa,sayang sekali pabrik boneka dipuji, tetapi Pencipta anak-anak yang memainkan boneka tidak dipuji. 

Kalau saudaraku hatinya tertutup, maka dunia ini menakutkan ; melihat uang takut tidak kebagian,ketika sudah dapat justru takut hilang, tetapi orang-orang yang hatinya terbuka, Insya Allah tidak ada kerisauan tentang uang, tidak ada kerisauan tentang rezeki karena  rezeki sudah pasti Allah yang membagikan, tidak akan pernah tertukar , tetapi begitulah karena hati belum yakin dan tidak beriman, lihatlah para koruptor yang mencuri uang rakyat. Kalau punya iman kenapa harus licik, rezeki sudah ada sebelum kita dilahirkan, tetapi begitulah orang-orang yang takut, padahal yang seharusnya kita takuti bukan takut tidak punya uang tetapi takut tidak punya jujur dan takut tidak punya syukur, takut tidak punya sabar, saudaraku Aa ingin mengingatkan…….  satu pulsa saja menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi itu sudah mencuri, statusnya sama mencuri pulsa, walaupun hanya satu pulsa.

Jika seseorang diberi ujian dengan sakit maka hikmah tubuh merasakan sakit, tapi hati mengenal dan mengingat dosa, mengingat yang lain ada yang lebih menderita. Karena ada yang sakit hanya pada sakit saja, tidak sampai kepada kesadaran bahwa sakit ini sebuah peringatan dari Allah SWT.

kepada rekan-rekan yang banyak bicara ,lebih baik memperbanyak dzikir daripada banyak bicara kecuali yang bermanfaat, orang yang beruntung itu adalah orang yang diingatkan di dunia ini, justru yang gawat adalah orang yang diberi kelancaran oleh Allah dalam maksiat.

Kalau ada pertanyaan, bagaimana kiat menjaga hati ini ? langkah-langkahnya adalah pertama ; hindari maksiat karena maksiat itu menutupi hati, jika terlanjur berbuat maksiat di masa lalu bertaubatlah dengan menyesali, minta ampun,  dan menjauhi apa yang menjadi jalan maksiat .Langkah kedua adalah perbanyaklah membaca Al Quran karena akan menghidupkan hati.

Yang ketiga perbanyak Ilmu, karena tanpa ilmu tidak ada motivasi dan yang keempat cari lingkungan yang baik., bergaul dengan tukang minyak wangi terbawa harum, bergaul dengan pandai besi akan bau bakaran, bergaul dengan ahli mesum menjadi mesum, bergaul dengan ahli tahajud menjadi tahajud, bergaul dengan yang tidak merokok menjadi tidak merokok.Marilah kita rasakan apapun yang kita raba dengan indera membuat kita mengenal hikmah dibalik setiap kejadian yang ada, hati-hati menjaga diri.Tidak pernah menimpa kepada kita bencana kecuali hasil perbuatan sendiri.Wallahu’alam (and/mikha)[http://manajemenqolbu.com]***

 

 

 

 

 

 

 

 

Apabila Dunia Mulai Suram Akhirat Pun Nampak

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

ManajemenQolbu.Com : “Apabila cahaya keyakinan telah menerangi hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat sangat dekat denganmu, daripada perjalananmu menuju ke sana. Kalian akan melihat pula keindahan dunia ini telah ditutupi kesuraman yang mencekam yang datang menimpanya”

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya cahaya keyakinan itu apabila telah masuk ke dalam hati, maka lapanglah dada menerimanya. “ditanyakan kepada rasulullah, “ apakah hal seperti itu ada tanda-tandanya ? “ jawab Nabi Saw, “ Ya engkau menghindarkan dirimu dari tipuan dunia, serta bersegera mendekati akhirat yang abadi dan bersiap-siaplah menunggu datangnya maut. “

Sahabat Anas ra bertutur , ketika Rasulullah Saw dalam suatu perjalanan berjumpa dengan seorang pemuda Ansar, beliau bertanya , “ Bagaimana  keadaanmu pagi ini  ya Haritsah?  Ia menjawab ,”Aku menjadi seorang mukmin yang bersungguh-sungguh .” Mendengar  ini Rasulullah  Saw,”Ya Rasulullah, jiwaku ini sangat bosan  melihat keadaan dunia ini, lalu bangun  tengah malam dan berpuasa siang hari. Saat ini seakan-akan  aku berhadapan dengan ‘Arasy Allah,dan melihat ahli surga yang sedang bersilaturahmi. Demikian  juga terbayang olehku bagaimana ahli neraka itu disiksa  dan merintih kesakitan.”

Rasulullah Saw, pun menjelaskan ,”Engkau telah melihat itu semua, maka hendaklah tetap pendirianmu. Engkau telah menjadi hamba yang dianugerahi cahaya keimanan dalam hatimu. “Haritsah memohon kepada  Rasulullah , agar didoakan  untuk mendapati mati syahid . Lalu Rasulullah Saw , berdoa untuk Haritsah . Ketika  pada suatu masa  datanglah  perintah  dari Rasulullah  bagi para  pemuda untuk bersiap jihad fi sabilillah , maka Haritsahlah yang pertama mendaftarkan dirinya . Ia pun syahid  dalam suatu pertempuran  melawan orang kafir.

Ketika ibunya mendengar berita  tewasnya  Haritsah sebagai syuhada , ia segera menjumpai Rasulullah Saw. Sang ibu yang sangat mencintai  putranya ini bertanya ,”Ya ,Rasulullah, benarkah berita tentang kematian Haritsah? Jika ia di surga aku tidak akan menyesal dan tidak akan menangis selama hidupku di dunia. Rasulullah Saw, pun menyenangkan  hati ibu ini, dengan jawaban, “Haritsah telah masuk surga, bukan hanya satu surga  akan tetapi surga dalam surga-surga. Ia telah mencapai surga  Firdaus  yang sangat tinggi. Ibu Haritsah ini pun kembali dengan senyum-senyum  sambil berkata,” Sangatlah beruntung engkau wahai anakku.”(Mutu Manikam Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Athailah)

Jadi kalau Allah sudah memberi nur cahaya ke hati seseorang maka ciri yang khas adalah akherat begitu terasa. Apa yang diceritakan Allah tentang Sorga, tentang akherat itu terasa benarnya, terasa yakinnya, apa yang diancamkan Allah tentang neraka terasa bahayanya, terasa takutnya, akibatnya apa ? yaitu dia tidak sedap terhadap dunia, tidak cinta terhadap dunia bukan berarti tidak punya dunia, tapi tidak menarik hatinya.

Mempunyai mobil bagus tidak menarik, rumah bagus tidak menarik, kedudukan tinggi tidak menarik, bukan tidak punya tapi tidak menarik hati , lalu apa cirinya ? yaitu ada atau tiada sama saja.

Nabi Muhammad Saw memiliki kuda yang  bagus-bagus, Nabi Muhammad Saw suatu saat membeli unta bagus, tapi diberikan kembali dengan mudah dan ringannya, Nabi Muhammad Saw punya emas banyak tapi dalam waktu sekejap dibagikannya emas itu sampai habis, Nabi Muhammad Saw pernah ada yang membuatkan baju yang bagus, ketika dipakai, lalu kemudian ada yang meminta dengan ringan diberikan saja kepada yang memintanya.

Ciri lainnya dari orang yang sudah bagus imannya yaitu  dia banyak sekali ingat mati, kalau ada yang ber cerita tentang akherat dia begitu ingin,dia memandang kematian itu bukan sesuatu yang menakutkan, lihat contohnya ketika Haritsah ditanya tentang permohonannya oleh Rasulullah Saw , Haritsah memohon kepada Rasulullah agar didoakan untuk mendapat mati syahid, tetapi kita ? justru ketika meminta didoakan biasanya kita meminta panjang umur, ketika ditanya berapa panjangnya ? kita tidak bisa menjawab.

Padahal syahid itu masuk surga tanpa hisab, tapi kita ? didoakan syahid justru pikir-pikir dulu karena sayang takut berdarah, padahal orang yang mati syahid menurut Rasulullah ketika ditanya apa yang kau inginkan ? saya ingin hidup lagi dan terbunuh syahid lagi, saking nikmatnya syahid. Ini benar, mungkin tidak terjangkau oleh orang-orang yang pengetahuan agamanya sedikit dan imannya lemah.

Bagi orang-orang yang meyakini, kematian itu menjadi ringan bahkan rindu menjalani kematian di jalan Allah.

Ciri orang yang sudah dibukakan hatinya dan diberikan nur oleh Allah ;

1.        Melihat akherat itu menjadi nyata, terbayang di akherat berjumpa dengan Allah , terbayang di akherat bisa berjumpa dengan Allah dan Rasulullah dan itu benar-benar mempesona dirinya. Juga terbayang orang-orang yang membara di dalam neraka dan itu menakutkannya.

2.        Melihat dunia tidak menarik , kedudukan, pangkat , dan jabatan hanya dianggap accecories. Dia tidak bangga dengan jabatannya biasa-biasa saja, tidak malu dengan jabatan yang kecil biasa-biasa saja, lihat uang seribu, sejuta, semiliar biasa-biasa saja., sekarang punya uang Rp 25 juta lalu disedekahkan, biasa-biasa saja dia akan berkata tadinya tidak ada sekarang tidak ada. Rumah , mobil, harta biasa-biasa saja tidak ada yang menarik, tidak tergiur ingin kelihatan keren dan ingin kelihatan wah ! .Lalu apakah tidak boleh kita punya mobil bagus ? tentu saja boleh, Nabi Sulaeman saja memiliki istana yang megah , yang tidak boleh itu adalah  terpikat , tercuri hatinya sehingga merasa mulia dengan hartanya, merasa mulia dengan kedudukannya dan takut kehilangan.

3.        Berhitung mati, ketika mau tidur senantiasa berpikir “  jangan-jangan saya mati malam ini  ?, maka saya harus bersiap-siap dengan mempersembahkan  wudhu yang baik, zikir yang baik , saya harus menyiapkan amalan saya sebelum tidur dengan dzikrullah. Menurut Rasul orang yang tidur dalam keadaan berzikir maka sepanjang tidurnya dianggap zikir, karena tidak ada jaminan besok kita akan bangun, siapa yang dapat menjamin besok kita akan bangun ?, maka ketika bangun ucapkan Alhamdulillahilladzii Ahyanaa Ba’da maa Amaatanaa Wailaihin Nusuur

Segala puji bagi Allah yang menghidupkan sesudah mematikan”.

Mau pergi ke kantor belum tentu pulang lagi, siapa tahu di jalan tabrakan,

Mau ke bioskop ? silahkan , mau ke diskotik ? silahkan , siap-siap saja mati di sana.

Maka ketika Rasul suatu saat ditanya “ Ya Rasul siapa orang yang paling cerdas ? yang paling cerdas adalah yang paling banyak ingat mati dan paling mempersiapkan diri untuk mati”.

Saudaraku marilah kita berlatih melihat dunia ini biasa-biasa saja , lihat sesuatu yang menarik tentu boleh karena itu manusiawi yang jangan itu ialah kita  terpesona sehingga menipu diri.Jangan sampai kendaraan lebih berharga daripada yang punya, jangan sampai rumah lebih bagus dibandingkan dari yang punya.

Kita membutuhkan topeng yang bagus, tapi yang punya topeng harus lebih bagus dibandingkan topengnya, sehingga tidak akan pernah takut ketika dibuka topengnya.Wallahu a’lam bishowab (mikha)[manajemenqolbu.com]***

Sumber : Kajian Hikam Kamis 15 Agustus 2002

 

Tiga Jenis Kesabaran

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

ManajemenQolbu.Com – Muhasabah Jum’at : Banyak yang berpenampilan indah tetapi terhina, sebab dia tidak punya kesabaran, banyak orang yang akhirnya rugi padahal dia punya modal apa sebabnya karena dia tidak punya kesabaran.Banyak orang yang tergelincir ketika dilanda asmara dan tidak sabar, akibatnya rugi.Alangkah indahnya orang-orang yang diberi kesabaran .

Innalloha ma’ashoobiriin ” Sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar (QS. 2; 153) ” Sabar itu pahalanya bighoiri hisab , tiada terputus ,maka sungguh aneh jikalau kita ingin dekat dengan Allah, ingin indah , ingin berpahala, ingin bahagia tapi tidak sabar, karena sabar itu kunci, kalau kita punya sabar maka kita akan punya pribadi yang indah, kalau kita punya sabar kita akan menjadi orang yang dekat dengan Allah , kalau kita punya sabar, kita akan mendapatkan ganjaran yang tiada terputus.

Setidaknya ada tiga jenis yang harus kita sabari dalam hidup ini , yang pertama ; Sabar ketika berkeinginan,kita ini kan hari-harinya dituntun oleh keinginan kalau tidak sabar keinginan inilah yang akan menjerumuskan kita. Jadi sabar yang pertama adalah meluruskan niat ketika kita punya keinginan .

Kita dikarunia Allah keinginan dan keinginan itulah yang menuntun sikap , kalau tidak sabar kita kehilangan niat, padahal niat adalah kunci diterimanya amal, ada orang yang cape pontang-panting , tapi tidak ada nilainya, karena apa ? karena tidak sabar meluruskan niat,..maka sebelum beramal wajib bagi kita untuk meluruskan niat , karena tanpa niat amal sia-sia.

Kadang orang tidak sibuk meluruskan niat tapi sibuk dengan perbuatannya, misalkan ingin membeli pakaian , kita harus bertanya dulu pada diri kita ” perlukah saya membeli pakaian lagi, padahal dilemari masih banyak pakaian ? ” “Untuk Apa ? ” tapi kan ini warnanya kurang cocok ,…..” kurang cocok kata siapa ? ” Jujur saja apakah warnanya kurang cocok ataukah ingin lagi ? ” Untuk apa memberatkan hisab, jikalau pakaian indah tapi kelakuan tidak indah tidak ada gunanya.Ketika sudah akan beli tanya lagi pada diri kita ” benarkah kita beli sesuatu itu karena Allah atau karena ingin dipuji ?’ tanya, tanya ,tanya,……………!

Ingin menikah ? kita harus sabar untuk mengevaluasi dulu , kumpulkan informasi terlebih dahulu,studi kelayakan, pokoknya jika ingin sesuatu kumpulkan data terlebih dahulu ,. Sudah layakkah kita menikah ? jangan tergesa-gesa, renungkan dalam-dalam, kumpulkan informasi yang lengkap, bertanya kepada yang ahli , sebab kalau sudah ingin itu biasanya nafsu , kalau nafsu itu membutakan kebenaran. Kita harus sabar untuk bertanya, “benarkah niat saya ini ? benarkah tujuan saya ini ? ,mintalah petunjuk kepada Allah dengan shalat istikhoroh .

Lalu yang harus kita miliki kesabaran adalah Sabar Berproses , nah kita biasanya tidak sanggup untuk berproses , yang harus kita nikmati itu bukan hasil tetapi proses , karena yang jadi pahala itu proses , seperti membuat kue serabi misalnya ; beras ditumbuk, lalu diayak, lalu marut kelapa, lalu diperas, lalu diolah, kemudian menyiapkan oncom untuk isinya ,oncom digoreng, buat sambal oncom, belum lagi badan mengeluarkan keringat, tangan terparut,lalu harus menyiapkan pembakaran , kemudian setelah menjadi serabi ?, hanya sekejap saja makan dan menikmatinya,……begitu tidak sebanding dengan proses pembuatannya.Makanya rugi, kalau amal hanya ujungnya saja , karena bagi kita proseslah yang menjadi amal.

Membangun Daarut Tauhiid ini pontang panting , mengumpulkan dana, membebaskan setiap jengkal tanah,cari sana sini, lalu ujung-ujungnya setelah selesai ,Aa meninggal, yah…….tidak apa-apa , karena yang kita nikmati itu adalah prosesnya, sedangkan hasilnya ada di sisi Allah.jadi kita harus sabar dalam proses, jangan grasak grusuk ingin segera ada hasilnya, harus seperti pohon, ….siap disirami, siap kena sinar matahari, siap kena angin, tumbuh, kokoh, dan akhirnya berbuah.Makanya kita butuh kesabaran dalam menempuh hidup ini, jangan ingin instant, saudara misalnya ingin kuliah selesai dalam dua tahun untuk mendapatkan gelar Insinyur,apalah artinya gelar insinyur jika pribadi kita tidak mengimbangi dengan keindahan, jadi kita harus sabar dalam belajar, sabar dalam berlatih, sabar dalam berumah tangga, sabar dalam berdagang, jangan licik dengan mengurangi timbangan, karena mau apa ………? rejeki itu sudah ada pada Allah, karena yang penting itu dagang kita jadi barokah.Jadi semuanya itu membutuhkan kesabaran.

Kesabaran yang ketiga adalah Sabar ketika hasil , hasil itu ada dua jenis, yaitu gagal dan sukses dan kedua-duanya butuh kesabaran.Sudah niat ingin kerja , sudah ikhtiar melamar kerja kesana kesini, daftar kesana kemari,harus sabar jika kita belum diterima, setiap langkah kita Insya Allah ada pahalanya , mungkin belum ada rejekinya disana, kita tidak usah sibuk mengeluh.Lalu rejekinya dimana ? mungkin memang rejeki kita bukan jadi seorang pekerja tetapi menjadi seorang pengusaha yang menjadi direktur utama, merangkap direktur inti dan karyawan tunggal.

Ikhwan sudah melamar lalu ditolak, gagal ? tidak ……..justru keberhasilannya adalah ditolak , berarti dia punya pengalaman ditolak , misalkan sudah pernah ditolak tiga kali, berarti dia sudah memiliki pengalaman menghadapi tiga jenis calon mertua. Harus sabar menghadapinya karena mungkin belum menjadi jodohnya.Dengan melamar niat menjadi amal, berangkatnya menjadi amal, berbicara baik-baik dengan calon mertua menjadi amal, lalu hasilnya ditolak, jika kita sabar jadi amal juga.harus sabar karena kegagalan itu bukan kegagalan versi kita , tetapi kegagalan itu adalah ketika kita tidak sabar menghadapi yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Jadi kalau gagal , jangan sampai jadi gagal betulan, gagal betulan itu adalah salah menyikapi kegagalan,karena kegagalan yang sebenarnya itu adalah jika kita tidak pernah mencoba. Gagal itu biasa , kenapa ? karena tidak selamanya yang kita inginkan itu cocok dengan Allah. Kita punya rencana, Allah punya rencana yang akan terjadi adalah rencana Allah , kenapa Allah menakdirkan sesuatu lalu kita anggap gagal ? padahal itu yang terbaik .

Tidak heran sesorang dibimbing Allah dengan sakit, sesorang dibimbing Allah dengan ditolak, seseorang dibimbing Allah lewat dihina, bisa jadi sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.Makanya harus sabar menghadapi sesuatu yang tidak cocok dengan keinginan kita.

Misalkan bisnis rugi, harus sabar karena yang membagikan rejeki hanyalah Allah.Tapi gara-gara rugi kita jadi dililit hutang, berapa sih hutangnya ? bandingkan dengan kekayaan Allah , kita menjadi susah karena kita membandingkannya dengan kemampuan diri kita.Kalau kita mati-matian evaluasi diri, kita mati-matian mendekat kepada Allah , sangat mustahil Allah tidak akan menolong hamba-Nya.

Wamayyattaqillaha yaj’allahu makhrojaa (QS 65 ; 2) ” Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”

Sabar itu posnya bermacam-macam, ada yang sabar ketika menahan amarah tetapi tidak sabar ketika shalat,yang baik itu yang disebut Σ kesabaran , amarah…… sabar, menahan nafsu…… sabar, menahan keinginan …..sabar,beribadah…….sabar. Apalagi yang harus sabar ?, ini yang paling bahaya adalah harus sabar ketika sukses,sabar ketika diberi kelapangan, sabar ketika dipuji, sabar ketika diberi kecukupan, kekayaan, kekuasaan, ini jauh lebih berat, lebih banyak orang yang selamat diuji dengan kesusahan dibandingkan orang yang selamat diuji dengan kemudahan.

Jadi yang sukses itu yang seperti apa ? yang disebut sukses itu adalah yang menyikapi segala kelebihannya dengan kesabaran di jalan Allah. Jadi sabar itu adlah kegigihan yang berada di jalan Allah SWT . Wallahu’alam. (mikha)[manajemenqolbu.com]***

 (intisari muhasabah kamis malam jum’at tanggal 11 Juli 2002 di Masjid Daarut Tauhiid Bandung)

 

Sabar Ketika Lapang

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

(Intisari Muhasabah Jum’at 20 Juni 2002)

 ManajemenQolbu.Com – Muhasabah Jumat : Setiap kata yang terambil dari akar kata shod, ba dan ro ini maknanya berkisar dalam tiga hal , yang pertama yaitu menahan, yang kedua ketinggian sesuatu dan yang ketiga adalah sejenis batu.sekarang kita coba ambil salah satu , maka orang yang ahli sabar adalah orang yang paling bisa menahan.Dan kesabaran yang kali ini kita bahas bukan kesabaran ketika kita susah , tapi sabar ketika mudah , “tidak jarang orang dalam kesempitan bisa bersikap sabar tetapi dalam kelapangan susah untuk sabar”, bahkan ada sebuah ada sebuah nasehat ” Jika orang dicoba dengan kesempitan banyak yang sukses dengan kesabarannya, tetapi orang yang diuji dengan kelapangan susahv untuk sukses dengan kesabarannya”.

Berhati-hatilah bagi orang yang kaya, memiliki jabatan , populer dan dihormati, ini lebih kritis dibandingkan orang-orang yang diuji dengan kesulitan.Salah satu contoh ketidaksabaran kita adalah “cara kita dalam menilai orang lain” misalnya kita ditakdirkan Allah memiliki anak yang baik semuanya , tiba tiba kita merasa paling sholeh sedunia & , padahal itu semua karunia Allah,! “jika dengan memiliki anak baik kita menjadi rendah hati itulah sebenarnya karunia” , “tapi jika dengan memiliki anak yang baik jadi berprasangka buruk kepada orang lain”,itulah yang salah , padahal siapa tahu orang lain yang dititipi anak yang belum sholeh justru terus bergulat untuk senantiasa berbaik sangka kepada Allah, dan berjuang keras untuk membela dan menyelamatkan anaknya.

Kenaikan pangkat juga tidak identik dengan kesuksesan sejati , mengapa ? karena ujiannya akan bertambah ; karir meningkat, uang makin banyak , makin dihormati jika tidak hati-hati itulah yang akan menjatuhkan, yang dengki akan makin banyak , peluang riya akan makin melimpah. Oleh karena itu jangan ukur kesuksesan dengan kesuksesan duniawi.”Jika naik pangkat makin mulia akhlaqnya itulah karunia sebenarnya, tetapi jika dengan naik pangkat justru makin ujub , takabur dan makin jauh dari Allah itu adalah fitnah atau cobaan.

Lalu apa sebenarnya tanda orang sukses ? “tanda orang sukses itu adalah ketika diberi sesuatu dan sesuatu itu menjadi makin dekat dengan Allah SWT “, apakah diijabahnya do’a merupakan tanda kemuliaan ? belum tentu& & .., apalagi bila merasa ujub karena cepat diijabahnya do’ a kita, padahal siapa tahu orang lain yang belum diijabah do ‘anya oleh Allah terus berjuang untuk senantiasa dekat dan bermunajat setiap saat kepada Allah.

“Kita harus senantiasa berhati-hati jangan sampai amal kita yang sedikit menjadi hangus karena kebusukan hati , sudah amal kita sedikit lalu hati merendahkan menghina, takabur , maka tidak akan selamat,biasakanlah bersabar dengan berbaik sangka dalam menyikapi setiap kejadian.

“Hai orang-orang yang beriman , jauhilah kebanyakan dari prasangka , sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang (Q.S Al Hujurat 12)”

Mari kita nikmati bersabar dalam kelapangan dan bersabar dalam kemudahan.Berjuang terus agar tidak berkomentar buruk pada setiap kejadian yang kita jalani.Sikap sabar kita termasuk jangan menceritakan penderitaan kita kepada orang lain, karena biasanya kita sangat senang bila orang lain ikut menderita, dan biasanya cerita kita itu didramatisir.Jangan sampai ketika kita mendapat ujian kita tidak bersikap sabar , malahan sikap kita lebih buruk dibandingkan ujian yang kita alami. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (Q.S Asy Syams ; 9 – 10)”

Dan ujian kesabaran terberat adalah ketika kita mendapatkan pujian, ingat ! setiap pujian yang tidak dikembalikan kepada Allah itulah yang disebut ujub.Jadi sikap ujub itu adalah ketika kita mendapatkan sesuatu dan tidak dikembalikan kepada Allah.Maka setiap kenikmatan yang kita dapatkan senantiasa harus dikembalikan kepada Allah, karena semuanya adalah pemberian dan milik Allah SWT.

“Yauma la yanfau maa lun wala banuun illa man atallaahi biqolbin saliim ” Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datng kepada Allah dengan hati yang selamat (Q.S Asy Syu’ ara ; 88 – 89 )Mudah- mudahan kita semua digolongkan Allah menjadi orang yang senantiasa berjuang untuk menjaga hati ini untuk bersabar dalam kelapangan.Wallahu alam bishawab.***(mikha)

 

Hijab Antara Manusia Dengan Allah

Oleh       : KH Abdullah Gymnastiar

 ManajemenQolbu.Com : Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmaiin, amma ba’du, *)“Tidak ada hijab apapun antara engkau dengan Allah Ta’ala, akan tetapi yang menjadi hijabnya antara dugaanmu ada lagi sesuatu yang lain di samping Allah.”

Segala sesuatu pada hakikatnya tidak ada. Yang wajib ada hanyalah Allah Ta’ala. Hal selain itu tergantung kepada belas kasih Allah, hendak diadakan atau tidak, hendak diciptakan atau tidak.

Seorang ahli berkata “ makhluk tidak dapat menjadi penghalang dan tidak dapat menjadi perantara.Makhluk hanyalah suatu bayangan, seperti bayangan pohon di dalam air.

Bayangan pohon itu tidak dapat menjadi penghalang bagi perjalanan perahu. Oleh karena tidak ada penghalang antara abid dengan ma’bud.Hanya hamba sendiri yang merasa adanya penghalang tersebut dari bayangannya sendiri.

*): dari Mutu Manikam Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Atailah

Saudaraku, apapun yang ada itu mutlak hanyalah makhluk Allah SWT, makhluk sesuka Allah , Dia yang Menciptakan , Dia Yang Membentuk , Dia Yang Memberi, Dia Yang Akan Mematikan, tidak ada satupun perbuatan makhluk  atau manusia yang bisa menghalangi kehendak Allah SWT, Allahu Akbar.

Terjadinya persoalan dalam hidup kita adalah kalau kita membesar-besarkan makhluk dan mengecilkan Allah.Ketika atasan dianggap sebagai pemberi rejeki maka terjadilah bawahan menjilat atasan, ketika pembeli dianggap sebagai pemberi rejeki akhirnya justru pedagang ditipu pembeli,ketika suami dianggap sebagai jalan kebahagiaan akibatnya bergantung kepada suami.

Makin banyak kita bergantung kepada selain Allah , makin tidak tenang hidup ini, makin resah dan makin turun kualitas akhlaq kita , karena posisi yang sebenarnya adalah Allah Pencipta Alam Semesta menciptakan manusia untuk mengabdi kepada Allah menciptakan dunia berikut isinya , Allah menciptakan semua, melayani kita supaya kita menghamba kepada Allah SWT.

Banyak orang yang jadi hina dan sengsara karena posisi dia menjadi pelayan budak dia , Allah menciptakan uang supaya kita dapat dekat dengan Allah lewat uang yang dititipkan ,agar bisa bersadaqah, zakat dan  menolong orang sehingga derajat dia akan meningkat di sisi Allah.

Tapi banyak orang yang dirinya menjadi hamba uang , demi mencari uang dia sanggup berbuat licik , demi mencari uang dia mencuri, demi mendapatkan uang dia korupsi , padahal jauh sebelum kita dilahirkan rejeki kita sudah diciptakan oleh Allah SWT, Subhanallah, empat bulan di perut ibu sudah beres pembagian rejeki kita “ kita tidak disuruh mencari uang tapi “Waabtaghuu Min Fadlillaah “(QS. 62 ; 10) “Mencari karunia Allah” , rejeki yang barokah”

Jadi orang tidak akan tenang dalam hidup , sebelum dia yakin makhluk itu hanya alat dari Allah untuk sampainya nikmat atau sampainya musibah,tidak ada satupun pembeli yang bisa menyampaikan rejeki kepada kita tanpa izin Allah , maka seorang pedagang yang ahli ma’rifat tidak ada selera untuk mengikat pembeli , yang dia selera adalah dia melakukan yang terbaik bagi pembeli , jadi atau tidak rejekinya sampai kepada dia, yang terpenting dengan berjualan dapat menjadi amal .

Kalau kita yakin Allah akan mencukupi maka pasti cukup,karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya, inilah sebenarnya yang berharga . Banyak orang yang tidak pernah mau berlatih , puas hanya dengan jaminan dari Allah , selebihnya kecewa.

Kalau kita ingin dicukupi hidupnya oleh Allah , pantangannya hanya satu “ Pantang berharap kepada makhluk !” karena Allah Maha Pencemburu , Allah Yang Membagikan rejeki  tidak suka makhluknya bergantung kepada makhluk, kalau hamba bergantung hanya kepada Allah “Wamayyatawakkal ‘allallah fahuwa hasbuh” Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).(QS. Ath Thalaq ; 2-3)

Rejeki tidak selalu identik dengan makanan, uang , pujian tetapi kesabaran juga rejeki Subhanalloh.Jadi orang yang banyak rejeki jangan dihitung dari orang yang banyak tabungannya , karena tabungan itu dilihat tidak dipegang tidak, rejeki itu adalah bagaimana Allah membimbing kita supaya kita dekat dengan Allah , adakalanya dalam bentuk hutang gara-gara hutang tiap malam menjadi tahajud, adakalanya dalam bentuk disakiti oleh suami, jadi tolong selalu yakini rejeki yang terbesar adalah ketika hijab diangkat menjadi yakin kepada Allah, itulah yang membuat kita terjamin dalam hidup ini 

*)Syekh Ataillah mengingatkan : Andaikata Allah tidak menampakan kekuasaan pada benda-benda alam, tidak mungkin adanya penglihatan pada-Nya. Andaikata Allah Ta’ala menampakan sifat-sifat-Nya, pasti benda-benda itu akan musnah”

Andaikata Allah Ta’ala menampakan diri-Nya pada makhluk di alam semesta ini , maka Allah akan mudah terlihat.. Akan tetapi Allah tidak akan menyatakan dirinya dalam bentuk benda , sebab benda-benda itu adalah ciptaan Allah sendiri. Pencipta lebih mulia dari hasil ciptaan-Nya. Oleh karena itu sang Pencipta menunjukan dirinya dalam bentuk ciptaan-ciptaan-Nya sendiri.Sebab, kalau demikian, tidak ada bedanya antara Maha Pencipta dengan ciptaan-Nya.Dan benda-benda ciptaan itu akan hancur berantakan apabila wujud Allah sama dengan benda-benda. *)

*): dari Mutu Manikam Kitab Al Hikam Syekh Ahmad Atailah

Allah itu menciptakan kita , dan kita tidak dapat melihat Allah yang sebenarnya, karena yang kita tahu hanyalah makhluk dan makhluk itu lemah , mata kita tidak bisa melihat Allah karena mata ini sangat lemah , melihat jauh saja tidak sanggup , sangat dekat pun tidak kelihatan. Kita bahkan tidak tahu alis kita yang sebenarnya , bulu mata, hidung, yang terdekat dengan mata saja tidak pernah terlihat, pendengaran kita juga lemah, kita tidak bisa mendengar semuanya, frekuensi yang lebih tinggi ataupun lebih rendah dari kemampuan pendengaran kita,suhu untuk tubuh kita juga terbatas andaikata diberikan suhu yang lebih tinggi ataupun lebih rendah tentu tidak akan sanggup kita menahannya.

Jadi bagaimana mungkin makhluk yang lemah bisa melihat Allah Yang Maha Sempurna,oleh karena itu Allah menciptakan qolbu dan hati inilah sebenarnya yang bisa merasakan kehadiran Allah SWT sepanjang hatinya bersih , andaikata hati kita bersih dapat kita rasakan Allah Yang Maha Menatap, Allah menggenggam langit, Allah menciptakan semuanya agar kita berpikir,Afalaa tatafakkaruun

 Alladziina yadzkuruunallooha qiyaamaawaqu’uudaawwa ‘alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii kholqissamaawaati wal ardhi Rabbana maa kholaqta haadzaa baathilaa subhaanaka faqinaa ‘adzaabannar”(Yaitu)orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, mka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. 3: 191)  

Saudara-saudaraku , jika kita menginginkan hidup kita tenang  maka kita harus serius untuk terus berjuang membersihkan hati ini.Wallahu a’lam(mikha)[manajemenqolbu.com]***

#Disampaikan Dalam Kajian Hikam di Masjid DT 19 September 2002

 

 Mencegah Tersinggung

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 ManajemenQolbu.Com – Majelis Ahad : Salah satu penyebab kita berantem adalah kita itu tidak tahan terhadap perilaku orang kepada kita, yang akhirnya menyebabkan tersinggung dan bila sudah tersinggung biasanya minimal sibuk bela diri , lalu tingkatan selanjutnya memikirkan kejelekan orang lain.

Kita harus latihan tidak mudah tersinggung, karena tidak jarang kita bisa berbicara tapi ketika tersinggung tabungan amal kita habis karena marah , sekali marah mata melotot …..kata-kata seperti pisau mengiris, kadang seperti palu menghantam belum lagi tangan bisa bermain, kaki bisa memaki, banyak pahala yang kita kumpulkan hilang gara-gara kita tidak tahan menghadapi singgungan.

Kenapa orang tersinggung ? orang tersinggung karena menilai dirinya lebih dari kenyataan , merasa pintar, merasa berjasa, merasa soleh, merasa tampan, merasa sukses, setiap kali kita terus menilai diri kita lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kurang sedikit saja ,……..langsung akan tersinggung.

Jadi memang ada sesuatu yang harus kita perbaiki yaitu proporsional menilai diri , kita biasanya membuka peluang tersinggung karena kita salah dalam menilai diri kita.

Jadi teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah jangan menilai lebih kepada diri kita ; jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa,saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat ,karena makin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita itulah yang membuat kita makin tersinggung.

Khusus dalam hal ini dalam kaitan supaya tidak mudah tersinggung, misalkan kalau kita sarjana lupakan kesarjanaan kita, atau kita seorang direktur lupakan jabatan kita, kalau kita ustadz lupakan ustadz kita,kalau kita seorang pimpinan lupakan , kalau kita seorang terkenal lupakan,kalau kita seorang kaya lupakan ,anggap semuanya ini amanah, dalam kaitan agar kita tidak tamak kepada penghargaan.

Kalau kita sudah tidak tamak itu akan lebih ringan, kita harus melatih diri kita untuk hanya merasa sekedar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali ilmu yang dipercikan oleh Allah sedikit, lebih banyak tidak tahu,kita tidak punya harta sedikitpun kecuali sepercik titipan Allah,kita tidak punya jabatan ataupun kedudukan sedikitpun kecuali sepercik yang Allah amanahkan.Dengan merasa hanya sekedar hamba Allah maka akan ringan hidup kita ini, karena makin ingin dihargai, makin ingin dipuji, makin ingin dihormati, akan makin sering sakit hati.

Teknik yang kedua adalah kita harus melihat bahwa apapun yang dilakukan orang kepada kita itu bermanfaat kalau kita dapat menyikapi dengan sikap yang tepat. Seperti teori lempar kucing ,katanya kalau kucing dilempar batu, maka kucing itu lebih sibuk orang yang melempar daripada melihat batunya. Kita ini tidak akan rugi dengan perilaku orang kepada kita kalau kita menyikapinya dengan sikap yang tepat , yang rugi itu adalah ketika kita salah menyikapi kejadian, dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita.

Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri kita menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita.Orang berkata apapun kepada kita itu terjadi dengan izin Allah , anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk mengetes keimanan kita.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS : 2 ; 155)”

“(Yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah , mereka mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (QS : 2 ; 156)”

“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS : 2 ; 157)”

Teknik yang ketiga adalah kita harus empati , yaitu mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita, seperti teori gajah ” ada seorang yang menuntun gajah di depan, seorang lagi mengikuti di belakang, yang depan berkata ” Ohh indah nian pemandangan sepanjang hari,……..lalu kontan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir , karena orang yang dibelakang sepanjang jalan pemandangan di depannya adalah pantat gajah” Oleh karena itu kita harus belajar empati, kalau tidak ingin mudah tersinggung caranya cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain.Maksudnya adalah supaya kita tidak mudah dongkol yang menyebabkan emosi dan tersinggung.Harus diingat seribu satu alasan yang kita buat dilakukan untuk memaklumi bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Teknik yang keempat adalah jadikan ladang peningkatan kualitas diri , jadi ketika menghadapi penghinaan itu sebuah kesempatan, pokoknya penghinaan, perilaku buruk orang kepada kita menjadi ladang bagi kita untuk mengamalkan sifat mulia yaitu memaafkan orang yang menyakiti , membalas keburukan dengan kebaikan.Episode disakiti adalah episode peningkatan kualitas diri.Wallahu a’lam (mikha)[manajemenqolbu.com]***

 (Disampaikan di Majelis Ahad Pagi Masjid Daarut Tauhiid Bandung, 21 Juli 2002)

 

2 Responses

  1. alhamdulillah hirobbilalamin…terima kasih banyak telah membagi ilmu nya.maaf sebelumnya..kalau saya membaca blog ini tanpa seijin yg punya…bener bener luar biasa.semoga Alloh melimpahkan rahmat nya kepada yg punya blog ini

  2. saya ucapkan terimakasih denga petuah petuah yang
    aa sampaikan semoga aa masuk surga.amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: